“It’s okay to have scars. It means you’re healing”

Sebagian orang pasti pernah mendengar ataupun membaca kalimat ini dan mengerti maksudnya. Beberapa dari mereka yang mengerti pasti pernah memiliki luka yang masih terus dibuat sampai saat ini. Luka yang bagi mereka dapat melegakan hati dan pikiran. 

Masih banyak orang yang menganggap bahwa seseorang yang melakukan self harm karena kurang iman. Padahal self harm dapat terjadi karena adanya gangguan mental yang didapatkan oleh orang tersebut karena keadaan dirinya ataupun lingkungannya yang tidak sehat dan tidak mendukung. 

Self harm biasanya menjadi pengalihan seseorang untuk mengatasi frustasi, kemarahan, atau emosinya. Mendapatkan ketenangan, kepuasan, dan rasa lega yang bersifat sesaat. Beberapa di antara remaja yang melakukan itu selanjutnya akan merasa bersalah atau malu karena adanya luka di bagian tubuhnya yang bisa saja terlihat oleh orang lain.

Self harm, self injury, atau menyakiti diri sendiri umumnya dilakukan oleh para remaja yang mengalami banyak tekanan dalam hidupnya yang masih muda. Bukan berarti setiap remaja yang mendapat tekanan psikis akan menyakiti diri sendiri loh yaa. 

Terkadang remaja yang melakukan tindakan itu adalah mereka yang tidak memiliki tempat berbagi keluh kesah, tidak bisa menceritakan apa yang terjadi dalam hidupnya kepada orang lain, ataupun mereka yang sering memendam banyak perasaan menyakitkan dalam dirinya sendiri. Memiliki perasaan menyakitkan yang tidak dapat diungkapkan adalah hal yang sangat melelahkan untuk menanggung permasalahan yang ada dalam hidup ini.

Beberapa teman dekat saya selama SMA ternyata pernah dan masih melakukan self harm. Untuk saat ini sudah bukan hal tabu lagi bagi remaja mendengar kata self harm. Meskipun orang dewasa banyak yang tidak mengerti mengapa ada remaja yang ingin menyakiti diri sendiri dan tidak ingin anaknya melakukan hal itu.

Putus cinta menjadi salah satu penyebab teman saya melakukan melakukan self harm. Sebut saja namanya Z, dia melakukan dengan menggunakan benda tajam yang ada di sekitarnya untuk menyayat pergelangan tangan. Biasanya dia jarum pentul atau peniti yang digunakan untuk memakai hijab, dan menggoreskan ke pergelangan tangannya secara diam-diam dengan kondisi sedang berada di ruang kelas. 

Menurut Z, perasaan sakit hati karena putus cinta ini akan berkurang dan berubah menjadi perasaan yang lega dan memuaskan ketika dia sedang menggoreskan benda tajam ke lengan tangannya. Meskipun masalah tidak terselesaikan, setidaknya dia masih bisa merasakan tenang untuk sesaat. 

Penyebab lain dari beberapa teman saya melakukan self harm karena lingkungan keluarga. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang dan berlindung justru menjadi tempat yang paling tidak nyaman. Konflik terus menerus dengan orang tua atau konflik yang terjadi antara kedua orang tua dapat membuat beberapa remaja merasa depresi. 

Tentu masalah dalam rumah seperti ini tidak bisa diceritakan kepada orang lain. Dan dengan nekatnya, dia menggunakan silet untuk melukai pergelangan tangannya. Menghilangkan depresinya dan memuaskan diri dengan melihat darah yang keluar dari pergelangan tangan. Di luar dia merupakan remaja yang terlihat bahagia dan tidak pernah menunjukkan rasa sakitnya, namun tidak ketika pulang. Karena itu, dia hanya pulang ke rumah saat hari sudah malam, bahkan dia lebih memilih menginap di rumah temannya.

Rasa sakit akan muncul di pergelangan tangan ketika sudah terkena air dan akan bertahan sampai berhari-hari. Meninggalkan bekas luka yang membutuhkan waktu yang lama untuk memudar. Luka lama yang belum hilang dan digores lagi, akan menjadi luka yang semakin membekas dan semakin menyakitkan.

Mereka, remaja yang melakukan self harm akan menutupi luka-luka itu dengan menggunakan baju lengan panjang agar tidak terlihat oleh orang lain. Ketika orang lain melihatnya, ini akan menjadi hal yang sangat memalukan. Jika lingkungannya tidak mengerti, dapat memicu terjadinya pembulian dan menambah beban psikis dan pikiran seseorang.

Hal yang seharusnya dilakukan oleh remaja yang melakukan self harm adalah dengan mendapatkan teman yang mengerti keadaannya, selalu mendukung dengan hal-hal baik, tidak meremehkannya, dan siap menjadi pendengar yang setia tanpa memberitahukan kepada orang lain. Dengan ini dia bisa mulai mengurangi kegiatan-kegiatan yang dapat menyakiti dirinya sendiri. 

Namun, jika belum bisa menceritakan masalah pribadi yang dapat mengacu self harm, bisa dengan mendatangi psikolog. Pihak profesional yang dapat membantu seseorang mengurangi dan mengetahui cara yang tepat untuk menangani self harm. Karena kita tidak bisa mengubah setiap masalah yang sedang dan akan terjadi, tetapi diri kita bisa mengubah pola pikir untuk menghadapi setiap permasalahan yang datang.

Untuk kalian yang bagian tubuhnya belum tergores oleh benda tajam dengan sengaja, jangan pernah coba-coba ya! ini bukanlah suatu hal yang bisa dijadikan alasan untuk menarik perhatian orang-orang sekitar. Karena yang benar-benar melakukan self harm akibat depresi saja berusaha menutupi setiap ukiran benda tajam di bagian tubuhnya, masa kalian tidak malu jika melakukan self harm hanya karena coba-coba dan ingin menarik perhatian orang lain?