Jurnalis
3 minggu lalu · 28 view · 4 min baca · Seni 47545_60783.jpg
Dok. Pribadi

Selamat Jalan, Arswendo

Kabar duka itu datang dari istri saya pada Jumat (19/7/2019) lalu ketika saya sedang mengetik berita di ruang tamu. Istri mengabarkan, Arswendo Atmowiloto telah berpulang.

Sesaat saya berhenti mengetik untuk memastikan kabar mengejutkan itu. Lalu saya mencari-cari berita kematian Arswendo di Internet melalui ponsel.

Istri saya tahu, saya adalah salah satu pengagum Arswendo. Saya sering memuji-muji Arswendo di hadapan istri saya, meski sebenarnya saya belum pernah bertemu muka dengannya. Meski tidak pernah bertemu dan berbincang secara langsung, namun saya merasa Arswendo telah memengaruhi hidup saya sampai menjadi seperti sekarang ini.

Tentu ada banyak orang yang memengaruhi hidup saya. Saya tak bisa menyebutkan seluruhnya. Tapi bilapun harus menyebutkan, salah satunya adalah Arswendo, penulis cerita silat “Senopati Pamungkas” itu.

Sebenarnya, pada akhir Juni 2019 lalu, kabar wafatnya Arswendo juga sempat menyebar melalui pesan WhatsApp. Saya pun sempat mendapatkan informasi itu. Namun, kabar itu rupanya merupakan berita palsu alias hoaks. Sebab segera setelah kabar beredar, pihak keluarga dan kolega Arswendo mengklarifikasi kabar bohong itu.

Tapi kali ini berita itu benar. Arswendo telah berpulang dan menghadap Sang Pencipta.

Pengaruh Arswendo


Arswendo yang akrab dipanggil Mas Wendo adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Ia adalah penulis produktif yang sudah banyak melahirkan karya tulis dan sudah banyak meraih penghargaan. 

Tidak hanya pada tingkat nasional, melainkan juga sampai ASEAN. Sumbangannya pada dunia kepenulisan sudah tidak dapat dibantah. Salah satu sumbangan paling berpengaruhnya saya kira adalah ketika ia menulis buku "Mengarang Itu Gampang".

Buku dengan sampul gambar kartun seorang penulis yang sedang mengetik dengan menggunakan mesin tik, sementara kertas berserakan di mana-mana dan rokok terselip di bibir itu harus diakui merangsang beberapa penulis untuk menekuni dunia tulis-menulis. Buku ini banyak memberi pengaruh kepada para calon penulis/pengarang. Saya salah satunya.

Saya pertama kali membaca buku itu pada tahun 2004 saat tahun pertama masuk kuliah di kampus IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten (sekarang berubah menjadi UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten). Setelah membaca buku itu, saya seperti dirasuki semangat ingin menjadi penulis (cerpen).

Saya pun mati-matian siang-malam belajar menulis cerpen. Kebetulan saat itu Rumah Dunia, komunitas yang mengajarkan jurnalistik, sastra, dan film, membuka Kelas Menulis angkatan V. Saya pun belajar menulis bersama puluhan orang lain, yang mayoritas mahasiswa.

Saat materi menulis masuk ke fiksi, maka istilah-istilah yang ada dalam buku “Mengarang Itu Gampang” pun kemudian muncul kembali dalam Kelas Menulis. Tokoh, plot, konflik, dan istilah lainnya akan banyak digunakan saat belajar menulis fiksi. Maka, saya mendapatkan manfaat dari membaca buku “Mengarang Itu Gampang”.

Enam bulan belajar sastra dan jurnalistik di Rumah Dunia saya lalui di sela-sela waktu libur kuliah di hari Sabtu. Di saat teman-teman saya asoy berduaan dengan sang kekasih saat libur, saya malah mendengarkan Gol A Gong, Toto ST Radik, dan penulis lain yang diundang menjadi pembicara tamu atau pengisi diskusi. 

Saya juga mengasah kemampuan jurnalistik dengan aktif di Lembaga Pers Mahasiswa SiGMA IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Waktu berlalu dan saya masih yakin bisa dengan mudah menjadi penulis seperti yang ingin diyakinkan oleh Arswendo dalam bukunya itu. Saya sempat yakin dengan jalan hidup yang akan saya tempuh ini setelah cerpen saya menang lomba dan beberapa diterbitkan media massa.

Namun hati tak dapat dibohongi. Saya sendiri mulai ragu dengan pilihan menjadi penulis fiksi. Sebab banyak cerita yang saya buat kemudian terasa biasa-biasa saja. Apalagi bila membandingkannya dengan karya-karya sastrawan yang sudah punya nama yang karyanya rutin dimuat di lembar sastra koran nasional di akhir pekan.


Penulis produktif

Arswendo dikenal sebagai penulis produktif. Ia tidak hanya menulis cerita fiksi, melainkan juga nonfiksi. Ia bisa menulis reportase, esai, cerita silat, cerpen, cerita detektif, skenario film, skenario sinetron, puisi, dan lainnya. Daya kreatifnya seakan-akan tidak pernah kering.

Produktifnya Arswendo dalam menulis dapat dipahami karena ia selalu meluangkan waktu untuk menulis. Dalam buku “Mengarang Novel Itu Gampang” (buku lanjutan “Mengarang Itu Gampang”), ia bersaksi bahwa tidak pernah dalam waktu tiga hari berturut-turut ia tidak menulis.

Ia selalu menulis. Menulis apa pun. Di mana pun. Seluruh hidupnya ia gunakan untuk menulis. Bahkan ketika ia harus menjalani hukuman penjara selama lima tahun karena dinilai menghina Nabi Muhammad, ia tetap menulis. Bermodalkan mesin tik yang bisa dipinjam dari petugas penjara, ia menuliskan kisah-kisah selama dipenjara. Di penjara itu, ia kerap dipanggil Atmo, bukan Wendo.

Karena itu, tak heran bila karya-karya yang ditelurkan Arswendo begitu banyak. Beberapa sangat melegenda dan sampai saat ini masih melekat pada namanya. Sebut saja sinetron “Keluarga Cemara” yang sebelumnya ia tulis dalam bentuk novel.

Saya adalah orang yang menikmati karyaArswendo dalam bentuk media televisi, sebelum menikmati dalam bentuknya yang asli dalam bentuk karya tertulis. Saat sekolah SD dulu (tahun 1990-an), saya menonton sinetron “Keluarga Cemara” ketika siang hari. Sebelum pergi sekolah, saya juga menonton sinetron “Aku Cinta Indonesia”. 

Baru saat sekarang inilah (tahun 2000-an) saya tahu kedua sinetron itu dibuat oleh penulis asal Solo itu. Kedua sinetron itu pun baru saya tahu merupakan pengembangan dari novel dengan judul yang sama. Bahkan istilah sinetron (akronim dari sinema elektronik) merupakan istilah yang diciptakan Arswendo sendiri.

Kini, Arswendo telah berpulang. Meski saya tidak menjadi seorang penulis fiksi, saya tidak pernah menyesal karena telah membaca"Mengarang Itu Gampang”. Paling tidak saya bersyukur karena saat ini saya masih tetap menjadi penulis (berita). 

Sebab mengarang, kata Arswendo dalam pengantar buku “Mengarang Itu Gampang”, tidak hanya dalam artian mengarang tulisan fiksi, melainkan juga nonfiksi, salah satunya jurnalistik.

Selamat jalan, Mas Wendo. Terima kasih.

Artikel Terkait