Untuk setakat berbuka puasa, bahkan harus mencukupkan diri dengan segelas air minum. Itupun bukan air minum olahan. Tetapi hanya air sumur. Tidak cukup gas untuk merebusnya.

Walau begitu, bersiap esok untuk meraikan Hari Pendidikan. Dimana tahun ini, merupakan kali kedua di tengah kondisi wabah. Ingatan tulus terhadap pesan-pesan Pendidikan Kihajar Dewantara tetap tersemai dengan kukuh.

Itu tentu saja sebuah kasus. Tidak mewakili potret seluruh warga. Bolehjadi masyarakat kita sudah lebih banyak yang sejahtera berbanding bagi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan dan juga masih berkubang dengan kesusahan.

Pendidikan mencari bentuk formulasinya. Tidak lagi sekadar menjadi institusi, tetapi juga berproses dalam pembentukan secara luas.

Tahun lalu, dengan keinginan untuk turut serta dalam pembelajaran daring, seorang mahasiswa mencari signal yang bisa menopangnya untuk akses ke gawai. Kediamannya, tidak cukup tersedia layanan itu.

Masalahnya tidak pernah terpecahkan. Justru sang mahasiswa harus dikubur. Berpulang ke rahmatullah, setelah terjatuh dari atap masjid. Cita-citanya untuk menjadi sarjana kandas seiring dengan kondisi pandemi.

Sementara itu, pendidikan kita juga diwarnai dengan ribuan santri terpapar virus covid-19. Mereka dengan semangat masuk pondok, di Sulawesi Barat. Penanganan kedisiplinan santri dan juga pemberlakukan protokol kesehatan tidak cukup mencegah terjangkitnya virus.

Akibatnya, ribuan santri harus diisolasi sampai kemudian satu persatu berstatus negatif. Sampai, tidak lagi menyandang virus di jasadnya. Mereka sementara waktu tidak lagi belajar. Justru dilakukan pemulihan untuk sampai pada kondisi status sehat.

Sisi lain yang lebih luas. Orang tua mahasiswa harus dirumahkan karena kondisi perusahaan yang tidak beroperasi.

Sang anak, harus menjadi tukang ojek. Dimana mahasiswa berbagi uang bulanan dengan orang tua yang dirumahkan tadi. Walau tetap dapat melanjutkan pendidikan, hanya saja lagi-lagi ada keterbatasan untuk menjalani kondisi yang ada.

Itulah sisi-sisi pendidikan kita. Harus dilalui dengan segalanya duka yang mengelilingi. Dengan luasnya Indonesia kita, masalah juga akan sangat kompleks. Maka, perlu pemetaan sehingga masalah dapat diurai satu persatu. Tetapi pemetaan itu, bukan dengan ujian nasional. Dimana justru akan memunculkan masalah baru.

Namun, optimisme juga tetap mengiringi. Di satu wilayah kompleks, karang taruna, remaja tanggung yang turut membantu adik-adiknya untuk tetap belajar. Pola mentorship diterapkan. Dimana mahasiswa mendampingi siswa SMA. Sementara sma mendampingi siswa SMP.

Inilah wajah Indonesia kita. Dimana setiap orang bukan menuntut hak. Melainkan justru berupaya memberikan kontribusi terbaiknya.

Ketika sekolah tutup bukan berarti bahwa pendidikan berakhir. Justru, pembelajaran kontekstuallah yang menjadi alternatif. Belajar langsung dari alam. Sehingga apa yang dipelajari menjadi kesempatan dekat dengan alam.

Bukan seperti sebelumnya. Dimana apa yang dipelajari, justru berbeda dengan kenyataan lapangan. Ketika dilengkapi dengan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) tetap saja tidak memadai.

Hiruk-pikuk Percakapan

Ketika pandemi dengan kasus awal di 2 Maret 2020, sekolah masih dibuka. Orang tua kemudian komplain “kenapa sekolah masih buka?” melihat situasi dimana kasus demi kasus mulai wujud.

Setahun setelahnya, pandemi masih merebak. Hanya saja, sekolah diputuskan untuk tetap ditutup. Orang tua pada bertanya lagi “anak-anak sudah bosan, kenapa sekolah masih tutup?”.

Orang tua, tentu tepat saja untuk mempertanyakan. Namun, perlu penyamaan persepsi sehingga memungkinkan untuk menangani situasi yang kita hadapi bersama.

Salah satu pesan yang dapat disampaikan “pemerintah dan pemangku kepentingan sementara melakukan assessment”. Untuk itu, semua pihak harus berdialog untuk mencari cara terbaik dalam penanggulangan wabah.

Termasuk bagaimana kondisi pendidikan yang dapat ditindaklanjuti seiring dengan pandemi. Diantaranya ada pembelajaran blended atau hybrid. Paduan pembelajaran antara daring dengan tatap muka akan menjadi kondisi adaptasi pada masa yang akan datang.

Masa Depan Pendidikan Indonesia

Bagaimana pendidikan kita ini di masa depan? Hiruk pikuk yang ada, semuanya terkait dengan ekonomi semata. Tidak ada komite nasional yang mengurusi pendidikan. Sementara kesilapan seringkali terjadi karena kesepahaman yang tidak terbentuk sejak awal.

Ada kondisi dimana antar bagian dengan unit kerja lainnya justru tidak saling menyapa.

Sehingga wujud keriuhan dan kesilangan pendapat yang idealnya tidak perlu terjadi sama sekali.

Visi pendidikan dengan Tut Wuri Handayani sejatinya adalah metode pengembangan pendidikan kita. Tersemat pula semangat gotong royong.

Bukan saja memudar bahkan semangat gotong royong ini menghilang sama sekali.

Tak ada urusan bangsa yang terlalu besar jikalau semuanya bersedia untuk saling menyapa, dan saling membantu. Bukan saling membatu. Akibatnya kohesi sosial yang hilang. Tidak lagi merasa ada persatuan dan kesatuan.

Sebaliknya yang ada adalah perduaan dan selalu mearasa orang lain sebagai lawan.

Inilah kenapa sistem rangking harus dienyahkan. Supaya tidak lagi hanya persaingan. Tetapi menumbuhkembangkan semangat persandingan, kolaborasi, sinergi, dan berjamaah.

Itu kita punya banyak kosa kata dalam menunjukkan kebersamaan.

Kehidupan kita bahkan komunal. Dimana dalam kondisi tertentu, selalu saja harus dilihat dari kebersamaan.

Sementara realitas sehari-hari berbeda sama sekali dengan kondisi di dalam kelas. Ujianpun hanya melihat semata-mata pada kemampuan kognitif saja. Tidak pada kemampuan yang diperlukan masing-masing lingkungan.

Maka, merayakan hari Pendidikan, saatnya untuk merefleksi dengan cara terbaik adalah Kembali ke jati diri kita. Jati diri bangsa Indonesia.

Berkaca ke Finladia, tetap wajib. Namun, apa yang bagus di sana belum tentu sesuai dengan kondisi kita.

Selamat Hari Pendidikan.