2 bulan lalu · 163 view · 4 min baca menit baca · Politik 39608_87209.jpg
thumbor.guiame.com.br

Selamat Hari Kemerdekaan Israel, Bung Ben

George W. Bush dalam pidatonya pernah menyatakan: “Memperkokoh ikatan-ikatan yang telah menghubungkan kedua bangsa (Amerika Serikat dan Israel), nilai-nilai yang sama-sama kita anut, komitmen kita kepada kemerdekaan.” 

Hubungan yang kokoh antara Amerika Serikat dengan Israel seolah menjadi benteng atas kedaulatan Medinat Israel (Negara Israel).

Komitmen Amerika Serikat untuk senantiasa membela setiap kebijakan Israel didasarkan akan alasan moral. Bagi Amerika Serikat, Israel memiliki keidentikan, yakni sama-sama dibangun oleh kalangan imigran dan mengalami penindasan serta komitmennya pada nilai-nilai demokrasi. Kondisi itulah yang mendorong Amerika Serikat menjadi sahabat yang setia.

Negara Israel yang berdaulat dengan luas wilayah yang kecil, sekaligus dikelilingi oleh negara-negara tetangga yang tentunya tidak bersahabat. Sewaktu-waktu bisa mendapatkan serang dari berbagai arah. Yang membuat Negara Israel secara alamiah memerlukan sahabat guna membentengi diri dari serangan-serangan tak terduga.

Kehadiran Negara Israel di Timur Tengah seakan menjadi sumber konflik. Semenjak Israel didirikan di tahun 1948, telah banyak perang bersenjata yang terjadi dengan melibatkan negara-negara Arab. Terkepung secara regional dan tertutup ruang diplomasi dengan negara-negara tetangga.

Dari sudut pandang strategi, Israel menjadi ujung tombak Amerika Serikat di Timur Tengah. Perang Enam Hari yang terjadi pada tahun 1967 dan Perang Oktober 1973 yang memukul mundur Mesir dan Suriah. Kedua negara tersebut merupakan sekutu Rusia. keberhasilan Israel di Timur Tengah menyebabkan reputasi Amerika Serikat diperhitungkan.

Amerika Serikat menjadi faktor penting dan pendukung utama keberadaan Israel. Sisi lain, yang meneguhkan kehadiran Amerika Serikat di Timur Tengah, yakni dukungannya terhadap Shah di Iran, Keluarga Saud di Saudi,dan Raja Hussein di Yordania. Ketiga kekuasaan monarki konservatif tersebut, kala itu, sangat membenci Nasser.


Keterbelahan negara-negara Arab menjadi peluang bagi Amerika Serikat untuk berdiri membela Israel, tanpa kehilangan hubungan baik dengan beberapa negara Arab. Praktis kebijakan Amerika Serikat membela Israel tidak menimbulkan kekhawatiran yang berarti.

Pendudukan Israel 1967 atas Tepi Barat, Sinai, Gaza, dan Daratan Tinggi Golan menyebabkan munculnya rasa benci negara-negara Arab dan umat Islam secara khusus, terhadap dukungan-dukungan Amerika Serikat pada aksi-aksi Israel yang menurut negara-negara Arab sebagai bentuk pelanggaran.

Betapa mahal harga yang mesti dibayar Israel atas kehadirannya di Timur Tengah, kemerdekaan yang sejatinya menghindarkan akan berbagai bentrok fisik baik lewat operasi militer maupun lewat rudal. Biasanya negara yang merdeka terlebih dahulu berperang baru menyatakan kemerdekaan. Tetapi Israel, hikayatnya menjadi lain: merdeka dulu, perang kemudian.

Secara resmi, Israel menyatakan kemerdekaan pada 14 Mei 1948. Biasanya negara-negara tetangga memberikan respons berupa pengakuan kedaulatan. Tetapi, untuk Israel, respons dari negara-negara Arab pada 15 Mei 1948 menyerbu dengan pasukan bersenjata. Seolah menjadi isyarat hari-hari kemerdekaan Israel akan diisi dengan perang demi perang.

Perang pasca Israel menyatakan kemerdekaan yang melibatkan Yordania, Mesir, Suriah, dan Libanon didasari atas perebutan wilayah. Pada saat itu, Palestina belum berdiri, tetapi ada kekhawatiran dari berbagai negara yang wilayahnya berbatasan dengan wilayah Palestina saat ini. Harapan dari Yordania, Mesir, Suriah, dan Libanon bahkan Israel, wilayah tersebut dapat diambil menjadi bagian dari wilayahnya.

Adanya kekhawatiran akan muncul negara Arab Palestina menjadi pemicu dari berbagai negara untuk memperebutkan wilayah tersebut. Ada analisis menyebutkan bahwa keterlibatan beberapa negara seperti Mesir dan Suriah tujuan dasarnya bukan menyerang Israel, melainkan keinginan membagi wilayah Gurun Sinai tujuan Mesir dan bagi Suriah keinginan mengambil Daratan Tinggi Golan.

Bila dilihat, pada dasarnya perang yang melibatkan negara-negara Arab pada awal kemerdekaan Israel dipacu oleh keinginan pragmatis menguasai wilyah. Sedangkan tujuan memerangi dan menghancurkan Israel hanya menjadi taktik guna berunding membagi wilayah tersebut.

Kasus Daratan Tinggi Golan yang dikuasai oleh Israel, secara hukum menjadi wilayah de facto Israel. Pada masanya, Perdana Menteri Yitzhak Rabin pernah setuju mengembalikan Daratan Tinggi Golan kepada Suriah, tetapi dengan imbalan Suriah menarik semua dukungan terhadap milisi Hizbullah, Hamas, dan Jihad Islam. Para penerus Rabin tampaknya setuju dengan kebijakan tersebut, namun hingga kini belum tercapai kesepakatan.


Bagi negara-negara Arab, kehadiran Israel ibarat bayi kloning yang dihasilkan dari berbagai gen kombinasi antara Inggris sebagai pihak penjajah dan Zionisme Internasional serta pengasuh yang setia Amerika Serikat. Lalu, kenapa negara kecil yang dimusuhi mampu bertahan dan tak jarang mengejutkan negara-negara Arab? Sebagai refleksi bagi negara-negara Arab pemburuh ganima (baca: wilayah).

Negara adidaya Amerika Serikat bukan hanya bertindak sebagai pengasuh yang setia, bahkan menyediakan antibodi untuk kekebalan imun bagi kedaulatan Israel. Sehingga resolusi Dewan Keamanan PBB yang tidak menguntungkan Israel cepat-cepat Amerika Serikat mengeluarkan tameng saktinya alias veto.

Bila merenungi segala yang berkaitan dengan Israel menjadi bulan-bulanan kecaman dari dunia internasional. Tetapi, apakah dunia internasional juga akan mengecam bila Israel tidak berdiri sebagai sebuah negara? Melainkan negara-negara Arab saling berebut wilayah di kawasan bulan sabit (Yordanian dan Yerusalem serta sekitarnya). Sebab motif memperebutkan wilayah jauh lebih tampak mengiringi pertikaian itu.

Perayaan kemerdekaan Israel yang jatuh pada 14 Mei beberapa hari yang lalu, biasanya setiap perayaan hari kemerdekaan suatu negara, ada banyak negara-negara dan kalangan yang mengucapkan selamat. Mungkin ada yang berucap, “Selamat hari kemerdekaan Israel, Bung Ben (Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel).” Terlepas dari berbagai kontroversi berdirinya Negara Israel, karena kita percaya setiap suku bangsa pasti memiliki tanah air.

Artikel Terkait