Selamat Pagi

Baru jam lima subuh, ibuku sudah menelponku. Seperti biasa, dia mewanti-wanti untuk segera ke bandara. Aku tahu maksud dia sebenarnya kali ini untuk membangunkanku, agar aku segera bangun untuk salat subuh. Dia sangat mengerti diriku yang susah bangun pagi apalagi untuk bangun subuh. 

Aku segera bangun, salat subuh, dan tidur lagi, seperti kebiasaanku. Jam enam pagi, ibuku menelpon lagi. Aku jadi bangun lagi. 

"Jam berapa ke Bandara?" Tanyanya.

Aku bangun, aku bilang, nanti jam sembilan, bu." Kataku sambil menguap.

"Jam delapan saja ke sana, nanti kamu terlambat!" Katanya .

"Pesawatnya jam dua belas, bu." Kataku menyanggah.

"Iya, kamu tahu kan, Makassar sekarang macetnya kayak apa?"

"Iya, bu." Jawabku pelan.

Namun, ibuku masih nyerocos, jika jalur yang akan kulewati jalan Andi Pangeran Pettarani lagi pembangunan jalan layang. Walaupun nanti kamu nanti lewat jalan tol, tetap saja harus bersegera. Apalagi, kakak tertuaku pernah nyaris ketinggalan pesawat padahal dia tinggal di rumah Mandai, daerah yang dekat dengan bandara Hasanuddin, masih saja terkena macet.

Aku bangun, apalagi mbak Wall, penjual jamu langgananku sudah memanggil. Aku suka minum jamu, tapi jamu beras kencur yang manis, bukan jamu yang pahit. 

Aku minum jamu, sarapan nasi putih, dan ikan goreng kemarin. Tidak ada yang sempat masak, ipar perempuanku sibuk bekerja. Aku sendiri malas memasak, mending beli jadi jika cuma makan sendiri, dan beraktifitas banyak diluar. Apalagi, istilahnya, aku cuma transit di sini, sebentar, aku akan terbang ke Jakarta.

Ibuku menelpon lagi, untung, aku sudah makan pagi tapi belum mandi. Masih dengan pertanyaan yang sama, jam berapa ke bandara. Ditambah dengan pertanyaan, apakah pesawatmu, pesawat yang bagus. Karena, katanya, adik laki-lakiku yang pernah naik pesawat TNI merasakan jantungnya mau copot ketika landing. 

Aku bilang, ya iya, ibu. Seingatku, saat itu jaman dia masih sekolahan, punya acara pramuka di Yogyakarta, dia pulang ke Makassar dengan menumpang pesawat barang yang gratis. Yah, resikonya jadi barang juga. Naik pesawat bagus saja, jantungku terasa mau copot.

Ibuku berkata lagi, jangan lupa nanti membaca doa. 

Aku pun segera mandi.

Jam sembilan kurang, aku belum ke bandara, aku mau ke apotik dulu. Aku mencari obat tetes telinga, akhir-akhir ini telingaku sering gatal. Akibat sering makan telur, aku memang alergi dengan telur. Tapi, dasar aku sendiri yang tidak bisa menahan makan kue yang mengandung telur.

Ternyata, dari empat apotik di dekat rumahku, hanya satu yang buka. Apotiknya pada tutup, dan yang terbuka itu di depannya lagi banyak yang antri beli obat. Aku jadi mengurungkan niatku. Langsung ke bandara saja. Apalagi sudah jam sembilan lewat. Aku lalu memesan mobil online.

Benar saja, ketika lewat di Pettarani, mobil berjalan sangat pelan, macet. Semoga saja tidak berlarut- larut. Setelah setengah jam, akhirnya, mobil bisa masuk ke jalan tol.

Di bandara, aku segera check-in. Namun, sebelumnya, aku menghubungi seorang teman. Dia seorang perempuan sebagai "perwakilan" dari Makassar. Aku sendiri mendaftar dengan "mewakili" kampusku STIT  di Mamuju, Sulawesi Barat. Kami akan sama-sama mengikuti Sekolah Maarif, jika terpilih dalam 20 besar. Kali ini, kami masuk dalam 25 besar yang (katanya) akan dikerucutkan menjadi 20 besar setelah seleksi wawancara dan presentasi nanti. 

Sebelum terpilih, kami wajib membuat dua makalah. Pertama makalah pilihan yang sesuai dengan tema seperti Islam dan hak-hak perempuan, Islam dan pancasila, Islam Demokrasi dan pluralisme, dan sebagainya. Dan yang kedua, makalah tentang sikap, intelektual, spiritualitas, dan kemanusiaan buya Ahmad Syafii Maarif. 

Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Ahmad Syafii Maarif merupakan sekolah angkatan ketiga yang diselenggarakan oleh Maarif Institute suatu "sekolah" yang diselenggarakan dalam rangka untuk memahami peta intelektualisme dan aktivisme buya Ahmad Syafii Maarif (buya ASM) dalam konteks perkembangan Islam Indonesia yang kontemporer. Di sisi lain juga mengikuti perkembangan pemikiran buya ASM dari masa ke masa. 

Kegiatan ini diisi oleh buya ASM sendiri, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif juga menghadirkan beberapa pakar yang ahli tentang perkembangan pemikiran Islam kontemporer. Seperti yang tertera di flayer, beliau-beliau adalahProf. Dr. M. Amin Abdullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra. Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, Dr. Romo Haryatmoko, dan nama-nama besar lainnya termasuk, Dr. Luthfi Assyaukanie, pendiri Qureta. Wow keren semua, siapa yang tidak berminat untuk ikut Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan (SKK) ini?

Selamat Siang

"Citilink Surabaya, Citilink Surabaya, Citilink Surabaya." Teriak petugas-petugas sebelum jam dua belas (12) tepat.

Aku bangkit dari kursiku, Citilink yang akan kupakai telah memanggil. Aku memasang di story Whats App "Kuakan percaya, kau mampu terbang bawa diriku tanpa takut dan ragu." Sambil memasang foto pesawat Citilink.

Sekitar satu jam di atas awan, aku tiba di Surabaya. Aku akan transit selama lima jam. Bukan main, waktu yang bagus untuk jalan- jalan di sekitar bandara Juanda. Ke masjid lama dan kantin domestik yang murah-meriah. Atau menikmati gorengan dan air panas dari penjual - penjual yang berjalan menghampiri orang-orang. 

Ibuku menelpon lagi. Dia menanyakan sudah dimana. Ibuku sudah tua dan dia selalu ditenangkan dengan memberi kabar yang setiap saat.  

Selamat Sore

Selama transit di bandara Juanda, aku hanya main hape. Padahal, niatku semula, mau membaca. Aku sudah membawa beberapa buku di tas, tapi tidak kusentuh. Aku sibuk membalas chat teman-teman yang menanyakan mau kemana. Status memang penanda eksis, begitu kata seorang sahabat. Semua orang ingin "terlihat" wow gitu! Maafkan, memang lagi narsis.

Belum lagi, kenalan-kenalan baru, teman-teman Maarif yang sudah sampai duluan. Dan memberikan petunjuk-petunjuk arah jika sudah di bandara. Duh, ingin segera ada di sana. 

Jam lima, aku terbang lagi ke Jakarta. Aku duduk di samping jendela. "Tempatku melihat di balik awan, aku melihat di balik hujan." Seperti kata Peterpan, tempatku melihat di balik awan, aku melihat di balik hujan.

Untung cuaca hari ini bagus, semesta mendukung perjalanan ini. Biasanya, kalau hujan, aku merasakan goyangan di pesawat yang membuat imanku langsung naik 360 ° jadi tobat.

Untungnya lagi, aku ketemu dengan bapak yang baik yang duduk di sampingku. Kami bertukar cerita, walau baru kenal. Kita bisa berkomunikasi ketika kita mau sama-sama saling terbuka.

Selamat Malam

Alhamdulillah, aku tiba di Jakarta. Bingung juga mau naik apa ke Maarifnya. Walau di grup, salah satu panitia sudah menginfokan transportasi dan cara-cara ke Maarif. 

Akhirnya, aku naik mobil online. Aku sudah lelah, dan barangku juga banyak. Persiapan sepuluh hari gitu lho. 

Pengemudi online adalah seorang bapak yang sabar tapi suka meladeni pertanyaanku. Akhirnya, aku tiba di Maarif. Dan disambut dengan sangat ramah oleh penghuninya. Ah, semangat hari ini, bertemu dengan orang-orang baru di perjalanan yang menyenangkan.

Menurutku, inilah yang membuat hidup jadi semangat, bertemu oramg-orang baru, dan kegiatan baru yaitu belajar bersama seluruh teman-teman di Indonesia yang beragam dari "Sabang sampai Merauke" semoga akan membuka pikiran kami semua bahwa Indonesia sangat "kaya".