Saya tak pernah terkenal di bidang yang saya geluti. Dalam sepak bola, misalnya. Bermain di stadion besar saja, hanya dua pertandingan seumur hidup. Itu pun hanya liga antarpelajar SMA. Saat pemain lain diajak foto oleh penonton, saya justru yang motoin. Pemain lain disoraki namanya saat membawa bola, saya disoraki untuk segera mengoper bola.

Saya tak bisa membayangkan rasanya terkenal.

Misalkan saat saya di tengah lapangan melakukan tekel keras kepada pemain lawan, tentu saya mengakui kesalahan dan segera meminta maaf. Hal itu saya lakukan semata-mata karena saya salah. Tapi beda cerita apabila saya adalah pemain terkenal.

Pasalnya terkadang ada juga pemain top dengan skill tinggi serta terkenal terpaksa menjatuhkan pemain lawan dengan kasar. Lalu ia mendapat kartu merah dan justru melakukan protes berlebihan terhadap wasit. Meskipun dilihat dari mana pun, pelanggar tersebut pantas dikeluarkan dari lapangan.

Saya tak bisa memosisikan diri menjadi pemain sepak bola yang terkenal. Sehingga saya tak bisa tahu apa yang dia pikirkan saat protes berlebihan kepada wasit. 

Dalam sepak bola memang sah saja melakukan protes terhadap keputusan wasit. Tapi jika protes tersebut berlebihan seakan-akan itu sebuah penghinaan wasit kepadanya, bagi saya itu sudah kebablasan. Apalagi sampai memancing keributan di lapangan.

Untung saja selalu ada pemain satu tim yang menenangkan dia untuk menerima keputusan wasit. Dan ada regulasi sepak bola bahwa pelanggaran keras diganjar kartu merah sama dengan keluar pertandingan.

Sebagai catatan, ini bukanlah usaha untuk memberi stereotip terhadap sosok yang ternama atau terkenal. Melainkan murni untuk analogi terhadap permasalahan yang akan saya bahas.

Saya tak tahu bagaimana rasanya memiliki ketenaran. Tapi saya yakin ada perbedaan kesadaran antara yang terkenal dengan yang tidak. Saat seseorang terkenal, ada kesadaran dan tahu bahwa dirinya terkenal sehingga ada sikap untuk melindunginya. Suatu hal yang tak bisa saya temukan dalam diri saya.

Mungkin kesadaran dan sikap seperti itu yang kita lihat pada selebriti yang bermasalah belakangan ini. Mereka melakukan kesalahan di mata publik atau netizen kemudian dihujat dan melakukan klarifikasi. 

Jika klarifikasi belum cukup menenangkan netizen, maka mereka melakukan collab dengan seleb lain atau ahli dalam permasalahannya. Tentu saja, mereka yang diajak collab digunakan sebagai validasi dan pembenaran kesalahan tersebut.

Bukankah itu pola yang selalu kita lihat di dunia hiburan? Terlepas dari hal tersebut merupakan langkah mencari exposure atau sensasi, tindakan mereka saya rasa sudah kebablasan.

Dan Anji adalah selebritas pada umumnya. Berkat pahamnya yang sedikit berbeda dengan para ahli dan umum dalam melihat pandemi, beberapa waktu lalu ia terkena masalah bahkan ia dilaporkan dengan pasal karet UU ITE.

Berawal dari opininya bahwa ada upaya membesar-besarkan isu Covid-19 dan menakut-nakuti masyarakat melalui peran media dan influencer. Opini itu ditulis dalam unggahan instagramnya sebagai komentar terhadap hasil foto salah satu jurnalis untuk NatGeo.

Dari polemik tersebut, dimulailah hujatan netizen kepadanya. Meskipun tetap saja ada yang mendukung opini tersebut. Sebab orang-orang dengan pendapat melenceng tanpa ada pembenaran ilmiah, biasanya mencari pembenaran dari suara yang lebih besar lainnya. Salah satunya, dari mantan vokalis band Drive ini.

Serangan terhadap Anji juga datang dari artis lain, yaitu Awkarin. Tapi yang menjadi sorotan saya adalah bentuk defensif Anji dalam menanggapinya. Mungkin ia meyakini omongan kapten Tsubasa: pertahanan terhebat adalah menyerang. Yang kemudian ia membalas peringatan Awkarin untuk menghapus unggahan tersebut, dengan kata penutup yang pedas: “Terima kasih perhatiannya, Mbak Karin yang (sekarang) baik.”

Tentu saja balasannya adalah serangan kepada masa lalu Awkarin. Serangan Anji tersebut seperti protes berlebihan kepada wasit saat ia diberi kartu merah. Padahal dilihat dari mana pun, ia tetaplah salah di hadapan sains. Saya pikir itu sudah kebablasan, karena memancing keributan meski di dunia maya.

Ditambah lagi si Anji ini mencari pembenaran tambahan melalui dukungan dari selebritas yang lain. Ia mengunggah screenshot DM dari salah satu seleb yang menyatakan dukungannya. Dari postingan tersebut kita bisa melihat dukungan dari artis-artis lainnya juga di kolom komentar.

Dirasa dukungan artis lain masih kurang, ia pun membuat video YouTube dengan seseorang yang mengaku profesor bernama Hadi Pranoto. Tokoh ini mengaku sudah menemukan antibodi untuk virus corona. Dengan thumbnail dan judul video yang clickbait tersirat bahwa, “Ini loh sudah ada obatnya. Pandemi ini jangan terlalu dibesar-besarkan.”

Alih-alih video dengan profesor itu memperkuat argumennya, justru membuat mereka berdua dilaporkan kepada pihak berwenang. Sudah jatuh, tertimpa tangga (yang dimaksudkan untuk naik) pula.

Bagi saya, begitulah ketenaran mendorong sikap untuk mempertahankan dirinya secara sadar saat dirinya salah. Atau minimal tidak mengakui hal tersebut. Sebab jika orang biasa tanpa ketenaran seperti saya,  akan dengan mudah mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Dan tidak heran banyak komentar yang mempertanyakan, “Apa, sih, susahnya mengakui kesalahan?” Nyatanya sulit sekali, saudara-saudara. Ada sesuatu yang bagi dirinya penting untuk dipertahankan. Seakan-akan mengakui kesalahan adalah sebuah penghinaan bagi dirinya.

Sebenarnya selain dari kesadaran itu, sikap defensif itu juga didukung oleh perasaan bahwa ada orang-orang yang berada di pihaknya. Apalagi dengan jumlah yang cukup banyak berkat nama besarnya.

Kita semua pun yang mempertanyakan itu tak akan benar-benar paham sampai kita juga terkenal dan melakukan kesalahan.

Sayangnya dalam konteks keributan ini tidak seperti saat terjadi keributan dalam sepak bola. Ada pemain yang menenangkan dan regulasi kartu merah seperti yang saya jelaskan di atas.

Sebenarnya, ada dua cara ampuh agar seleb bermasalah itu mau mengakui kesalahan. Yang pertama adalah menjadi tua. Sebab katanya usia tua membawa kebijaksanaan—meski tidak menjamin. Dan yang kedua adalah cara paling paling ampuh tapi paling sulit, yaitu menjadi cerdas!