Namanya Arda Julian. Dua jam sebelum mentari berpamitan, ia selalu memproduksi tetesan air yang mengucur di seluruh tubuhnya. Dengan apik, ia dan timnya mengolah satu bola berwarna biru dan kuning di gedung olahraga kampus yang jaraknya tak jauh dari rumahnya. 

Jaring di tengah setinggi dua meter lebih dan enam orang yang memiliki badan tinggi dan besar tak menghalangi Arda dan teman-temannya untuk mencetak poin demi poin lewat spike keras dan bola halus yang masuk ke daerah lawan mainnya.

Di lapangan sebelah, ada aku dan kawan-kawan yang juga sedang mengusahakan bola biru dan kuning agar dapat menciptakan poin demi poin untuk meraih kemenangan. Namun, satu tahun belakangan ini, aku merasa kurang nyaman ketika mengolah bola tersebut. Maklum, meja operasi pernah aku sambangi sebelumnya sehingga penampilanku di lapangan berpengaruh.

Walaupun demikian, aku tak pernah berpikir untuk berhenti dari olahraga yang membuat diriku bangga dengan diriku sendiri. Ketika bermain bola voli, aku merasa ada paman di sampingku. Pamanlah yang mendidikku hingga memiliki mental baja.

Ketika bermain bola voli, aku ingin terus mengalungkan medali emas untuk pamanku yang sudah menyelamatkanku dari jeruji keluarga toxic. Ketika bermain voli, aku ingin paman terus tersenyum agar surga semakin apik.

Pompa semangatku bukan hanya dari adik laki-laki ibuku saja. Arda Julian adalah orang kedua yang aku jadikan panutan hidup yang selalu aku bayangkan ketika malam tiba. Apapun yang Arda lakukan dihadapanku, mataku tak pernah absen untuk melihat Arda. 

Ketika latihan bola voli pun, mataku sering mengarah ke Arda walau hanya beberapa detik. Sejuk rasanya, ketika aku melihat Arda walaupun seper sekian detik.

***

“Jadi kapan kau akan menyatakan cinta dengan Arda?” tanya Lika yang sedang duduk bersampingan denganku di bawah pohon yang rindang milik kampus.

“Aku tak tahu, mungkin ketika hari ulang tahunnya. Ah, iya, benar sekali. Kebetulan hari ulang tahunku dengannya hanya selisih satu hari. Mas Panutan (red: Arda Julian) tanggal 6 Juli, sedangkan aku tanggal 7 Juli. Asyik kali ya kalau kami rayakan bersama,” papar aku sambil membayangkan momen yang belum tentu terjadi.

“Akan kuatur konsepnya, kalau itu maumu. Tapi, aku harus turut merayakannnya.”

“Benarkah? Di mana kita akan merayakannya?”

“Nanti kau juga akan tahu sendiri.”

Mengungkapan isi hati yang sudah aku simpan selama setahun adalah impianku sejak setahun silam. Memberanikan diri masuk ke kamar operasi dan jatuh cinta dengan Arda juga berkaitan satu sama lain. Separuh semangatku ada di Arda ketika aku mengatakan “ya” kepada dokter agar lututku segera dioperasi.

Iya, Arda Julian adalah idolaku. Arda Julian adalah belahan jiwaku. Membuka baju Arda Julian dan menyentuh seluruh tubuhnya dengan tulus adalah impianku ketika kami bersepakat untuk mengikat perasaan yang sah di hadapan Tuhan. Arda Julian adalah kekasihku setiap saat di manapun aku berada.

Mengenai seluruh perasaanku kepada Arda, sudah kugaungkan ke Lika sejak setahun silam pula. Ketika aku mengatakannya, Lika mengucapkan terima kasih karena aku telah mempercayainya untuk ikut serta menyimpan perasaanku kepada cinta pertamaku. Namun, entah kenapa Lika masih saja merahasiakan laki-laki yang ia sukai sejak dua tahun silam.

“Jadi, bagaimana kau dengannya?” ucapku sambil mengaduk-aduk kopi yang baru saja tiba.

“Akan ada saatnya aku mengungkapkan semuanya.”

“Kau tak sedang mencintai Arda, kan?!”

“Untuk apa aku menyukai dia?! Tiga tahun aku sekelas dengannya sewaktu SMA, aku tak pernah sedikitpun menyukainya. Bahkan, waktu itu pula aku tak tertarik dengan siapapun,” tukas Lika sambil menebalkan warna merah muda di bibirnya.

“Baiklah, sobat. Aku jadi tak sabar dengan konsepmu itu.”

***

Matahari sudah tak nampak sedikit pun batang hidungnya. Kini, giliran bintang dan bulan sabit yang menghiasi langit hitam agar mereka turut serta merayakan Senin malamku bersama Arda Julian dan Lika Septia.

Sebenarnya, aku kurang setuju jika Lika membersamaiku dan Arda. Namun, tujuh jam sebelum acara dimulai, ia memohon dengan sangat agar dirinya turut merayakan hari ulang tahun kami. Barangkali, tahun depan ia tak bisa merayakan ulang tahunku, jadi momen malam inilah yang akan ia kenang sepanjang masa hidupnya.

Tibalah aku di halaman belakang rumah Lika yang ia hiasi dengan lampu-lampu kecil di langit-langit rumahnya beserta lilin kecil yang ia pajang di meja yang penuh dengan makanan. Aku tak tahu, mengapa Lika mempersiapkan sebanyak ini untuk kami. Apalagi, Lika tak pernah meminta bantuanku. Di meja itu pun juga ada Arda Julian, yang kuharapkan dialah yang menjadi cinta terakhirku.

Sebelum aku duduk di hadapan Arda, tiba-tiba ia mengatakan bahwa “Aku mencintaimu, Krisna. Sungguh, aku mencintaimu. Aku tak tahu lagi harus mengatakan dan menunjukkan seperti apa bahwa aku benar-benar mencintaimu.”

Saat Arda mengucapkan itu, hatiku langsung begetar. Bulir bening sebesar biji jagung pun tiba-tiba jatuh dari mataku. Seluruh tubuhku tak bisa digerakkan sama sekali, bahkan sekadar untuk menghapus air mataku pun aku tak sanggup.

Setelah melontarkan kalimat yang membuat jatungku berhenti sejenak, Arda langsung menghampiriku di depan pintu dan meraih pinggangku untuk mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku. Hal ini juga mempermudah Arda untuk menyentuhkan bibirku dengan bibirnya. Ah, aku tak tahu lagi apa yang sedang aku rasakan. Bahagia ini tak dapat ku deskripsikan.

Setelah sadar bahwa ada Lika yang membawa piring berisi daging sapi panggang masakannya, dengan cepat aku menyudahi ciuman kami. Aku nampak kikuk ketika Lika melihat kejadian itu. Ah, untung saja Lika sahabatku, jadi tak perlulah aku merasa malu berlarut-larut.

“Kau cantik Krisna memakai gaun putih bercorak bunga mawar merah dan buah anggur itu. Aku masih ingat ketika aku menemanimu membeli gaun itu di sebuah mall,” ucap Lika yang juga tak kalah cantik yang tubuhnya ia balutkan gaun merah sepanjang di atas lutut.

“Lika, kenapa kamu siapkan ini semuanya sendirian? Kenapa kau tak minta bantuanku?” tutur aku untuk mengalihkan suasana yang agak canggung.

“Aku justru sangat merasa berdosa jika kau mempersiapkan ini semua. Aku tak sendirian menyiapkan semua ini. Aku minta bantuan bibi untuk masak makanan yang ada di meja.”

“Apa ini, Lika? Apakah ini untukku? Bolehkah ku buka sekarang?” ujarku sambil mengambil kotak yang dihiasi kertas hitam berbunga dari atas meja kecil yang berdampingan dengan meja makanan.

“Waah, kalungnya bagus banget, Lika. Ini pasti harganya mahal. Ada suratnya juga, boleh ku baca sekarang?”

“Bolehkah kita baca sama-sama?” tanya Arda.

“Boleh saja,” tutur Lika sambil memotong daging yang akan ia santap.

Untuk Krisna Ayu.

Kau masih ingat awal kita berjumpa? Aku merintih kesakitan di hari pertama masa orientasi kita di kampus. Aku menangis karena hari itu adalah hari pertama vaginaku mengeluarkan darah. Saat itu, kau memohon bantuan orang-orang sekitar agar aku mendapat keringanan untuk tidak mengikuti masa orientasi yang menjengkelkan itu.

Saat itu, aku merasa mendapat bantuan dari malaikat. Seumur hidup, aku belum pernah dibantu oleh seseorang saat aku sedang jatuh. Bahkan kedua orang tuaku pun tak pernah sebaik itu kepadaku. Mengingat masa itu adalah mengingat Tuhan yang ternyata memang sebijak itu kepadaku.

Krisna Ayu, kau tahu? Sejak itulah aku merasa sedang dihujani kebahagiaan dengan deras. Kau tahu? Keesokan harinya, ketika aku membuka mata di ranjangku, hati dan bibirku langsung tersenyum mengingat kejadian itu. Aku merasa diberi hadiah seapik ini oleh Tuhan lewat engkau.

Dari sejak itulah, aku merasa jatuh hati denganmu, Krisna. Apalagi seminggu setelah masa orientasi selesai dan kita sering ngobrol ngalur ngidul di bawah pohon rindang yang sering kita sambangi.

Krisna Ayu, jatuh hati yang aku rasakan ini bukanlah jatuh hati dari seorang sahabat pada umumnya. Aku merasa jatuh hati ini sangat spesial. Aku sering bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku mencintai atlet perempuan cantik ini? Aku bahkan sering bertanya ketika aku akan terlelap.

Sejujurnya, aku tak bisa menggambarkan isi hatiku perihal dirimu, Krisna Ayu. Namun, jika kau belum paham, kau bisa menyamakan ini dengan perasaanmu kepada Arda Julian. Iya, sebesar itulah rasa cintaku kepadamu atau bahkan mungkin lebih besar. Maaf ya Krisna, aku salah telah menumbuhkan rasa ini selama dua tahun. Namun, hubungan kita masih seperti sedia kala. Jangan tanya perasaanku ketika kau mencurahkan isi hatimu perihal Arda.

Selamat ulang tahun, cinta pertamaku.

Dari aku, Lika Septia.

Sungguh aku tak tahu jika Lika sejatuh hati itu denganku. Aku tak bisa memahami apa yang diutarakan Lika yang ia tulis di lembaran itu. Dua tahun aku bersahabat dengan Lika, ternyata aku belum begitu mengenalnya. Setahun belakangan ini, aku merasa menjadi antagonis di depan Lika terlebih aku sering menuangkan isi hatiku mengenai Arda.

Di sisi lain, Arda langsung tak menyangka telah membaca surat itu. Itu bisa terlihat dari kerutan dahinya yang semakin nyata. Semakin tak menyangka karena beberapa menit sebelumnya ia menyatakan cintanya kepadaku.

Gelas yang berisi cairan merah di depan Arda langsung ia siram ke wajah Lika. Ia merasa kesal dengan isi suratnya. “Jadi, ini alasannya kau menyiapkan semua yang ada di sini?” teriak Arda sambil memegang tanganku kemudian menarikku keluar rumah Lika.

Entah mengapa, tanganku tak bisa ku lepaskan dari genggaman Arda. Aku tak bisa menghampiri Lika yang sedang meneteskan air matanya yang sudah bercampur dengan sirup merah yang melumuri wajahnya. Lika, tenang saja kau masih tetap di hatiku.