Indonesia berduka pasca berpulangnya musisi campursari kondang, Didi Kempot. Namanya muncul kembali ke permukaan belantika musik tanah air dua tahun terakhir. Namun munculnya bukan sekadar naik daun, melainkan juga mampu memikat hati para remaja.

Musisi dengan nama lengkap Didi Prasetyo bukanlah seniman pendatang baru. Karyanya sudah muncul meramaikan jagad musik sejak tahun 80-an akhir. Namun, karyanya lebih dulu populer di Suriname dan Belanda. Karya Didi mulai dikenal publik Indonesia sejak sepulangnya dari Suriname, sekitar tahun 1999.

Melalui lagu sedih berjudul Stasiun Balapan dan lagu nostalgia berjudul Kuncung, ia mendominasi dunia musik kala itu. Saat itu, ada banyak band baru seperti Sheila on 7, Jamrud, dan Padi. Ada juga band dan penyanyi lawas yang sudah malang melintang seperti Slank, Dewa, Kla Project, Jikustik, Iwan Fals, dan Rhoma Irama. Namun, remaja banyak yang mengidolakan Didi Kempot.

Satu yang saya ingat waktu itu, yaitu karyanya selalu menghiasi layar kaca setiap pukul 18.30 s.d. 19.00 wib di TVRI Jawa Tengah. Dan itu sepanjang tahun 1999. Selama 30 menit dalam waktu setahun, ada puluhan lagu Didi Kempot yang ditayangkan usai waktu Maghrib. Karena itu, menyanyikan campursari menjadi salah satu materi ujian muatan lokal anak SD di Jawa Tengah.

Ada banyak penyanyi campursari saat itu, namun yang mampu mengambil hati para remaja hanya seorang Didi Kempot. Namanya boleh disandingkan dengan legenda seniman Jawa lainnya seperti Ki Manthous dan Waljinah. Mereka bertiga tidak ada duanya dalam dunia musik Jawa.

Kesuksesan Didi dalam dunia campursari pun diikuti oleh adiknya, Sentot. Namun, karyanya belum mampu menggeser karya kakaknya. Kalaupun ada, pun lagi dari penyanyi yang juga istri Dalang Ki Joko Edan, Nurhana. Namun tak lama.

Muncul juga nama Soni Josh dan Cak Dikin pada awal tahun 2000-an. Namun, sama seperti lagu campursari pada umumnya, hanya di sekitar Jawa Tengah saja. Dan itu pun tidak lama.

Karya Didi membawa perubahan pada dunia campursari. Sebelumnya, campursari identik dengan musik hajatan di Jawa. Maka dari itu, campursari terkenal dengan musik yang ngantuki; bikin ngantuk. 

Namun karya Didi membuat campursari seolah terlahir kembali dengan musik yang menyenangkan. Campursari bukan lagi sebagai musik hajatan, melainkan berubah menjadi musik pertunjukan.

Beberapa lagu Didi Kempot kini menjadi legenda. Seperti lagu berjudul Kalung Emas, Cidro, Stasiun Balapan, Layang Kangen, dan Parangtritis. Ada juga lagu Sewu Kuto karya Ari Wibowo yang menjadi lagu khas Didi Kempot. 

Kebanyakan orang hanya tahu bahwa Sewu Kuto itu Didi Kempot bukan Ari Wibowo. Dan lagu itu pun menjadi kurang cocok dinyanyikan oleh orang lain selain Didi Kempot. 

Didi Kempot memberikan sentuhan khas dalam setiap liriknya. Ibarat puisi, karyanya memiliki unsur kakafoni, aliterasi, dan asonansi. Itu yang menyebabkan liriknya indah untuk didengar.

Didi Kempot lahir dari keluarga seniman. Bapaknya seorang seniman hebat, Ranto Edi Gudhel. Kakaknya juga pelawak kondang, Mamiek Prakoso. Namun ia tidak mengandalkan nama besar keluarga. Ia berjuang sendiri melalui karya dan kemampuannya sendiri. Ini yang jarang dimiliki seniman lain.

Diterima atau tidak karyanya, ia tetap berkarya. Karyanya adalah art of art. Itu sebabnya karyanya mudah diterima di hati masyarakat. 

Meskipun sudah terkenal, ia tetap memperhatikan keindahan seni dalam karyanya. Beda dengan kebanyakan musisi yang lain; ketika terkenal, maka seni adalah uang (art of money) sehingga tidak bertahan lama. Itu sebabnya karya Didi menjadi melegenda dan tidak mudah dilupakan. Karena baginya berkarya adalah soal rasa, bukan uang.

Kelebihan lain dari seorang Didi adalah mampu membaca perasaan khalayak. Setiap tempat pasti memiliki kenangan. Itu sebabnya karyanya banyak menceritakan kenangan di suatu tempat. Orang akan terenyuh mendengar lagu apabila lagu tersebut mewakili perasaannya. Itu yang dimanfaatkan oleh seorang Maestro Didi Kempot. 

Ada hal yang membuat karya Didi Kempot bisa dicap luar biasa; karyanya mampu melelehkan hati pendengarnya meski tidak merasakan isi lagu tersebut. Hal itu bisa dilihat dalam rekaman konsernya. Beberapa anak remaja belasan tahun menangis menyanyikan lagu berjudul Pamer Bojo. Padahal usia belasan tahun belum pernah merasakan ditinggal nikah oleh pacarnya. Wajar kalau dia dijuluki The Lord of Broken Heart; Bapak Patah Hati.

Sebenarnya, karyanya tidak melulu tentang ditinggal kekasih. Banyak lagu sedih yang tidak bertemakan patah hati, seperti lagu Ketar-Ketir, Kembang Kocapan, Tirakat, Bapak, Kagem Ibu, Aku Dudu Raja, dan sebagainya. Ada juga lagu-lagu lain yang bukan lagu sedih dan tak kalah terkenal, seperti Nunut Ngiyup, Nanggap Campursari, Pasar Klewer, Sir-siran, Duit Palsu, Mati Lampu, dan Kelengkeng Bandungan

Malah, penulis sendiri awal mengidolakan seorang Didi melalui lagu berjudul Kuncung. Lagu ciptaan bapaknya tersebut diaransemen ulang agar lebih modern. Dan benar, lagunya membuatnya terkenal di akhir tahun 90-an. Bahkan beberapa kali dicover oleh orang lain.

Kini, sang maestro telah berpulang untuk selamanya. Bapak Patah Hati benar-benar membuat kami patah hati. Karenanya, campursari menjadi mendunia. Campursari bukan lagi karya seni tradisional, melainkan internasional. 

Seorang Didi telah meninggalkan ratusan ribu bahkan jutaan sobat ambyar di seluruh dunia. Meskipun tiada, karyanya akan selalu melegenda. Semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Amin.