Hari Keluarga Internasional jatuh pada 15 Mei, namun masih banyak masyarakat yang belum mengetahuhi momen bersejarah ini. Kerap kali momen ini terlewat begitu saja. 

20 September 1993 menjadi awal mula Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 15 Mei sebagai Hari Keluarga Internasional atau International Day of Families melalui Resolusi A/RES/47/237 dengan cara melakukan pertimbangan kepentingan hubungan komunitas internasional dengan keluarganya.

Perayaan Hari Keluarga Internasional menjadi cerminan bahwa berartinya keluarga bagi kehidupan. Keluarga menjadi lingkungan pertama dalam pembentukan karakter anak. Melalui keluargalah anak dapat belajar mengenai orang lain, lingkungan sekitarnya, cara berinteraksi dengan orang lain, serta bagaimana cara mengontrol emosinya.

Pola komunikasi dalam lingkungan keluarga sangat menentukan anak dalam menanggapi permasalahan yang ada di kehidupan sehari-harinya. Hal ini berarti bahwa pola asuh dari orang tua nantinya akan menentukkan sikap dan tindakan yang akan diambil anak ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Keluarga menjadi salah satu sumber solusi pemecahan masalah ketika anak tengah menghadapi problematika kehidupan, namun sering kali anak bersikap abai. Anak cenderung lebih sering menceritakan permasalahannya di dalam dunia mayanya dibandingkan bercerita  langsung kepada keluarga. Kurangnya interaksi antaranggota dalam keluarga menjadi pemicu mengapa hal tersebut dapat terjadi.

Sering kali orang tua yang terlalu sibuk akan pekerjaan mereka akan membelikan anak gawai yang canggih, yang berguna untuk berkomunikasi dalam jarak jauh. Namun hal ini dapat berdampak negatif, yaitu mengurangi interaksi mereka dengan anak-anak mereka. Terlebih memasuki masa remaja, peran keluarga beserta orang tua sangat dibutuhkan bagi anak.

Masa remaja pada anak kerap dinamai sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak, sehingga sering kali terjadi perubahan sikap yang tidak stabil dalam membentuk suatu pola perilaku. Perubahan pola perilaku yang tidak stabil membuat anak memerlukan dukungan dari orang tua maupun keluarga. Dalam hal ini, dibutuhkan fungsi kelurga yang berguna sebagai panduan sikap anak terhadap perubahan sikapnya. 

Firra Noor Nayana di Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Universitas Muhammadiyah Malang, Vol 01, No 02, Agustus 2013, tentang Kefungsian Keluarga dan Subjective Well Being pada Remaja, menyebutkan bahwa fungsi dasar keluarga adalah membangun ikatan emosional, memberikan cinta dan perhatian pada masing-masing anggota keluarga. Keluarga memiliki tanggung jawab terhadap setiap kebutuhan yang dibutuhkan anggotanya.

Fungsi keluarga dalam jurnal tersebut dapat dikaitkan dengan masa peralihan anak dari masa kanak-kanak menuju remaja. Keluarga, khususnya orang tua, dibutuhkan ikatan emosional yang mendalam kepada anak sehingga hal ini mencegah anak untuk melakukan perbuatan yang tidak diiinginkan.

Kerap kali kita mendengar pemberitaan mengenai pergaulan bebas yang terjadi pada remaja ketidakstabilan pola perilaku remaja memicu hal tersebut dapat terjadi. Sehingga untuk mencegah hal tersebut dapat terjadi, maka dibutuhkan peran orang tua. 

Hari Keluarga Internasional seperti saat ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendekatan diri kepada keluarga, terutama jika biasanya tidak memiliki waktu bersama keluarga, momen ini dapat menjadi sarana merajut kembali tali silaturahmi bersama keluarga.

Lalu, apa saja yang dapat dilakukan pada Hari Keluarga Internasional seperti saat ini?

1. Menghubungi Keluarga

Bagi anak-anak yang merantau, memang sulit untuk bertemu keluarga. Biasanya dapat bertemu keluarga ketika akhir pekan telah tiba.

Namun terdapat cara lain yang tidak perlu membuat kita harus pulang ketika Hari Keluarga Internasional tiba, yaitu dengan cara menghubungi keluarga yang jauh dengan kita. Sekadar menanyakan kabar dapat menjadi sarana untuk merekatkan keakraban antarkeluarga.

2. Bersikap Terbuka

Bersikap terbuka dapat menciptakan rasa kebahagiaan antarkeluarga. Hal ini lantaran adanya rasa percaya menceritakan permasalahan dalam keluarga, kemudian bersama-sama mencari solusi permasalahan tersebut. 

Selain itu, bersikap terbuka bukan hanya berkaitan dengan pencarian solusi terhadap suatu permasalahan, namun juga dapat berkaitan dengan perasaan yang tengah dialami, kegiatan apa saja yang dilakukan hari ini, sehingga dapat terjalin komunikasi yang menciptakan keakraban antaranggota keluarga.

3. Meluangkan Waktu Bersama

Tidak ada salahnya jika momen seperti ini digunakan untuk meluangkan waktu bersama, sekadar berkumpul bersama keluarga membicarakan hal-hal yang telah lalu, mengulang kembali kejadian-kejadian menyenangkan di masa lalu, atau sekadar bercerita tentang keinginan yang ingin dicapai di masa depan. 

Selain itu, momen berkumpul bersama keluarga ini dapat dimanfaatkan untuk menanamkan nilai atau norma kepada anggota keluarga, sehingga dapat tercapai keselarasan tindakan.

4. Menonton Film Keluarga

Agar momen ini dapat makin terasa, dapat dilakukan beberapa cara, salah satunya dengan menonton film keluarga. Selain dapat menyampaikan pesan tentang pentingnya keluarga dalam kehidupan sehari-hari,  juga dapat menjadi hiburan di kala berkumpul bersama keluarga. 

Di sisi lain, menonton film keluarga juga dapat menjadi sarana untuk mendekatkan setiap anggota keluarga.

Hari Keluarga Internasional diharapkan bukan hanya sebagai perayaan yang dapat dilewatkan begitu saja. Namun dengan adanya momen ini diharapkan dapat menjadi sarana perekat hubungan antaranggota keluarga.