1 bulan lalu · 20 view · 3 menit baca · Agama 80563_22434.jpg
harilibur.id

Selamat Hari Raya Waisak

Sebelum anda mempermasalahkan boleh atau tidaknya mengucapkan selamat hari raya kepada penganut agama lain, terlebih dahulu mari bertanya pada diri sendiri, apakah anda merasa dihargai bila seseorang mengucapkan selamat hari ulang tahun? Pada perayaan hari ulang tahun anda.

Kalau anda merasa dihargai dan menerima penghargaan tersebut, berarti naluri kemanusiaan anda masih kuat. Memberi dan menerima ucapan pada orang lain, entah perayaan ulang tahun atau perayaan agama. Pada dasarnya bentuk penghargaan segaligus ikut merasakan apa yang mereka rasakan.

Bila menerima dan memberi ucapan pada orang lain, apakah anda mempersyaratkan hanya seagama anda saja atau sesama manusia ? Mungkin ada baiknya merenungkan ucapan Gus Dur “Ketika anda berbuat baik pada seseorang, anda tidak pernah bertanya apa agamanya?”

Manusia mesti menyadari bahwa sebagai mahluk sosial manusia tidak dapat hidup tanpa manusia yang lain. Menghargai dan menghormati perayaan hari raya ummat beragama menjadi momentum untuk saling merasakan satu sama lain.

Penganut agama antara yang satu dengan yang lain memiliki satu misi yakni meneguhkan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam tradisi agama-agama Tuhan tidak pernah sedikitpun meninggalkan jejak dalam kitab suci untuk senantiasa berbuat baik terhadap sesama manusia.

Mari kita simak Tuhan dalam berbagai ungkapan bahasa yang diabadikan dalam kitab suci senantiasa menghujat orang-orang yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. Tuhan tidak pernah bersahabat kepada tiran sekalipun yang membangun kuil-kuil yang megah untuk mengagungkan Diri-Nya. Tetapi, menindas manusia untuk membangun kuil-kuil tersebut.


Terkadang Tuhan lebih berpihak kepada orang miskin ketimbang orang kaya yang mencekik sesamanya manusia untuk memperbanyak kekayaannya. Seolah ini menjadi isyarat betapa Tuhan menginginkan manusia saling berbuat baik bahkan kepada orang yang berbeda suku maupun keyakinan sekalipun.

Tuhan seolah jauh lebih berpihak kepada mereka-mereka yang suka berbuat baik, sekalipun kepada binatang. Sekalipun dia seorang pelacur Tuhan mengampuni dan mengasihaninya akibat perbuatan baiknya.

Perintah Tuhan untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama manusia dan mahluk Tuhan yang lain. Betapa Tuhan mencela orang-orang yang mendzalimi dirinya sendiri, kalau dipikir orang yang men-dzalimi dirinya sendiri tidak merugikan orang lain. Tetapi, kenapa Tuhan mencela perbuatan yang demikian?

Berbuat baik tidak hanya terbatas kepada orang lain, melainkan juga berbuat baik pada diri sendiri. Bila dipahami bahwa Tuhan begitu menghargai perbuatan baik, lalu kenapa ada kalangan sesama penganut agama melarang memberikan ucapan kepada penganut agama lain?

Tradisi Islam memberikan pengakuan dan penghormatan kepada orang Yahudi, Nasrani, Majusi dan Sabiin (penyembah bintang) untuk tidak khawatir sepanjang mereka berbuat baik. Penegasan ini, datang langsung dari firman Allah.

Sesama penganut agama mungkin perlu saling care terhadap satu sama lain. Mengingat Tuhan yang hadir dalam bahasa kitab suci adalah Tuhan yang melimpah secara kasih sayang dan rahmatnya. Bukankah menghina Tuhan bila mengucapkan ucapan selamat hari raya saja menjadi masalah dengan dalil, telah ingkar terhadap Tuhan.

Dalai Lama salah seorang tokoh agama menyatakan bahwa “Apakah seseorang adalah pemeluk agama atau tidak, tidak terlalu masalah. Jauh lebih penting adalah bahwa mereka menjadi manusia yang baik”

Yang perlu dihadirkan sebagai seorang penganut agama yakni menghargai penganut agama yang lain. Kita perlu mengecam tindakan-tindakan brutal yang mengatasnamakan agama dengan meneror baik secara fisik maupun psikis.

Penganut agama juga perlu melakukan upaya pelampauan terhadap persaudaran sesama agama menuju persaudaraan sesama penganut agama. Sikap yang menjadi penting untuk diketengahkan mengingat dalam pelaksanaan bulan suci Ramadan bagi orang Islam, saudara kita penganut agama Budha juga merayakan Hari Raya Waisak.

Ummat Islam perlu memberikan keteladanan selain meminta penganut agama lain untuk menghormati pelaksanaan ibadahnya. Sisi lain, ummat Islam perlu melakukan hal yang sama menghormati pelaksanaan Hari Raya Waisak bagi ummat Budha.

Kalau ummat Islam meminta kepada penganut agama menghormati pelaksanaan ibadahnya dengan tidak membuka warung makan dan minum di siang hari. Perlu juga ummat Islam menjadi pelopor menghadirkan kesejukan kepada penganut agama yang tengah menjalankan ibadahnya.


Perlunya menyingkirkan sikap dan mentalitas reptilian terhadap sesama penganut agama. Apalagi disertai klaim-klaim sebagai penghuni surga bagi kelompok agamanya, sedangkan kelompok agama lain penghuni neraka. Seolah agama yang dianutnya jauh lebih utama dibandingkan dengan agama yang lain.

Kesadaran untuk memahami sisi esoterik dan eksoterik agama menjadi sangat penting guna melahirkan suasana sejuk dan damai diantara sesama penganut agama. Secara esoterik agama memiliki tujuan yang sama yakni Tuhan, sedangkan secara eksoterik agama memiliki jalan peribadatan yang berbeda dalam setiap agama.

Walau tampak secara lahiriah Islam mengagungkan Tuhan di mesjid, Kristen memuji kasih Tuhan di Gereja, Hindu menghayati Tuhan di Pura dan Budha menpautkan secara batin kepada Tuhan di Wihara. Tetapi, puncak dari semua itu, tiada lain hanya untuk mengagungkan Tuhan.

Kepada saudaraku yang beragama Budha, kuucapkan selamat merayakan Hari Raya Waisak mesti jalan berbeda. Tetapi, kuyakini tujuan kita sama yakni menuju Tuhan. Karen Armstrong menyakini usaha untuk menjadi manusia berbalas kasih menjadi proyek seumur hidup. Semoga kita dapat meneladani Sang Budha Gautama dengan menebar sikap welas asih kepada sesama.

Artikel Terkait