Setiap akhir tahun pada Desember, tidak terkecuali tahun 2020 ini, selalu saja ada pro-kontra mengenai ucapan hari Raya Natal dari umat muslim kepada umat Nasrani. Setiap tahun selalu isu ini yang dihembuskan, sampai saya berpikir apa tidak ada lagi topik yang bisa diangkat selain isu ini?

Di sini saya tidak dalam kapasitas membahas apakah ucapan natal boleh atau tidak diucapkan umat muslim kepada umat Nasrani, karena sudah terlalu banyak bahasan tentang hal tersebut. 

Lagi pula, saya harus jujur menyampaikan bahwa di antara ulama sendiri masih terjadi perdebatan boleh atau tidaknya mengucapkan ucapan “Selamat Natal” kepada umat Nasrani.

Salah satu tokoh agama Islam di Indonesia, Quraish Shihab yang diakui dunia sebagai salah satu ahli tafsir Alquran mengatakan bahwa mengucapkan “Selamat Natal” kepada saudara kita yang Nasrani itu diperbolehkan. 

Bahkan lebih lanjut, Quraish Shihab mengatakan bahwa ucapan “Selamat Natal” itu ada dalam Alquran dan yang pertama mengucapkannya adalah Isa AS (Surah Maryam 19:23), yang artinya “Salam sejahtera bagiku pada kelahiranku”, menurut Quraish Shihab itu adalah ucapan “Selamat Natal”.

Di luar negeri ada tokoh Islam yang Fatwa-fatwanya banyak dijadikan rujukan para ulama di banyak negara di dunia. Dia adalah Syekh Dr. Yusuf al-Qaradawi, seorang cendekiawan muslim yang berasal dari Mesir. Tidak terhitung jabatan yang pernah disandangnya dan buku-buku keislaman yang pernah dilahirkan. Beliau kerap dijuluki sebagai Mufti Agung Mesir karena keilmuannya yang mumpuni.

Syekh Dr. Yusuf al-Qaradawi pernah berkata, ”Adalah hak setiap kelompok untuk merayakan hari-hari besarnya dengan cara tidak melukai orang lain. Juga hak setiap kelompok untuk menyampaikan ucapan selamat atas hari besar orang lain. Islam tidak melarang kaum muslimin menyampaikan ucapan selamat kepada warga negara dan tetangga yang beragama Nasrani berkaitan dengan hari besar keagamaan mereka”.

Syekh Dr. Mushtafa al-Zarqa, seorang ulama besar yang juga seorang politikus dan ahli fikih asal Suriah ini pernah berkata, “Seorang muslim yang mengucapkan selamat kepada teman-temannya atas kelahiran Isa al-Masih, As, menurut saya merupakan yang hal yang baik dan bagian dari etika dalam pergaulan sosial. Islam tidak melarang sikap ini, apalagi Isa Al-Masih yang  dalam akidah Islam adalah Rasul besar dan salah satu Ulul al-Azmi. Mereka sangat dihormati dalam agama kita”.

Memang tidak sedikit kalangan yang mengatakan bahwa mengucapkan “Selamat Natal” itu dilarang bagi muslim, tapi tidak sedikit pula kalangan yang mengatakan sebaliknya. Sebagai umat muslim, tentunya Anda bebas memilih pandangan mana yang Anda mau pergunakan. Kalau ada pertanyaan boleh atau tidak mengucapkan “Selamat Natal” dan pertanyaan itu ditanyakan kepada saya, maka saya akan menjawab, “Silakan dipilih, mana yang nyaman untuk Anda”.

Kenapa saya menjawab demikian? Karena kedua pendapat tersebut sama-sama memiliki dasar/dalil yang menguatkan pendapat tersebut. Menurut saya, kalangan yang mengatakan mengucapkan ‘Selamat Natal” itu tidak diperbolehkan ajaran agama, pendapatnya tidak salah, tetapi kalangan yang mengatakan mengucapkan “Selamat Natal” itu boleh juga benar. 

Jadi tidak ada yang salah dari kedua pendapat tersebut. Menjadi salah, jika Anda memaksakan apa yang Anda yakini benar kepada orang lain, itu yang salah.

Jadi inti yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, di samping saya mengucapkan ucapan “Selamat Natal” bagi teman-teman yang merayakan, saya ingin menggarisbawahi bahwa perbedaan pendapat itu biasa. Anda boleh memilih pendapat apa saja dalam semua urusan, selama ada dasarnya. 

Tidak ada satu pendapat yang lebih benar dari pendapat lainnya. Silakan yakini pendapat Anda untuk diri sendiri. Jangan pernah memaksakan apa yang Anda yakini kepada orang lain, apalagi sampai menyalah-nyalahkan orang lain yang memiliki pendapat berbeda dengan Anda.

Dalam beberapa kesempatan saya sering mengutip pendapat Quraish Shihab yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak bertanya 5 + 5 itu sama dengan berapa, tetapi Tuhan bertanya, 10 itu adalah hasil dari berapa ditambah berapa? Ada banyak jawaban dari pertanyaan 10 adalah hasil dari berapa ditambah berapa? Bisa 5 + 5, bisa 6 + 4, bisa 7 + 3 dan seterusnya. Ada banyak jawaban untuk pertanyaan tersebut dan semua jawabannya benar.

Percayalah, Tuhan memang menginginkan kita berbeda-beda, karena kalau Tuhan mau kita sama, maka dengan sangat mudah Ia akan membuat Alquran ataupun Alkitab tidak memiliki multitafsir. 

Tapi tidak seperti itu faktanya, Ia membuat Alquran dan Alkitab dengan multitafsir, itu artinya memang Tuhan menginginkan kita berbeda-beda. Ingat saja tentang Tuhan itu bertanya 10 adalah hasil dari berapa ditambah berapa?

Walaupun saya mengetahui perayaan Natal juga masih menjadi perdebatan, baik dalam perayaannya, maupun waktunya di dalam tubuh Nasrani sendiri, –semoga tidak menjadikan perpecahan karenanya-- izinkan saya pada kesempatan suka cita ini, mengucapkan “Selamat Natal” 2020 kepada teman-teman, sahabat-sahabat dan juga saudaraku umat Nasrani yang merayakannya, semoga perayaan Natal kali ini bisa mengembalikan makna natal yang sesungguhnya.