Bentar lagi udah ramadan nih sis, yakin ndak pingin sajadah baru, ada gamis juga sis, tentunya Syari dan halal, udah di sertivikasi oleh MUI lo, atau yang bagi yang jomblo ini ada jam waker baru, layak di coba mblo, toh kalau bukan jam waker yang bangunin, mau dibangunin siapa? Mercon, atau adzan duhur sekalian.

Tak terasa memang, udah deket aja bulan puasa, padahal baru kemarin rasanya puasa, eh memang kemarin ding, ngodo' puasa yang bolong. Tapi beneran rasanya cepet banget, ndak terasa udah hampir setahun jadi haters nya jokowi atau prabowo, atau jonru, felix xiomi redmi 2 juga, eh. Banyak juga ya.

Namun yang pasti dan tidak terelakkan bagi bulan Ramadhan adalah bulan mulia, bulan penuh dengan pahala, penuh dengan ampunan, wahai mojoker! Ingat bulan ramadhan adalah bulan penuh ampunan, jadi..ah, sudah lah. Bagi saya tentu tak layak untuk menerangkan kemuliyaan, keagungan dan seluk beluk bulan mulia ini, apalah saya di banding dengan mbah Geogle yang maha tahu di dunia, saya hanya butiran pasir di balik tai kuncing, please, jangan di banyangkan.

Sedikit saya akan memberikan wejangan (cik, kayak ustadz aja) sharing perihal manfaat lain di bulan mulia ini. Bulan Jualan. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa bulan Ramadan adalah bulan berkah bagi para penjual, baik penjual kelas kaki lima hingga bintang lima, semua mendapatan jatah di bulan penuh berkah ini.

Sebagaimana riwayat ibnu marjan dan abu konguan yang mulai nongol di TV maka dimulailah bulan julalan ini, tanpa memikirkan hasil istimbat dan sidang istbat, mereka sepakat dan mufakat bahwa bulan Ramdhan tahun ini haruslah bermanfaat.

Dan selayaknya anda-anda juga ikut andil ikut berpartisipasi dalam even tahunan ini, dari pada anda secara sengaja atau tidak sengaja menjual caci maki, hasut dan dengki di media sosial, toh mending secara real terjun langsung di dunia bisnis, paling engak jual kolak, kurma atau apa lah yang penting halal.

Eh, bukan berarti harus sertivikasi halal lo. Bayangkan keuntungan yang secara nyata anda dapat, selain pahala menyiapkan makanan untuk orang puasa anda juga mendapatkan pesangon di hari raya, dari pada tetangga kita, jualan janji, perasaan dan enggak dihianati. Eleh, move on aja.

Dan juga segi positifnya anda tidak akan memikirkan kuota internat anda, sebab jika anda sibuk berdagang secara nyata tentu anda lebih sering melewatkan dunia maya, juga mbak maya tentunya. So, mikir apa lagi, persiapkan bulan ini sebagai bulan yang barakah fi dini wa dunya wa akhirah.

Bulan Dakwah. Perkara dakwah memang perkara yang sulit untuk di pahami, sebab terkadang sebagian dari manusia yang islam itu, mengartikan dakwah sebagai ajakan yang memaksa. Mau engak mau harus ikut, ya begitulah mereka terkadang mengartikannya.

Jadinya mental-mental ektrimis ngisis, konfoi dan suporter-lah yang mereka anggap dakwah, swiping syariah lah, geber-geber motor berpahala atau apakek, nantinya akan musim juga di bulan muliya ini. Disini perlu di bengkok kan, sebab garis lurus kini sudah mudah patah dan dipakai NUGL, jadi perlu dibengkok kan kejalan yang benar, maksudnya mari kita mengajak dengan kasih sayang dan cinta, sebab ajakan lembut lebih mengena daripada ajak kasar, memaksa lagi.

Apalagi ndak tau konteks tempat. Misalnya memaksa orang untuk berpuasa padahal yang di suruh lagi berhalangan seperti haid dan nifas. Disuruh menutup warung-warung waktu siang padahal warung matrial, bata dan semen. Kalo mau sok-sok an, tutup aja tu pasar, indomaret, alfamart, matahati.

Toh mereka juga buka siang dan banyak makanannya. Jangan-jangan beraninya sama yang kecil, eh, mental indonesia banget yok. Bulan Moral. Inti dari bulan mulia ini adalah bulan menata diri dan syahwat, sejujurnya ini sangat cocok dengan problem yang lagi booming di Negara tercinta ini, perkara Krisis Moral.

Mulai dari pelajar, pengajar, orang tua, anak, santri, kiyai hingga pejabat-pejabat negeri ini. Memang sih, dilihat dari kacamata Tuhan, ini adalah hukum alam yang didesain sebagai jalan menuju kehancuran Dunia, tapi sebagai manusia tentunya kita patutlah untuk berusaha, setidaknya menunda kehancuran dunia melalui Perbaikan Moral.

Padahal secara nyata, bangsa kita ini tidak kekurangan orang pintar, tapi sayang kurang orang baik. Bahasa jawanya "pinter tapi gag bender", semacam itu lah. Emang baik itu relatif, tapi nilai kebaikan itu absolud. Antara kebenaran dan kesalahan (kok ejaanya ndak enak) memiliki batas yang jelas, sebagaimana layaknya orang jomblo dan pacaran itu perbedaanya jelas, cuma masa sekarang terkadang ada hal-hal yang samar-samar diatara keduanya, kalo bahasa agamanya subhat, antara baik dan buruk itu samar, tapi jika kita memiliki dasar moral kuat tentu bisa memilahnya, layaknya frendzone, adekkakakzone atau sejenisnya itu subhat, samar antara jomblo dan pacaran, tapi jika kita memiliki dasar yang kuat tentu kita akan tau bahwa dia hanya sekedar jomblo yang dimanfaatkan.