Pengusaha
3 bulan lalu · 11202 view · 3 menit baca · Sosok 65555_92364.jpg

Selamat Ultah, Bung Rhoma

Sang legendaris berjulukan "satria bergitar" ini lahir 11 Desember 1946 di Tasikmalaya. Raden Irama adalah nama yang diberikan saat dirinya lahir. Sebagai anak keluarga ningrat, ia adalah putra kedua dari empat belas saudara. Ayahnya adalah Raden Burdah Anggawirja, Komandan Batalion Garuda Putih di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat.

Menulis tentang Rhoma Irama bisa dari berbagai sisi. Selain sebagai musisi, bintang film, tokoh agama hingga tokoh politik. Meski kenyataannya sepertinya tak jarang banyak masyarakat yang lebih mengenal bung Rhoma sebagai musisi dan bintang film.

Buku Rhoma Irama: Politik Dakwah dalam Nada karya Moh. Shofan menggambarkan hampir setiap perjalanan yang dilalui Raja Dangdut ini. Perjalanan dimulai dari Rhoma kecil sudah tidak terpisahkan dari musik. Hari demi hari, kegilaannya dengan gitar menjadi masalah karena membuat ibunya marah. Hanya gitar yang dicari setiap pulang sekolah. 

Akibat kecintaan yang besar pula, Rhoma kecil, saat disuruh menjaga adiknya yang masih bayi, lebih memilih bermain gitar, sehingga ibunya marah dan melemparkannya ke pohon jambu hingga pecah. Peristiwa ini membuat Rhoma sedih.

Saat beranjak besar, Rhoma berada di lingkungan yang keras. Kecenderungan berkelompok dan membentuk geng, sehingga persaingan antargeng menjadi pandangan biasa saat itu. Lagu "Darah Muda" seperti menjadi cermin kehidupan Rhoma ketika itu.

Dunia Film

Bung Rhoma telah menjadi bintang. Berbagai judul film, seperti Penasaran (1976), Gitar Tua (1977), Begadang (1978), Raja Dangdut (1978), Berkelana I (1978), Berkelana II (1978) Cinta Segitiga (1979), Camelia (1979), Perjuangan dan Doa (1980), Melodi Cinta (1980), Badai di Awal Bahagia (1981), Satria Bergitar (1984), Cinta Kembar (1984), Pengabdian (1985), Kemilau Cinta di Langit Jingga (1985), Menggapai Matahari I (1986), Menggapai Matahari II (1986), Nada-Nada Rindu (1987), Bunga Desa (1988), Jaka Swara (1990), Nada dan Dakwah (1991), Tabir Biru (1994), Dawai 2 Asmara (2010), Sajadah Ka’bah (2011).

Semua filmnya adalah drama musikal, dakwah serta percintaan. Menariknya, hampir semua film Rhoma laku. Film Satria Bergitar, misalnya, sebelum selesai diproduksi, sudah laku; dan film tersebut merupakan film termahal saat itu dengan biaya sekitar 750 juta.

Kisah Kontroversial

Raja Dangdut ini juga selalu menjadi kontroversial. Misalnya tahun 2003, Rhoma atas nama organisasi PAMMI mengkritik Inul Daratista dan menentang peredaran album goyang Inul yang dirilis akhir bulan Mei 2003. Kritikan itu juga mendapat dukungan dari pihak MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Sementara itu, Komnas Perempuan bersama 92 lembaga ikut berpartisipasi dalam hal bersimpati kepada Inul Daratista. Mereka menggelar aksi goyang selama tiga menit di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta ketika itu.

Dai dan Dunia Politik

Dalam dunia dai, terlihat Rhoma memiliki penggemar. Selalu kehadirannya menjadi daya tarik atau magnet. Setiap ceramah agama, massa datang berbondong-bondong ke lokasi dan dengan antusias mendengarkan ceramah Rhoma Irama.

Tahun 2014, Raja Dangdut ini membuat kejutan dengan keinginannya menjadi Presiden. Ketika itu Rhoma didaulat sebagai Presiden oleh Ulama Habaib yang berada dalam Wasilah Silaturahmi Asatidz Tokoh dan Ulama (Wasiat Ulama). Dukungan juga hadir dari organisasi yang dikenal dengan FORSA (Fans of Rhoma and Soneta).

Rhoma Irama menjelaskan dirinya didukung maju karena para ulama meyakini dirinya menjadi ikon Islam, serta dianggap memiliki jiwa kepemimpinan yang tanngguh yang tercermin dengan kepemimpinan di Soneta Group.

Kehebatan dan kesaktian Rhoma sudah teruji di atas panggung. Dirinya adalah penyanyi dangdut paling sukses dalam hal mengumpulkan massa. Sejak zaman Orde Baru, Rhoma diyakini memberikan kontribusi di bidang politik kepada PPP yang berhasil berada di peringkat dua, yaitu tepatnya Pemilu 1982.

Dalam sejarah perjalanan di bidang politik, Rhoma Irama menjadi juru kampanye PPP pada pemilu 1977 dan 1982. Sesudah Pemilu 1982, Bung Rhoma tidak lagi mendukung kampanye PPP. Dirinya memilih istirahat dari dunia politik selama dua periode, yaitu 1987 dan 1992. Tahun 1997, Rhoma memilih berlabuh mendukung Partai Golkar.

10 Tahun mungkin adalah waktu untuk Rhoma Irama berpikir untuk memilih jalan politik yang berbeda dibanding sebelumnya. Akibatnya, ada penggemarnya yang kecewa dan bereaksi di mana kaset dan foto-fotonya dibakar.

Rhoma Terus Menginspirasi

Meski usia tidak lagi muda, namun perjalanan Rhoma Irama terus menginspirasi, termasuk anak muda. Sulit sepertinya menolak kenyataan bahwa pesona dan magnet Sang Raja Dangdut masih terus ada. Ada banyak penggemar dari berbagai kalangan yang masih mengelu-elukan namanya.

Rhoma dengan Soneta-nya selalu setia menyuarakan dan menyanyikan lagu-lagu cinta dan menghadirkan berbagai cita-cita dan impian masyarakat banyak. Petuah moral Rhoma dengan lagu-lagunya yang menyihir terus memberi energi positif .

Sebagai inspirasi, perjalanan di dunia musik dan film diyakini sepak terjangnya mencatat banyak sejarah. Rhoma dengan berbagai kisah pro dan kontra tetap manusia biasa, tidak sempurna, namun memiliki kemampuan menggetarkan hati dan jiwa jutaan orang Indonesia dengan karya-karyanya,

Akhir kata, selamat milad, Bung Rhoma. Teruslah menjadi legenda sepanjang masa. Tulisan ini sebagai terima kasih atas karya-karya hebat Raja Dangdut Indonesia yang terus menginspirasi. Ingin sekali berjumpa dan berbincang dengan tokoh legendaris yang satu ini. Semoga suatu saat nanti harapan itu bisa menjadi kenyataan.