Konsultan
1 bulan lalu · 117 view · 4 menit baca · Lingkungan 70219_86115.jpg
Koleksi Pribadi

Selamatkan Hutan, Jaga Lingkungan Hidup

Indonesia menyimpan khazanah kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam (SDA). Sebut saja di Bima-NTB. Ngaha Aina Ngoho (makanlah, tapi jangan membabat hutan) adalah ungkapan lokal masyarakat Bima untuk menjaga kelestarian alam. Kearifan lokal itu mengandung pesan bahwa kita disarankan untuk makan secukupnya saja, sesuai kebutuhan. Tidak boleh serakah.

Saya tiba-tiba teringat kosakata “Ngaha Aina Ngoho” ini saat merenungi pemakaian sumber daya hutan di Bima yang kebablasan. Saya membayangkan masa depan hari esok yang suram manakala lingkungan alam mengalami kerusakan. Betapa tidak, pohon-pohon besar terus dibabat.

Padahal, hutan adalah kita. Hutan adalah kunci dalam menjaga keseimbangan ekosistem dunia dan stabilitas iklim. Kalau hutan kita dirusak dengan skala stadium berat, maka implikasinya terjadi pemanasan global (global warming) yang menimbulkan instabilitas iklim dunia. Karena itu, perlu aksi lokal sebagai bagian dari partisipasi dalam kehidupan global.

Dalam konteks lokal, sebenarnya kekayaan alam Bima sangat melimpah ruah, namun belum dikelola secara layak. Penebangan pohon akibat illegal logging, perambahan dan pembakaran hutan telah menambah tingkat kepanasan suhu alam Bima. Inilah fenomena deforestasi itu. Akhirnya terjadi pencemaran udara, surplus kemarauan, dan rusaknya tata mata air.

Wajah lahan semakin menggundul. Maka tak heran, setiap musim hujan tiba, luapan air sungai yang besar seketika menjelma jadi banjir, karena hilangnya fungsi hutan lindung. Seperti kita tahu, akhir tahun 2016, banjir bandang menyapu Kota Bima. Hal itu semestinya kita jadikan refleksi dan muhasabah agar tidak berulang di kemudian hari.

Jangan sampai kerusakan ekosistem menuai amukan alam. Kita tengok misalnya Kecamatan Parado, dimana pegunungan kian tandus. Perhutanan terasa makin menipis. Pembalakan liar begitu marak di sekitar hutan lindung Dam Pela-Parado. Sebagai catatan, Dam Pela-Parado yang menjadi icon Bima ini diresmikan langsung oleh Presiden SBY, tahun 2006 silam.

Pembalakan liar harus segera diatasi, sehingga julukan Parado sebagai paradise-nya Bima dapat dirawat. Begitu pula hutan lindung dan satwa yang ada di sekitar Dam Pela-Parado perlu dijaga bersama. Sebab, bila tidak ada ketegasan, maka ancaman banjir akan jadi momok yang mencemaskan.

Oleh karena itu, gerakan penghijauan perlu dilakukan secara masif. Ada anggapan bahwa semarak proyeksi jagung dianggap sebagai salah satu faktor terjadinya akselerasi perambahan kawasan hutan. Di tengah keterbatasan sumber daya lahan pertanian, lantas petani jagung memanfaatkan lahan di area hutan dengan mengeksplorasi dan mengeksploitasi hutan.

Efek samping terhadap keseimbangan lingkungan pun terjadi, sungguh tak terelakkan. Dilemanya disini. Pasalnya, masyarakat petani jagung butuh makan. Lalu, harus bagaimana? Menurut sejumlah kawan saya yang concern dalam bidang kehutanan dan lingkungan, bahwa mekanismenya perlu diatur, agar petani dapat menanam jagung, dan saat yang sama, kelestarian hutan tidak boleh diabaikan.

Dan, pemerintah harus pro-aktif mengatasi persoalan ini. Keindahan alam desa, keluhuran manusianya, maupun kesejukan alamnya hukumnya wajib dikembalikan. Desa-desa di Bima perlu dirancang sesuai keunggulan lokal masing-masing, menjadi tonggak pembangunan daerah, tentu yang berwawasan ekologis, dan pro hutan, seperti penghijauan.

Komunitas yang berkecimpung dalam penghijauan di Bima, sebut saja Relawan Jao (Hijau), dapat dimaksimalkan sebagai penggerak ‘Bima Go Green’ itu, bersinergi dengan pemuda-pemudi desa. Di desa cukup banyak organisasi kemasyarakatan, kepemudaan, dan keagamaan yang bisa diorganisir sebagai garda terdepan dalam gerakan penghijauan. Jiwa gotong royong dan semangat keswadayaan yang masih berurat-akar di desa bisa menjadi modal kultural dalam menyelamatkan lingkungan agar tetap lestari.

Dalam konteks ini, pemerintah perlu optimal untuk memberikan edukasi konseptual kepada aparatur teknis, dan sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya kerusakan hutan. Pembuatan regulasi untuk mengatasi sengkarut persoalan penjarahan hutan bisa dilakukan, namun benar-benar mengakomodasi aspirasi semua pihak. Sehingga pemerintah beserta masyarakat dapat melestarikan lingkungan melalui pemanfaatan lahan hutan secara produktif yang berbasis partisipasi masyarakat.

Mengutip kata seorang kawan penggiat kehutanan di Bima, Didik Fardiansyah (juga punggawa Relawan Jao) bahwa kehadiran pemerintah dapat mendorong manajemen hutan yang bersifat programatik, misalnya program agroforestri dan perhutanan sosial secara integral dan berkelanjutan. Hal itu bisa memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat, sekaligus memanfaatkan produktivitas lahan, juga merawat kualitas lingkungan. Aktivitas agroforestri dapat dilaksanakan lewat produksi tanaman berupa pohon-pohon kayu.

Apalagi di sekitar itu, dipadukan pula dengan peternakan, dengan mengatur ruang yang memadai. Melalui agroforestri yang menggabungkan secara integral antara pertanian dengan kehutanan plus peternakan, maka laju kerusakan lingkungan akibat pemanasan global dapat dikurangi. Pengelolaan lahan yang berorientasi tata kelestarian lingkungan, kearifan budaya setempat dan pengokohan peran ekosistem hutan adalah upaya-upaya yang bisa dilakukan secara berkesinambungan.

Kesadaran ekologis masyarakat jaman now memang masih minim. Gaya hidup yang permisif, tak jarang menabrak rambu-rambu kelestarian lingkungan. Oleh sebab itu, menanam pohon-pohon produktif sebanyak-banyaknya sangat urgen, agar buah kemanfaatannya, tidak saja dipetik oleh generasi sekarang, tapi juga generasi mendatang.

Hutan lindung sebagai jangkar ekosistem sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya banjir. Tidak kah kita sadari bahwa hutan lindung itu penting guna menjaga tata air dan kesuburan tanah? Dalam konteks inilah peran tokoh agama, yakni bagaimana merumuskan teologi lingkungan untuk kemaslahatan umat.

Para environmentalist, aktivis lingkungan, rimbawan/rimbawati dan pecinta alam mesti berkolaborasi dengan pemuka agama untuk mengkhotbahkan isu-isu lingkungan hidup dan jihad penyelamatan hutan. Para ulama mesti mengeluarkan fatwa progresif agar umat beragama menangkal setiap upaya perusakan hutan dan lingkungan. Terlebih, dalam ajaran agama (Islam), kita sebagai manusia wajib menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan, sesama manusia, termasuk harmoni dengan alam.

Akhirul kalam, Islam menjadi landasan teologis bagi aktivis dan masyarakat untuk merawat hutan, mencintai lingkungan hidup. Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. al-A’raf : 56).

Selamatkan hutan kita. Jaga lingkungan hidup kita. Ngaha Aina Ngoho!