Penafian terhadap sains merupakan ironi yang konyol, namun membuat getir.

Baru-baru ini, saya membaca sebuah buku berjudul Perempuan dalam Budaya Patriarki karya Nawal El Saadawi, seorang feminis dan penulis asal Mesir. Nawal menceritakan berbagai kemalangan paling gila yang harus dihadapi seorang manusia hanya karena jenis kelamin perempuan yang terkungkung tradisi dan masyarakat yang kolot di Timur Tengah.

Dalam serentetan kisah yang saya baca, terdapat satu cerita di mana sains pada masa itu (buku ini ditulis sekitar tahun 1970-an) dinafikan demi sebuah tradisi kolot yang menurut saya sangat konyol, yakni tentang selaput dara.

Bagi masyarakat Sudan, Mesir, dan negara-negara sekitar di Timur Tengah kala itu, selaput dara sebagai representasi keperawanan dapat menentukan hidup-mati seorang perempuan. Selaput dara menjadi penentu kehormatan sebuah keluarga.

Jika diketahui ada gadis yang tidak mengalami pendarahan saat malam pertama – apa pun alasannya, termasuk kecelakaan, korban pelecehan seksual, dan perkosaan – maka hancur sudah masa depan si gadis dan runtuh sudah kehormatan keluarganya. Banyak ayah, kakak, dan paman yang tak keberatan menjadi algojo bagi anak, adik, dan keponakan perempuan yang selaput daranya tidak lagi dianggap ‘utuh’ saat menikah.

Saat itu, masyarakat di sana tidak mengetahui – sebagian menolak mengetahui – bahwa selaput dara seorang perempuan bisa saja terlalu tipis hingga tanpa sengaja sobek saat bersepeda atau berkuda. Atau ada perempuan yang terlahir dengan selaput dara yang sangat elastis sehingga tidak berdarah saat malam pertama pernikahan. 

Begitu pentingnya darah yang keluar saat malam pertama hingga menentukan nasib seorang perempuan dan keluarganya. 

Bagi keluarga yang kaya, maka akan memilih operasi plastik selaput dara demi sejumlah darah di atas seprei. Lain halnya dengan keluarga yang jelata, mereka menyiasati malam pertama dengan jadwal menstruasi atau lebih nekat lagi dengan menyiapkan sedikit darah ayam di vagina si perempuan demi mengadakan darah pada malam pertama.

Saya merasa sedikit frustrasi saat membaca kisah-kisah tentang selaput dara dalam buku ini. Apa sih yang membuat sejumlah manusia bisa mengorbankan nyawa orang lain dan melakukan hal-hal konyol demi menyelamatkan kehormatan keluarga yang hilang begitu saja hanya karena lapisan tipis dalam tubuh yang disebut selaput dara?

Mungkin karena mereka tidak – belum – menyadari bahwa penting untuk mendekatkan diri pada fakta ilmu pengetahuan daripada hanya peduli dengan nilai-nilai kolot yang terus diwariskan.

Padahal, dalam buku ini, Nawal yang juga seorang dokter menyebutkan bahwa sains telah menemukan kenyataan bahwa selaput dara, seperti halnya organ tubuh manusia lainnya, memiliki perbedaan dan kekhasan tersendiri pada tiap perempuan. 

Demikian saya kutip bagian dalam buku ini yang menjelaskan tentang selaput dara:

Sebenarnya selaput dara dapat dibandingkan dengan usus buntu yang tidak mempunyai fungsi apa pun dalam tubuh. Bila selaput dara memiliki fungsi yang penting, kita tidak akan menjumpai betapa banyak gadis yang dilahirkan tanpa selaput dara sama sekali. 

Sedikit sekali orang yang mengerti bahwa selaput dara memiliki bentuk, ukuran, dan ketebalan yang beragam antara seorang gadis dengan yang lain, seperti halnya organ seks laki-laki yang berbeda satu sama lain.

Setiap diri kita memiliki aturan fisiknya sendiri-sendiri yang khas dan meninggalkan ciri-ciri sidik jarinya sendiri pada benda apa pun yang kita sentuh. Dengan demikian, penis seorang laki-laki berbeda dari penis laki-laki lainnya.

Begitu pula lubang selaput dara berbeda dari wanita ke wanita juga dari perawan ke perawan. Betapa ironisnya nasib seorang gadis bila lubang selaput dara yang lebar kawin dengan seorang laki-laki berpenis kecil!

Kurangnya pendidikan mungkin menjadi tembok besar antara fakta sains dan tradisi kolot di masa dan di daerah itu. 

Namun, dalam buku ini, diceritakan pula ada seorang kakak yang tanpa tedeng aling-aling tega menghujamkan pisau berkali-kali ke dada adik perempuannya hanya karena gelagat adiknya yang sedikit aneh dan ditemukannya sejenis obat yang diduga obat untuk menggugurkan kandungan. 

Padahal sang kakak adalah seorang pembelajar yang menghabiskan waktu lima tahun untuk belajar di Jerman Barat dan baru saja pulang ke Mesir. Dan ironisnya, saat diautopsi, tidak ditemukan bukti bahwa adiknya tengah hamil. 

Entah bagaimana dan apa yang sebenarnya terjadi di sana, pengadilan menetapkan sang kakak tidak bersalah dengan dalih sedang berupaya mempertahankan kehormatan keluarga. Well...

Ini gila! Gila!

Tapi, saya pikir, di hari keterbatasan ini, di era milenium dan serba digital ini, persepsi ngaco tentang selaput dara pun masih banyak berseliweran di kepala sebagian orang. For your information, kini, di Indonesia yang masyarakatnya super kreatif ini, sudah banyak yang menjual selaput dara buatan lho, saudara-saudara!

Terkait dengan selaput dara, diskursus tentang tes keperawanan dan keperawanan sebagai syarat untuk profesi tertentu hingga kini kerap menjadi soal. Ah, bahkan seorang hakim pernah mencetuskan tes keperawanan sebelum menikah demi mengurangi angka perceraian yang kian meninggi.

Dalam urusan selaput dara dan keperawanan ini, siapa yang selalu diusik, dipersoalkan, dan ditodong? Tentu saja hanya perempuan. Tak peduli bahwa mayoritas si pembobol selaput dara adalah laki-laki. Perkara seks, laki-laki hampir tak pernah menjadi soal. Paling-paling menjadi soal hanya jika orientasi seksualnya tidak hetero.

Kembali lagi pada pembahasan tentang buku Perempuan dalam Budaya Patriarki. Kira-kira begitulah kehidupan masyarakat yang menutup diri akan fakta sains dan memilih bertahan menyelimuti diri dengan tradisi yang sarat kebodohan. Peradaban di Timur Tengah pada masa itu begitu suram juga konyol – setidaknya dalam hal ini tentang perempuan dan seks. 

Namun, perlahan, kini nasib perempuan di Timur Tengah tidak lagi sesuram saat pendidikan dan ilmu pengetahuan menjadi barang langka – yang sebenarnya bisa saja dijangkau jika masyarakatnya mau membuka pikiran dan keluar dari tempurung kebodohan. 

Meskipun masih kental dengan budaya patriarki, setidaknya kini jumlah perempuan Timur Tengah yang dibunuh karena selaput daranya tidak berdarah saat malam pertama mengalami pengurangan drastis – jika hingga kini kebodohan tersebut belum hilang total.

Bagaimana dengan kita? Saat ini, ilmu pengetahuan tersaji di mana pun kita menginginkannya lewat teknologi yang juga merupakan hasil dari ilmu pengetahuan, lantas mau kita apakan? 

Itu sih pilihan masing-masing dari kita, mau melakukan hal-hal konyol seperti dalam kisah selaput dara di atas atau menerima fakta sains yang benar adanya? Coba lihat, masih adakah indikasi-indikasi kebodohan untuk tunduk pada tradisi kolot dan penafian terhadap fakta ilmu pengetahuan di sekitar kita? Berapa lapis? Ratusan!