Jum’at Tanggal 13

Bangun pagi. Penulis langsung melihat jam yang tertera di telepon genggam (walau sudah ada jam dinding yang masih sehat dan waras baterainya). Setengah tujuh pagi. Syukurlah tidak terlambat ke kantor lagi. Tapi, lihat lagi tanggalnya. Ini tanggal 13. Hari apa ini? Jum’at? Walah, sialan. Jum’at tanggal 13, Friday the Thirteenth, Vrijdag de Dertiende.

Sejak subuh hujan tidak henti-hentinya turun. Tidak deras, tapi awet. Pertanda bakal kebasahan saat turun bekerja. Minimal celana yang kena. Dan, benar saja. Basah ujung celana ini. Sekalipun menggunakan jas hujan, tapi celana tetap kena tempias. Sial.

Jika percaya takhayul, sudah pasti keapesan penulis ini karena tanggal sial hari ini. Dari pagi sudah kebasahan, apalagi kalau ini tidak sial? Kurang apes lagi kehujanan di tengah bulan Agustus. Di suatu bulan di tengah musim yang tidak seharusnya...musim hujan. Pasti ini karena tanggal 13.

Tapi, tidak juga. Sudah beberapa hari hujan terus mengguyur. Dua minggu? Tiga minggu? Tidak tahu pasti. Yang pasti sudah begini sebelum tanggal 13. Dipikir-pikir musim hujan kini datang tidak tepat waktu lagi (seperti penulis setiap sampai ke kantor). Lebih awal dua tiga bulan dari biasanya. Karena tanggal sial kah ini? Tidak. Sepertinya karena perubahan iklim, bencana terbesar buatan manusia, karena ulah manusia. Sepertinya perubahan iklim jauh lebih mengerikan dibandingkan tanggal 13 hari ini. Jauh lebih nyata adanya.

Kemudian, haruskah kita takut? Mengapa kita harus takut? Apa istimewa dari tanggal 13 yang sering digadang-gadang sebagai hari penuh petaka itu?

Ada beberapa yang meyakini bahwa angka 13 mewakili 13 orang yang hadir di Perjamuan Terakhir Isa Almasih sebelum disalibkan. Ada juga percaya bahwa angka 13 mewakili Loki, sang dewa penipu dalam mitologi Skandinavia. Ada simbolisme keburukan atau pertanda buruk atas angka 13, terutama pada masyarakat Barat.

Tapi dalam masyarakat Asia sendiri hal semacam itu hampir-hampir tidak ada. Malahan, pada masyarakat Asia Timur, angka 4 lah yang justru dianggap membawa kesialan karena pelafalannya () serupa dengan pelafalan untuk kata “kematian” (). (Terlebih jika kita sadar bahwa jika angka 13 dipecah jadi 1 dan 3, maka penjumlahannya akan menjadi angka 4 juga. Nice...) Kita seakan terpaku dengan ketakutan-ketakutan irasional atas suatu tanggal, suatu angka atau suatu konsep kebudayaan.

Dalam artikel ilmiah yang ditulis Foster dan Kokko (2009) berjudul “The evolution of superstitious and superstition-like behaviour”, takhayul semacam itu dapat muncul karena ketidakmampuan kita dalam memahami hubungan sebab akibat suatu peristiwa. Kita cenderung mencari alasan atau penyebab kenapa kita mengalami kesialan dalam hidup dan kita memerlukan penjelasan atasnya. Seringkali dalam hidup, kita mengaitkan “kebetulan-kebetulan” yang kita alami sebagai penyebab atas suatu peristiwa.

Kita berusaha menjelaskan kenapa suatu hal dapat terjadi. Semisal, ada kepercayaan bahwa bersiul di malam hari bisa memanggil ular. Bayangkan dahulu ada seseorang yang sedang duduk di depan rumahnya, dengan pekarangan yang masih luas, tanpa ada rimba beton, tanpa ada mobil, hanya ada pepohonan rimbun yang mengelilingi pemukimannya. Saat orang itu asyik bersantai dengan bersiul, tiba-tiba muncullah seekor ular di hadapannya.

Zaman dahulu ketika kita belum terlalu memahami perilaku nokturnal beberapa hewan, termasuk ular yang berburu di malam hari ketika tidak banyak keramaian, tentu orang itu akan mencari-cari sebab mengapa ular itu muncul. Lalu dia akan menganalisa perilaku-perilaku apa saja yang dilakukannya sebelum ular itu muncul dan menyadari bahwa mungkin, ya mungkin saja, siulannya yang mengundang sang ular itu datang.

Itulah bukti keterbatasan kita dalam memahami hubungan sebab akibat. Hal itu bisa terjadi karena kita kurang melakukan pengamatan tentang perilaku ular secara keseluruhan, ataupun juga karena kurangnya pemahaman kita mengenai penginderaan yang dimiliki ular secara umum. Di sinilah takhayul berlahir.

Seperti itu juga kita menanggapi tanggal 13 ini. Kesialan apa yang terjadi pada kita mungkin adalah sesuatu yang lumrah, seperti kopi kita tumpah, makanan kita terjatuh ke lantai, atau ada sepeda motor yang menerjang menyalip hingga membuat kita kesal. Semua kondisi itu, semua peristiwa itu, semua kesialan itu, bisa terjadi dalam keseharian kita, tidak hanya pada Jum’at tanggal 13 ini saja. Kita bisa sial kapan saja, bisa apes kapan saja, tidak perlu menunggu satu hari tertentu untuk mengalami peristiwa-peristiwa tadi.

Kita seakan terpaku dengan “kebetulan-kebetulan” yang mengelilingi hidup kita. Hidup pada hakikatnya penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang acak (random probabilities) yang kita tidak mungkin tahu apa yang akan terjadi semenit atau sejam yang akan datang. Kita memiliki pemahaman atau informasi yang terbatas mengenai apa yang terjadi di luar diri kita, sehingga kita tidak tahu rangkaian peristiwa yang bergulir di luar sana hingga pada akhirnya sampai pada kita dan mempengaruhi hidup kita.

Saat seseorang berbicara bahwa rumahnya tersambar petir saat Jum’at tanggal 13, sebagai contoh, ada banyak kemungkinan-kemungkinan yang acak tersebut hingga peristiwa tersebut bisa terjadi. Bisa saja karena curah hujan di daerahnya sedang tinggi. Apakah orang tersebut tersambar petir rumahnya sehari-hari? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Jika iya, berarti tiap hari dia memiliki kemungkinan untuk tersambar petir. Tidak mesti Jum’at tanggal 13. Jika tidak, berarti itupun peristiwa yang acak. Dia tidak mengalami tersambat petir setiap Jum’at tanggal 13.

Dalam usaha kita memahami apa yang terjadi di diri kita dan sekeliling kita, pada tingkat pribadi dan pada tingkat yang lebih besar lagi, kita cenderung bukan penganalisa yang baik.Kita memerlukan gambaran statistik yang nyata dan terjadi secara konstan dan menetap untuk dapat menyimpulkan hubungan sebab akibat dalam kehidupan kita. Dugaan kita harus dibuktikan, tapi pembuktian itu harus bersifat universal. Itulah empirisme. Dunia ini diatur oleh hukum-hukum ilmiah yang harus dipelajari dan dipahami seiring waktu, yang tidak berubah pada setiap orang, setiap keadaan, setiap tempat dan setiap waktu.

Sebaiknya memang kita membuang jauh-jauh keyakinan kita atas takhayul-takhayul, mitos-mitos atau gagasan deus ex machina dalam kehidupan ini. Nasib kita tidak ditentukan oleh hal yang bersifat semata-mata, melainkan oleh hukum-hukum semesta yang berjalan yang teratur. Keajaiban, mukjizat atau sihir telah digantikan oleh teknologi dan ilmu pengetahuan. Ramalan dan terawang telah digantikan oleh psikologi. Jampi-jampi dan mantra telah digantikan oleh kedokteran modern dan psikiatri. Kita telah mengatur hidup kita sendiri dan akan menentukan nasib kita sendiri.

Walaupun kita tidak menafikan akan kemungkinan-kemungkinan yang belum terbuktikan, alangkah bijaknya bagi kita untuk tidak pernah menarik kesimpulan sendiri. Semua hal yang disimpulkan sendiri tanpa pembuktian yang sistematis dan empiris pada akhirnya hanya akan memenjarakan diri kita sendiri. Kita akan selalu terjebak dalam penjara takhayul kita sendiri karenanya.

Akhirul kalam, semoga Jum’at tanggal 13 anda semua “menyenangkan."