366446_620.jpg
Koesalah Soebagyo Toer [sumber: tempo.com]
Budaya · 3 menit baca

Selamat Jalan Koesalah Soebagyo Toer

Pagi tadi, halaman akun sosmed saya dipenuhi dengan berita duka atas meninggalnya Koesalah Soebagyo Toer (Pak Koesalah). Sekilas nama itu tidak asing bagiku, setidaknya marga belakang Toer yang melekat. Sependek yang saya tau, jika seseorang meninggal dan kemudian menjadi perbincangan di dunia maya, pasti karena dia merupakan orang terkenal. Walau konsep terkenal bagi masing-masing kita, masih sangat bergantung pada subyektifitas individu.

Meski begitu untuk saya sendiri, pak Koesalah juga mempengaruhi konsepsi saya tentang sastra di Indonesia, selain persoalan sejarah Indonesia tentunya. Kali pertama saya bersentuhan dengan beliau, ialah ketika “menikmati” karya Leo Tolstoy.

Walau beliau hanya sebagai pengalihbahasa novel tersebut dari bahasa Rusia ke bahasa Indonesia, sedikit banyak tidak menghilangkan peran beliau dalam memperkenalkan karya sastra yang berkualitas kepada kita.

Koesalah Soebagyo Toer, merupakan satu dari dua adik Pramoedya Ananta Toer (Pram). Bersama sang kakak (Pram), beliau juga sering berkolaborasi untuk sekedar melahirkan beberapa karya, salah satunya buku Kronik Revolusi Indonesia (KPG,2005) dalam semua jilid. Selain itu, tidak bisa dipungkiri melalui inisiatif beliau jugalah akhirnya kita bisa mengenal beberapa karya sastra dunia, seperti Novel karya Anton Chekov, Leo Tolstoy, dan Nikoloi Gogol.

Pria kelahiran Blora, 27 Januari 1935 ini juga berkesempatan menuliskan buku yang mengupas sosok Pram di mata saudara melalui buku Bersama Mas Pram-Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer (KPG,2009). Melalui buku itu, pak Koesalah bercerita tentang sosok sang kakak yang banyak memberi pengaruh kepada dua adiknya. Di buku situ pulalah pak Koesalah memberi pengakuan bahwa yang sangat berpengaruh terhadap minat menulisnya adalah sang kakak.

Pak Koesalah juga merupakan salah satu alumni Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa (1960-1965) untuk fakultas Sejarah dan Filologi. Ini merupakan salah satu pencapaian yang tidak ternilai untuk beliau, setelah sebelumnya pada tahun 1954 beliau menjadi bagian Fakultas Sastra Inggris di Universitas Indonesia, walau akhirnya pada tahun 1958 beliau memutuskan untuk berhenti dari  Universitas Indonesia.

Salah satu alasan kenapa akhirnya Pak Koesalah tidak berhasil menyelesaikan studi di Universitas Indonesia adalah karena adanya pekerjaan sampingan beliau. Selain sebagai mahasiswa beliau juga bekerja di Kedutaan Cekoslowakia. Setelah awalnya hanya tertinggal beberapa jam kuliah akhirnya menghambat total perkuliahan beliau.

Pengalaman di Universitas Indonesia ternyata tidak menyurutkan minat Pak Koesalah untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas. Selepas dari Universitas Indonesia, Pak Koesalah kemudian mendaftarkan diri di Universitas Kristen Indonesia, namun lagi-lagi itu tidak bertahan lama (juga).

Untuk mengisi waktu luang, akhirnya pak Koesalah mengikuti kursus bahasa Rusia yang diadakan secara gratis oleh Badan Hukum Kebudayaan Indonesia Soviet. Nanti pada tahun 1960, nasib baik dibidang pendidikan akhirnya menghampiri Pak Koesalah, karena akhirnya bergabung di Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa.

Setelah lawatan Perdana Mentri Nikita Kurchov di Indonesia, yang salah satu misinya memperkenalkan keberadaan Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa di Moskow untuk pemuda-pemuda Asia,Afrika, dan Amerika Latin.

Jika membaca informasi terkait hal diatas, ada 2 versi yang berkembang, antra lain: masuknya Pak Koesalah di Universitas itu karena Rekomendasi dari Soekarno dan masuknya Pak Koesalah hanya karena keinginan dari beliau setelah mendapatkan rekomendasi dari Lie Se Ing (Guru kursus bahasa Rusia yang pernah diikuti beliau). Apapun itu, bagi saya intinya beliau telah menjadi bagian dari Universitas yang cukup bergengsi kala itu.

Entah berhubungan dengan atau tidak, kepulangan Pak Koesalah dari Moskow kemudian diikuti dengan minat beliau untuk mengalihbahasakan beberapa hal yang berhubungan dengan negara tersebut. Salah satunya ialah ketika moment proses “diamankan”(atau lebih tepatnya pencidukan) beliau bersama Pram oleh pemerintah di tahun 1965, dimana beliau sedang menyelesaikan alih bahasa buku tentang Sepak Bola Sovyet yang akan diterbitkan dalam bahasa Indonesia.

Sehingga tidak berlebihan akhirnya jika kemudian beliau termasuk dalam lima sastrawan Indonesia yang mendapat penghargaan dari Pemerintah Rusia, sebagai sosok sastrawan yang fokus pada penerjemahan Sastra Rusia.

**

Namun kemarin, tepatnya 16 Maret 2016, Koesalah Soebagyo Toer tutup usia pada pukul 08.30WIB di Rumah Sakit Graha Depok. Beliau wafat pada usia 81 Tahun.

Indonesia tentunya merasa kehilangan seseorang yang secara konsisten berkonstribusi terhadap tersebarluasnya karya-karya sastra tingkat dunia.

Yogyakarta,18 Maret 2016