39441_32299.jpg
Ekonomi · 6 menit baca

Selarik Kertas

Kertas adalah bahan yang tipis, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Telah diketahui bahwa peradaban Cina-lah yang menyumbangkan kertas bagi Dunia.

Sebelum kertas ditemukan, nenek moyang kita menggunakan batu, kayu, kulit hewan, dan sebagainya untuk dijadikan alat tulis. Hingga akhirnya kertas ditemukan, semua itu tergantikan oleh kertas. Namun apakah hanya itu kegunaan kertas? Kertas telah mengarungi lautan sejarah yang amat panjang.

Seiring perkembangan zaman, pada peradaban modern ini, yang lebih dikenal dengan era globalisasi yang telah menghadirkan teknologi digital dan dapat dengan mudah memberikan informasi kepada masyarakat luas. Dengan hadirnya teknologi seperti itu kerap kali kita menganggap bahwa kertas adalah benda kecil yang tak bernilai dan tidaklah penting. Namun di balik itu semua, kertaslah yang lebih berperan penting. Lalu, bagaimana jika sampai saat ini kertas belum ditemukan?

Sejak dulu, banyak berita dan berbagai informasi yang kita dapat melalui koran. Walau pun kini teknologi yang dianggap lebih efektif dari pada kertas dalam hal menyebarkan luaskan berita. Namun perlu diketahui bahwa masih banyak masyarakat khususnya Indonesia yang belum mengenal teknologi akibat adanya kesenjangan sosial. Hal ini menjadikan mereka tidak peka terhadap apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka karena tidak mudah mendapatkan informasi yang cukup. Oleh karena itu, seharusnya mereka bisa memperolehnya dalam bentuk surat kabar yang lebih murah agar dapat dijankau oleh mereka yang berasal dari kalangan bawah.

Perusahaan percetakan seperti surat kabar tidak akan dapat memberikan informasi-informasinya karena ketiadaan kertas. Informasi akan sangat sulit tersebarluaskan dengan cepat apabila kita masih menggunakan batu, logam, atau bahkan seperti yang telah diketahui bahwa karena dahulu kertas belum ditemukan pada saat itu, maka Acta Diurna (koran pada masa itu yang digunakan pada zaman Romawi) diukir pada batu atau logam. Sangat tidak efektif dan fleksibel. Maka akan sangat banyak di antara kita yang akan buta terhadap informasi perkembangan yang ada. Terutama perkembangan terhadap pertumbuhan ekonomi. Sangat penting bagi kita mengikuti berita tentang perkembangan pertumbuhan ekonomi.

Mendapatkan informasi yang minim terhadap perkembangan pertumbuhan ekonomi tidak akan dapat menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang berguna agar dapat memajukan pertumbuhan perekonomi tersebut, khususnya terhadap Indonesia. Seperti dikutip dari laman vibizmedia.com bahwa (Vibizmedia – Nasional) Rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) Kuartal I 2015, memberikan gambaran mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi di Indonesia sebesar 4,71 persen, melambat dibanding pertumbuhan ekonomi pada periode sama tahun lalu yang mencapai 5,14 persen.

Tentu saja pemerintah tak hanya tinggal diam melihat perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah perlu memperbaikinya, yaitu pemerintah dapat memulainya dari faktor internal terlebih dahulu dengan cara menurunkan inflasi, sebagai contohnya adalah memberikan subsidi kepada masyarakat khususnya BBM, dan beberapa kebutuhan rumah tangga lainnya. Lalu bagaimana cara pemerintah agar informasi tersebut sampai kepada masyarakat luas? Karena mengingatnya perkembangan zaman di era modern ini, bukan tidak mungkin berita tersebut diberitakan melalui alat-alat elektronik yang ada dan berbagai akun media sosial. Namun seperti yang telah kita bahas sebelumnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengenal dunia berbasis digital ini. Maka dari itu untuk mengatasinya, diperlukan pula surat kabar agar dapat memuat berita dan mudah di dapatkan oleh masyarakat kalangan bawah. Hal tersebut dibutuhkan, mengingat banyaknya subsidi yang diberikan akan dituju kepada mereka yang berasal dari kalangan bawah. Maka dari itu pemerintah membutuhkan peran kertas, seperti koran untuk memuat informasi tersebut agar masyarakat yang berasal dari kalangan bawah dapat mengetahuinya dengan mudah.

Semua yang telah diupayakan oleh pemerintah adalah agar membaiknya tingkat konsumsi masyarakat dari kalangan bawah yang bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tentunya. Namun seperti yang dikutip dari laman CNN Indonesia faktor perbaikan ini tak hanya disebabkan oleh faktor internal. Hal tersebut juga berpengaruh pada faktor eksternal. Tentu saja hal ini juga berhubungan dengan kertas. Dikutip dari laman Sindonews bahwa industri pulp dan kertas Indonesia memberikan kontribusi terhadap devisa negara sekitar USD5,3 miliar pada 2015. Indonesia menduduki peringkat ke-6 di dunia untuk produksi kertas. Begitu besar pengaruh kertas bagi Indonesia.

Agar dapat memberikan kontribusi terhadap devisa negara sebesar itu, Perusahan Industri Kertas Indonesia tentu saja tidak memproduksi kertas dalam jumlah yang sedikit. Dikutip dari laman Sindonews bahwa Perusahaan Industri Kertas Indonesia memproduksi kertas sebanyak 12,98 juta ton kertas/tahun. Bukan hanya itu. Unit produksi kertas tissue PT OKI dengan kapasitas 500.000 ton/tahun yang diperkirakan akan diproduksi pada juni 2018 mendatang. Lalu apakah produksi kertas yang sebanyak itu hanya dapat digunakan sebagai media penyampaian berita saja?

Tidakkah kita berpikir bahwa banyaknya buku yang di produksi sebagai media pembelajaran juga berbahan dasar kertas? Buku merupakan jendela dunia. Berbagai ilmu yang kita dapat tidaklah jauh-jauh dari benda bernamakan “buku”. Maka dari itu perlu kita sadari betapa pentingnya peran kertas bagi negara kita juga dunia? Tanpa hadirnya buku dalam kehidupan kita, akan semakin memperburuknya kesenjangan sosial dan tentu bukan hanya buta akan informasi namun juga buta akan ilmu pengetahuan. Maka dari itu kertas memiliki peran positif yang sangat penting.

Walaupun kertas memberikan dampak positif, hal tersebut juga mendatangkan dampak negatif bagi dunia. Kenapa hal demikian bisa terjadi?

Telah kita ketahui bahwa hutan Indonesia merupakan paru-paru bagi dunia. Diketahui pula bahwa Perusahaan Industri Kertas Indonesia menggunakan pohon eukaliptus untuk bahan dasar pengolahan dan pembuatan kertas. Dari sana, kayu diolah menjadi pulp (bubur kertas), dan hasil yang diperoleh hanya sekitar 50% saja. Diperkirakan dari sebatang pohon eukaliptus menghasilkan tidak lebih dari 900 pond kertas. Sedangkan angka tersebut sangat jauh untuk mengejar kebutuhan produksi. Satu batang pohon eukaliptus membutuhkan waktu 5 tahun untuk tumbuh agar dapat diproduksi menjadi kertas. Bayangkan jika beribu-ribu pohon harus ditebang untuk pembuatan kertas. Sedangkan satu pohon dewasa yang rindang dapat menghasilkan oksigen untuk sepuluh orang bernapas dalam satu tahun. Akan sangat menyengsarakan apabila kadar oksigen yang kita dapat berkurang. Dengan begitu perusahaan memerlukan lahan yang berhektar-hektar luasnya untuk penanaman pohon eukaliptus dalam jumlah yang sangat besar. Belum lagi jika pemakaian kertas yang terus meningkat, perusahaan industri kertas perlu melakukan penambahan lahan untuk ditanami pohon eukaliptus sebagai bahan utama pembuatan kertas. Namun hal tersebut juga mendapatkan kendala mengingat terbatasnya lahan yang tersedia di Indonesia. Lalu bagaimana daya upaya kita untuk melakukan penanganan tersebut?

Walaupun industri kertas sangat berpengaruh besar bagi devisa negara, kita perlu mengingat dampak negatif yang begitu besar dan sangat buruk yang akan terjadi di masa mendatang apabila kita terus menurus menggunakan kertas dengan jumlah yang sangat besar. Maka harus dilakukan penanganan yang tepat pula. Tidak perlu berhenti menggunakan kertas, namun masih banyak cara lain yang dapat dilakukan. Terutama kita perlu melakukan penanganan untuk menyelamatkan hutan. Untuk upaya penyelamatan hutan kita perlu menggunakan kertas dengan bijak. Karena dengan pemakaian kertas yang berlebihan akan menuntun pada penebangan hutan yang lebih besar pula. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan cara mendaur ulang kertas yang sudah tak terpakai. Hal ini terbukti mampu mengurangi jumlah penebangan terhadap pohon eukaliptus. Dengan mendaur ulang 54 kilogram koran setara dengan menyelamatkan satu pohon. Maka semakin banyak kertas yang di daur ulang maka akan semakin banyak pula pohon yang akan terselamatkan.

 Kita masih tetap dapat menggunakan kertas dengan cara yang bijak. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menggunakan kertas sebagai media alat tulis, tissue, dan sebagainya. Sangat mudah menjumpai kertas atau benda dari bahan dasar kertas di sekeliling kita. Karena kemudahannya dalam mendapatkan kertas sebagai keperluan sehari-hari kita, masih banyak orang yang tidak menghargai dan menggunakan kertas dengan bijak. Maka dari itu, perlu kita sadarkan orang-orang di sekeliling kita agar menggunakan kertas dengan bijak. Walaupun peran kertas tidak perlu tergantikan, namun perlu kita meminimalisir pemakaiannya seperti tidak menggunakannya jika dirasa tidak begitu dibutuhkan. Sebelum kita menyadarkan orang lain, ada baiknya kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu.