Assalamu alaikum Wr. Wb. 

Pak presiden,

Pertama-tama, izinkan saya mengucapkan selamat ulang tahun kepada bapak Jokowi, hari ini, Minggu, 21 Juni 2020, yang ke-59 tahun. Semoga panjang umur, sehat selalu, diberi kekuatan dan kemudahan dalam memimpin bangsa yang besar ini. Amin, amin, amin Yaa Rabbal Alamin.

Sebelumnya, hari ini, saya melihat banyak "teman-teman" mengunggah foto, gambar, meme, karikatur, dan sebagainya bergambar bapak. Semuanya dengan caption; selamat ulang tahun, pak presiden. Kemudian, diiringi dengan banyak doa dan harapan beserta "cita-cita" juga cinta untuk pak Jokowi, sekeluarga.

Dan yang paling menyenangkan saya adalah melihat beberapa foto teman (teman dekat) yang mempunyai foto berdua, bersalaman dengan pak presiden. Mereka ini pernah satu acara, kegiatan, dan sebagainya dengan bapak. Entah itu di istana negara, dan ataupun di sebuah kongres mahasiswa.

Saya pribadi tidak punya foto berdua dengan bapak, apalagi pernah bersalaman dengan bapak. Saya hanya mempunyai foto bapak yang saya ambil dari jauh, ketika bapak dulu datang ke Mamuju, Sulawesi Barat.

Saat itu hari Kamis, 28 Maret 2019, di mana bapak sedang kampanye untuk pemilihan presiden tahun 2019. Pak Jokowi datang dengan ibu Iriana Jokowi yang sangat sabar dan setia mendampingi bapak. Lalu, bapak juga membawa juru kampanye terbaiknya (jurkam) seperti Mbak Yenny Wahid dan bapak Erick Tohir. 

Saya, adik, dan teman-teman (yang tentunya pendukung berat Jokowi) datang ke lapangan Ahmad Kirang. Suasana dan keadaan saat itu sangat ramai dan sesak semuanya ingin ikut larut dalam suasana kampanye. Padahal hari itu "siang-siang," dan sedang "panas-panas(nya)". Tapi, semuanya bukan menjadi penghalang buat kami untuk melihat bapak secara langsung.

"Jokowi, Jokowi, Jokowi," teriak kami yang dipandu oleh mbak Yenny menyambut kedatangan pak Jokowi ke atas panggung.

Saat bapak benar-benar hadir di hadapan kami, kami sangat bahagia, ketika kami bisa menatap bapak Jokowi muncul di atas panggung dengan penampilan simpel seperti biasa. Baju kemeja warna putih polos dan celana hitam. Bapak menyapa kami, yang membuat kami tak henti-hentinya berteriak memanggil nama bapak.

Kemudian, bapak berpidato yang membuat kami hening. Kami mendengarkan bapak. Kami mematuhi bapak. Kami memegang keinginan bapak. Kami berpatri untuk memilih bapak jadi presiden kami di 2019. 

Ketika bapak sudah pulang, turun dari panggung, banyak sekali orang-orang yang ingin bersalaman dan "berselfie" dengan bapak. Bapak meladeni semua dengan senyum. Bapak yang mengambil hape mereka, dan berfoto bersama.

Di sepanjang jalan menuju mobil bapak Jokowi dan rombongan, orang berteriak-teriak. Semuanya heboh. Semuanya mau bersalaman dengan bapak, tak terkecuali kami yang memburu bapak untuk sekadar bersalaman.

Oh, ya, bapak, saat itu saya menyiapkan "kado" untuk bapak. Sebuah buku yang saya tulis sendiri tentang tokoh dari kampung kami, Mandar, Sulawesi Barat. Namun, kayaknya susah. Saya pun meminta adik yang kuat nan lincah agar memburu bapak.

Namun, sayang beribu sayang, adik yang berusaha keras agar dapat menyampaikan kado itu malah mendapatkan "tolakan", entah itu dari pengawal asli bapak presiden atau orang-orang yang disuruh mengawal, atau dari salah satu Pasukan Pengamanan Presiden (PASPAMPRES)???

Kata adik padaku yang memberikan kado itu pada orang tadi; buku yang dibungkus dengan kertas kado itu diremas-remas dengan penuh "gregetan" oleh seseorang seakan-akan ingin menghancurkan isi kado. Padahal, dia sudah memberitahu pada orang itu bahwa ini kado berisi buku untuk bapak Jokowi.

Karena melihat "gaya aneh" orang itu, adik otomatis meminta kembali kado itu. Adik merasa tidak dipercayai dan sepertinya orang itu tidak meyakinkan akan memberikan kado pada bapak.

Baiklah bapak, kita lupakan permasalahan "kado" tadi. Karena ketika saya melihat unggahan teman tentang Paspampres Jokowi yang ganteng, setelah bertanya tentang "peran Paspampres", saya jadi tahu kalau Paspampres punya tugas yang berat, mereka harus menjaga, "mengamankan" bapak presiden.

Stafsus Milenial untuk Jokowi

Saya sedang mencari informasi tentang Stafsus bapak presiden. Staf Khusus Presiden adalah lembaga non-struktural yang dibentuk untuk memperlancar pelaksanaan tugas Presiden Republik Indonesia, yang melaksanakan tugas tertentu di luar tugas-tugas yang sudah dicakup dalam susunan Kementerian dan instansi pemerintah lainnya.

Ketika di awal bulan puasa, tahun ini, Bapak Jokowi mendapat "gonjang-ganjing" akibat stafsus milenialnya yang (mungkin) memang masih terlalu muda belum bisa "bertanggung jawab"? Karena rata-rata "pengusaha". 

Saya sedih karena merasa bapak mendapat banyak kritikan lagi. Saya sampai menulis unggahan status di WhatsApp tentang ini, redaksinya seperti ini; 

Polling opini. Jika Jokowi membuka rekomendasi Stafsus, siapa yang akan kalian tunjuk?

Bapak Jokowi, teman-teman ada yang menunjukku. Katanya; saya pilih kita karena bisa ki merangkul semua kalangan. Satu suara untuk kita, kak karena inspirator pemuda Sulawesi Barat karena menulis. Dan lain sebagainya.

Ketika aku menyodorkan beberapa "nama-nama" kaum milenial yang berprestasi di Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) yang kukenal, mereka mengiyakan, mereka melihat nama-nama tersebut memang sangat inspiratif. 

Misalnya; "si A", seorang anak muda yang sederhana, sangat cerdas berargumen dan penulis berita, "politikus" yang bekerja tanpa uang, namun kini harus mengabdi sebagai pengajar di Bulukumba, Sulawesi Selatan. 

Kedua, seorang perempuan muda yang sangat cantik kelahiran 1990-an. Dia master (ahli) dalam bahasa inggris, penulis buku, mengerjakan banyak hal, dan mengajar banyak anak-anak kecil di sebuah tempat di Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Kemudian, ada pemuda yang pintar, rajin membaca, meresensi buku, dan mendiskusikannya sekaligus menyalurkan hobi membacanya tadi pada anak-anak muda di sekelilingnya agar anak muda Mamuju, Sulawesi Barat mengubah pola pikirnya. 

Dan beberapa pemuda-pemudi lainnya yang jelas, dan nyata bekerja membangun Indonesia dari "pinggiran", yang bisa membantu bapak presiden di pusat, "Jakarta". Namun (mungkin) tidak terkenal dan kalah populer.

Terakhir,

Bapak presiden, banyak sekali unek-unek yang ingin kusampaikan setahun terakhir ini. Tapi, sudah aku tuliskan di tulisanku yang lain (di Qureta). Adanya berbagai macam isu-isu yang dengan mudah diterima dan dipercaya orang-orang itu. Bagaimana orang-orang "menilaimu pribadi", "keluargamu", "kebijakanmu", dan lain sebagainya.

Tapi, aku selalu bersyukur, bapak Jokowi adalah presidenku. Sehat selalu ya, bapak. Semoga "badai" segera berlalu. Amin. Terima kasih.

Tertanda:
Suri. Yang bisa jadi "BUSUR" (Bu Suri).