Mahasiswa
6 bulan lalu · 75 view · 3 min baca menit baca · Media 39636_65963.jpg
Dokpri

Televisi, Media Tuntunan Publik

Beberapa hari ini, setiap pagi saya senang mengamati acara-acara televisi indonesia, kemudian dibandingkan dengan acara TV luar negeri seperti nat geo wild dan Fox movies. Cukup beruntung saya bisa mengetahui acara-acara tv Indonesia dan luar negeri. Keberuntungan itu harus saya manfaatkan untuk menyeleksi chanel tv yang edukatif.

Tanpa kesadaran menyeleksi, siap-siap lah jadi penikmat hiburan semu. Chanel tv yang kita pilih adalah guru, paling tidak pembimbing kita ke arah yang diinginkan chanel. 

Apakah kita bisa menolak mengikuti bimbingan chanel tv yang kita tonton? Tidak ada penelitian pasti. Tapi, sepanjang pengalaman, orang yang sering nonton acara di chanel tertentu cenderung ikut atau paling tidak sedikit meniru.

Dengan demikian, sudah bisa dikatakan siapa menonton maka akan dituntun. Apalagi menonton, aktivitasnya hanya satu arah; Penonton yang pasif dan tv yang aktif. Maka bukan tidak mungkin, menonton sama halnya memilih tanpa menyeleksi.


Suatu ketika ponakan saya menyanyikan lagu iklan tertentu, meski tak sempurna. Setelah saya amati, ternyata ponakan saya ini meniru band gilr tertentu. Kira-kira begini: teng teng... ***phie. Sontak, saya tertawa. Anak dengan usia 4 tahun cepat merekam apa yang dilihat dan didengar.

Ponakan saya adalah satu contoh. Bagaimana dengan anak-anak yang lain? Dalam hal ini, tidak hanya bagi anak-anak. Penonton yang tergolong dewasa pun bukan tidak mungkin akan dituntun acara chanel tv. 

Pernahkah mendengar ibu-ibu bicara mengenai artis tertentu di film tertentu? Peran antagonis yang diperankan si artis akan jadi bahan perbincangan yang menyulut geram ibu-ibu atau emak-emak. Apakah ini digolongkan pada penggiringan pikiran? Bisa dikatakan, iya. Mereka pergi masalah realitas ke masalah yang imajinatif bahkan hyperrelitas.

Hal ini sudah bisa dikatakan penonton adalah yang dituntun. Acara chanel tv kita yang hanya itu-itu saja rasanya banyak tidak edukatif. Sinetron percintaan yang tidak realistis. Balapan-balapan genk yang tak edukatif. Anehnya, jadi program tv pilihan penonton. 

Memang, dalam hal ini tak boleh menyalahkan programer chanel tv kita. Masyarakat juga punya ikut andil menentukan proses rating. Jika rating mangkrak, bisa jadi akan diberhentikan tayangannya.

Acara di chanel tv bagaimanapun jelek atau bagusnya sudah dipastikan jadi tuntunan. Tugas KPI tentu sesuai fungsinya. 


Untuk membangun bangsa, serta Merawat budaya menuju kemajuan, acara di tv sudah selayaknya mengedukasi. Jika tidak, kapan bangsa ini akan maju? Menunggu berpuluh-puluh ganti politisi yang tak jelas orientasinya? Atau menunggu generasi bangsa rusak, baru kemudian bergegas memperbaiki.

Sejatinya acara-acara di chanel tv adalah mendidik dan menghibur. Jika sekedar mendidik tanpa ada hiburan kaku lah kehidupan. Tapi jika sekedar menghibur tanpa ada unsur pendidikan kesenangan akan semu. Mendidik dan menghibur ini lah yang saya temui di chanel-chanel luar negeri tertentu seperti nat geo wild dan fox movies. Nat geo wild yang konsisten tiap pagi menampilkan hewan-hewan yang berburu beserta penjelasan ilmiah.

Nat geo wild adalah salah satu contoh yang saya kira banyak mengedukasi terlebih lagi bagi pecinta pengetahuan alam. Tidak hanya itu, bagi yang merasakan makna tiap perburuan hewan buas akan menjadikan kita berpikir tentang keharmonisan alam. 


Nah, pertanyaannya, apa yang didapat dari acara televisi yang tiap hari dan malam hanya menampilkan sinetron percintaan alay bin lebay? Pertengkaran geng-geng motor yang itu-itu saja? Ternyata chanel tv kita hanya ikut tren pasar tanpa melihat unsur pendidikan, filosofis dan sebagainya.

Bagi masyarakat, bisa dikatakan selera tontonannya rendah. Akhirnya, level tuntunanya kelas teri. Bukan menghina cuma ingin menampar. Sebab, jika kelamaan tak ditampar bisa jadi tak sadarkan diri. Nah, masyarakat yang tontonannya kelas teri, jangan harap akan ada kemajuan. Bukankah orang yang makan gorengan beda kenyangnya dengan orang makan nasi? Begitu juga hal ini berlaku bagi sebuah tontonan.

Harapan besar pada KPI, semoga bisa jeli menyeleksi sinetron yang seharusnya tontonan jadi tuntunan. Sebab, jangan tanyakan faktor kemunduran atau kemajuan bangsa ini ketika tontonan tak bisa masuk kategori tuntunan.

Jujur, tontonan perburuan hewan buas di nat geo wild lebih bermakna. Meskipun yang ditampilkan ceceran aliran darah mangsa di cengkaraman pemangsa atau perlawanan mangsa pada pemangsanya. Toh, sebenarnya yang ditontonkan tidak hanya itu.

Hal itu Terbukti suatu ketika, nat geo wild mempertontonkan beragam fauna dan flora di Papua. Ketimbang sinetron yang bisa dikatakan mengajak ciuman, pelukan dengan hasrat dan pertengkaran. Apa manfaatnya?

Bung, bangsa ini tidak dijalani dengan main-main kan? Satu rencana yang mendidik tentukan kemana bangsa ini berlabuh. Kegagalan satu acara chanel tv hari ini dalam mengusung nilai-nilai filosofis kehidupan berakibat pada kegagalan beberapa generasi: x, y dan Z dalam memaknai hakikat hidupnya.

Demikian, Jika ada tawuran, seks bebas, minum-minuman, narkoba dan sebagainya. Yang disalahkan siapa? Sudah pasti sasarannya generasi-generasi ini. Padahal tidak akan ada tindakan jika tidak ada stimulus. Jadi, sudah selayaknya acara di chanel tv kita mengedukasi tidak hanya menghibur.

Artikel Terkait