Jarang sekali kita jumpai sebuah film layar lebar dengan mengangkat tema utama tentang kertas, tetapi di Australia tanggal 15 Januari 2015 telah merilis sebuah film dengan judul “Paper Planes”. Film yang disutradarai oleh Robert Connolly meraih penghargaan box office dengan menjual tiket sebanyak 9,61 juta AUD (Australian Dollar).

Film ini dibuka dengan proses pembuatan kertas dari sebuah pabrik besar hingga kertas didistribusikan ke daerah-daerah terpencil di Australia. Kemudian sampai di SD daerah tandus dan terpencil, tempat Dylan (Ed Oxenbould) bersekolah dengan mengenal permainan pesawat kertas yang lebih variatif.

Paper Planes mengangkat tema yang cukup langkah, yaitu lomba menerbangkan pesawat kertas. Ternyata permainan pesawat kertas di Australia dapat dilombakan tingkat nasional dan internasional. Dalam film ini ditampilkan berbagai model pesawat kertas dilombakan yang diikuti oleh siswa di negara-negara bagian di Australia.

Cerita dalam film ini terbilang biasa-biasa saja, tetapi syarat dengan pesan dan motivasi yang disampaikan. Bagaimana sebuah permainan rakyat yang masih terjaga dengan baik dan ditradisikan dalam lingkungan pendidikan? Bahkan pemerintah berpartisipasi dengan melegalkan permainan tersebut dengan mengadakan perlombaan tingkat lokal dan nasional.

Bagaimana dengan nasib permainan rakyat (folklore) di Indonesia? Tentu sangat kontras, apabila dibandingkan dengan cerita film Paper Planes. Di Indonesia hampir semua permainan rakyat (folklore) saat ini sebagian telah punah dan mengalami proses punah atau mati, termasuk permainan kertas yang pernah berjaya di tahun 1990-an.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan. Sedangkan menurut Jan Harold Brunvard, ahli folklor dari Amerika Serikat, membagi folklor ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipologinya, yaitu: folklor lisan, sebagian lisan, dan bukan lisan (Alpine G. Wibatsuh, 2011).

Folklor sebagian lisan merupakan mermainan rakyat atau permainan tradisional yang disebarkan melalui tradisi lisan dan banyak disebarkan tanpa bantuan orang dewasa. Contoh: congklak, teplak, galasin, bekel, main tali atau lompat tali, bentik, gobak slodor, petak umpet, egrang, gatrik, engklek, pesawat kertas, layang-layang, kelereng, dan sebagainya.

Permainan tradisional yang berasal kertas merupakan salah satu jenis permainan anak yang pernah ngetrend pada tahun 1990-an. Anak yang hidup pada tahun tersebut tentu sangat menikmati permainan yang terbuat dari kertas dengan berbagai variasi dan jenis.

Beberapa jenis permainan kertas tradisional yang sudah punah, di antaranya; pesawat kertas, perahu kertas, bangau kertas, pistol kertas, tebak-tebakan kertas, pesawat luar angkasa dan robot-robotan kertas, cakar kertas, topeng atau helm kertas, katak kertas, layang-layang, pletokan kertas yang bisa bunyi kayak petasan, dan permaian kertas ular tangga.

Permainan tradisional kertas sekarang sudah tidak lagi dimainkan oleh anak-anak usia sekolah dasar atau usia remaja karena permainan tradisional kertas telah terdesak oleh permainan modern yang berbasis online. Globalisasi tidak hanya menghilangkan batas-batas sebuah negara, tetapi juga memakan korban budaya.

Interaksi sosial di era globalisasi dan informasi tidak hanya berdampak posistif untuk perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, pendidikan, seni, dan budaya. Tetapi juga berdampak negatif bagi sendi-sendi kehidupan, seperti penyebaran budaya gaya hidup punk sebagai bentuk westernisasi yang melanda anak-anak usia remaja.

Zaman keemasan permainan tradisional kertas telah berakhir dengan ditandai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang saat ini telah masuk pada level insdustri 4.0. Anak usia remaja lebih familiar dengan permainan yang berbasis komputer atau gadget, seperti game dengan berbagai macam pilihan yang ditawarkan.

Memang harus diakui dalam satu sisi, permainan modern menjadikan anak lebih gaul dan mahir dalam urusan teknologi komputerisasi. Tetapi di sisi lain, permainan modern telah menjadikan anak seperti robot yang tunduk atas perintah tombol keybord pada komputer dan gadget.

Permainan modern memiliki kecenderungan untuk membentuk karakter anak bersifat individualis dan miskin nilai pendidikan humanis. Hasil permainan modern melahirkan anak yang bersifat acuh terhadap lingkungan sekitar dan tidak memiliki kepedulian sosial, serta menjadikan anak bersifat konsumeris dan boros.

Sedangkan permainan tradisional kertas syarat dengan nilai-nilai pendidikan, perberdayaan, kemandirian, kreatifitas, kepedulian sosial, kecerdasan sosial, hemat, dan ketrampilan individu. Jadi permainan tradisonal memiliki manfaat yang baik bagi perkembangan anak secara fisik dan mental dari pada permainan modern.

Contoh permainan layang-layang mengadung ketrampilan dan seni dalam proses pembuatan, varian dan model yang bagus untuk dipandang. Di samping kecerdasan mental dan emosional karena permainan ini membutuhkan kesabaran dari pemainnya, sehingga pemain dapat mencari arah angin yang tepat untuk menerbangkan layang-layang.

Sama halnya dengan permainan pesawat kertas, kreatifitas anak juga dapat dikembangkan melalui permainan pesawat-pesawatan yang berasal dari kertas bekas atau kertas lipat. Ketrampilan dan teknik melipat kertas, serta cara menerbangkan pesawat kertas dengan baik dapat menghasilkan keseimbangan dalam penerbangan.

Jadi kertas selain berfungsi sebagai arsip untuk menyimpan ilmu pengetahuan dan teknologi, kertas juga menjadi salah satu media hiburan rakyat atau alat permainan rakyat. Karena permainan kertas mengandung pesan yang bernilai positif bagi perkembangan anak, di samping hemat biaya dan menggunakan ulang sampah kertas (reuse).

Permainan tradisional, menurut Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BP-PLSP) merupakan hasil penggalian dari budaya sendiri yang di dalamnya banyak mengandung nilai-nilai pendidikan karena dalam kegiatan permainannya memberikan rasa senang, gembira, ceria pada anak yang memainkannya.

Selain itu permainan tradisional dilakukan secara berkelompok sehingga menimbulkan rasa demokrasi antar teman main dan alat permainan yang digunakan pun relatif sederhana (BP-PLSP, 2006). Maka saatnya untuk menyelamatkan permainan kertas sebagai salah satu kekayaan budaya bangsa sudah menjadi keharusan dari kepunahan.

Jalur pendidikan merupakan salah satu alternatif sebagi tempat untuk menyelamatkan permainan kertas dari serbuan brutal permainan modern, inspirasi dalam film Paper Planes dapat dijadikan contoh. Lembaga pendidikan berperan sebagai agen untuk memberikan informasi dan mengenalkan kekayaan budaya bangsa.

Permainan tradisional kertas seharusnya dimasukan dalam kurikulum pendidikan di tingkat sekolah dasar dan menengah melalui mata pelajaran ketrampilan, seni budaya, prakarya atau muatan lokal. Karena di dalam permainan kertas mengandung unsur seni dan ketrampilan, serta mengandung unsur kearifan lokal (local genius).

Dalam hal ini peran pemerintah ditunggu karena berkaitan regulasi, Kementrian Pendidikan dan kebudayaan RI memainkan peran yang aktif untuk melegalkan dan memasukan materi dan standar isi dalam kurikulum yang berkaitan dengan permainan tradisional yang berdimensi local genius.

Di samping peran dan tugas pemerintah, guru (tenaga pendidik) memiliki tugas yang sangat vital untuk mentrasfer ilmu pengetahuan dan ketrampilan kepada siswa (peserta didik). Maka guru wajib memiliki standar kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional sebagaimana diatur dalam UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Dalam konteks kompetensi pedagogik, guru memiliki kemampuan pemahaman terhadap perserta didik, perencaranaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan perserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Maka kreatifitas guru dalam memilih media dan bahan dalam proses  pembelajaran menjadi sangat penting.

Permainan kertas bisa dipakai menjadi media untuk kegiatan belajar dan mengajar dalam berbagai jenis mata pelajaran, jadi tidak terbatas pada mata pelajaran ketrampilan, seni budaya atau muatan lokal. Tentu menyesuaikan dengan kopentensi dasar dan kopentensi inti, serta relevansi tema dan materi yang dijarkan.

Bisa juga permainan kertas dipakai dan diterapkan dalam uji coba pembelajaran untuk meningkatkan semangat belajar dan menggalai potensi kreativitas siswa melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Maka guru mampu melahirkan karya ilmiah melalui media permainan kertas yang bisa ditularkan kepada guru lainnya sebagai sumbangan teknik baru dalam mendidik.

Maka tidak diragukan lagi lembaga pendidikan menjadi alternatif yang tepat sebagai tempat untuk menyelamatkan permainan kertas tinggal dongeng belaka saat ini. Karena  lembaga pendidikan masih menggunakan kertas sebagai dokumen utama, media belajar, dan proses pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan laporan hasil belajar siswa (raport).

Dalam proses belajar mengajar di kelas, guru menggunakan dokumen kertas yang berisikan kalender pendidikan, program tahunan, program semester, silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), buku ajar, dan sebagainya. Sedangkan siswa dalam proses belajar dilengkapi buku tulis, buku pelajaran, Lembar Kerja Siswa (LKS).

Dalam proses layanan administrasi pendidikan juga masih menggunakan kertas, seperti; alat tulis kantor (ATK), pengumuman kegiatan sekolah dan surat menyurat. Maka kertas masih sangat urgen dalam lembaga pendidikan, dan bahkan kertas bekas tidak terbuang sia-sia karena bisa dijadikan alat dan media pembelajaran oleh guru.

Permainan tradisional kertas perlu dihidupkan kembali melalui lembaga pendidikan karena dalam permainan tersebut mengandung pesan pendidikan mental dan fisik, serta menumbuhkan kreatifitas anak dan nilai pemberdayaan anak. Karena permainan kertas saat ini sedang diinvasi oleh gempuran permaian modern yang merajalela di dunia nyata dan maya.

Dengan kerjasama yang baik antara masyarakat (guru, siswa, orang tua), lembaga pendidikan, pemerintah, dan stakeholder, diharapkan mampu untuk menyelematkan dan melestarikan permainan kertas sebagai salah satu jenis permainan rakyat yang sudah mengakar sebagai budaya bangsa Indonesia. Semoga permainan kertas tetap terjaga. Amin.