Beberapa bulan yang lalu, saya tidak sengaja temukan status di beranda Facebook terkait pandemi. Status yang seakan menggambarkan bahwa bukan penyakitnya yang beredar ini berbahaya, melainkan cara kita dalam menghadapinya.

Status tersebut dituliskan dalam versi bahasa Mandar, Sulawesi Barat. Pada status itu ditulis seperti ini: "Tania korona, tapi to sakoro-korona." Apabila status itu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kira-kira kurang lebih seperti ini: "Tidak ada Korona, tetapi yang ada orang yang sering duduk/malas."

Ya, saya membaca status tersebut dengan sedikit merasa lucu dan juga itu memang benar sih. Bagaimana tidak, beberapa bulan yang lalu sebelum New Normal diberlakukan, pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan seperti social distancing, bekerja dan belajar dari rumah, dan secara sederhananya kita diimbau untuk di rumah saja dengan menghindari kerumunan banyak orang.

Walaupun pada kondisi sekarang ketika berbicara "Korona" mungkin tidak asyik lagi di telinga kita. Anggapan orang bahwa "Korona" hanyalah kebohongan semata dan tidak ada lagi virus yang seperti itu

Meskipun informasi tentang "Korona" masih gentayangan di mana-mana, baik di media sosial maupun dari mulut ke mulut, tapi anggapan masyarakat bahwa itu hanyalah sebatas angin lalu saja. Dan itu dapat kita lihat pada perilaku masyarakat yang tidak lagi memenuhi protokol kesehatan dan aturan pemerintah.

Masa di Rumah Aja

Seperti yang kita telah lalui, hampir sebagian kegiatan kita dilakukan di rumah, seperti pekerjaan dan pendidikan yang dilakukan secara daring. Kondisi itu memang sangat membosankan bagi kita semua, sehingga tidak heran jika yang terjadi "Sa Koro-Korona", rebahan dan santuy.  

Mau bagaimana lagi, aturan memang mengimbau untuk di rumah aja. Dan kondisi itu jugalah banyak orang yang di-PHK dan dirumahkan. Dan itu berpengaruh besar pada "Sa Koro-Korona" atau duduk saja di rumah karena tidak ada kerjaan.

Meskipun bantuan dari pemerintah begitu banyak yang sejatinya dikucurkan untuk masyarakat, di mana uang bantuan itu adalah hak mereka yang di-PHK, pada orang miskin dan yang pastinya bukan mereka-mereka sebagai pejabat pemerintah dan orang-orang kaya.

Tetapi, tidak sedikit juga orang banyak memanfaatkan kondisi pandemi dengan berbagai kegiatan. Ada yang menghabiskan waktunya untuk main game dengan berjam-jam, ada juga yang menulis setiap waktu, ada juga yang tahunya rebahan-rebahan saja mulai dari pagi, siang, dan malam.

Meskipun itu tidak salah dan itu adalah hak asasi bagi setiap manusia, yang tidak ada hukum kepada mereka akan mau berbuat apa. Akan tetapi, sangat disayangkan jika hidup tidak dipergunakan pada sesuatu yang dapat mendatangkan banyak manfaat.

Masa New Normal

Dengan kondisi yang sekarang ini, memang banyak orang yang tidak percaya lagi dengan "Korona". Hal ini disebabkan karena pemerintah tidak mampu memberikan solusi alternatif dalam menangani "Korona". Sehingga tidak heran jika banyak kata-kata yang terlontar dari masyarakat kalau "Korona" hanyalah konspirasi para penguasa saja.

Selama "Korona" melanda, peluang rebahan akan memiliki banyak waktu. Rebahan yang hanya membuat malas berfikir dan bertindak. Sehingga waktu seakan dihabiskan untuk bersantai saja, ya memang karena kondisinya sangat mendukung.

Namun, apakah setelah pandemi berakhir kita akan berhenti rebahan, atau malah kita lanjutkan misi itu dengan biasa-biasa saja? Mestinya masa New Normal menjadi lingkungan untuk memperbaiki segala rebahan-rebahan kita yang selama ini.

Tidak bisa memang dimungkiri kalau rebahan itu sesuatu yang menyenangkan. Mengapa? Mungkin saja otak kita yang diselimuti berbagai masalah akan berhenti berpikir setelah rebahan, atau tubuh kita dengan lemasnya kemudian bersentuhan dengan bantal dan kasur. Nah, jika itu dibayangkan bagaimana ya rasanya, biar kita sendirilah yang merasakan.

Yang sangat disayangkan jika rebahan itu akan terus-menerus dilakukan dan menjadi budaya yang sangat sulit untuk dihindari. Hidup adalah perjuangan, yang sudah barang pasti kita isi dengan hal-hal yang mendatangkan dampak positif, baik pada diri sendiri maupun orang lain.  

Karena kodrat kita sebagai manusia yang tidak bisa dinafikan dalam hubungannya dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Baik hubungan kita sesama manusia, hubungan pada hewan, hubungan pada tumbuhan dan tidak kalah pentingnya bagaimana kita mendiami bumi ini tanpa merusaknya untuk kepentingan kita sebagai manusia.

Penutup

Di akhir tulisan ini, saya ingin menyampaikan bahwa wabah pandemi yang melanda kita ini yang dikenal dengan si "Korona", mestinya kita dapat mengambil pelajaran. Menurut cara pandang kita melihat keadaan yang nantinya dapat kita pegang dalam melangkah ke depan.  

Akan ada banyak cara dalam melihat kondisi ini. Dari segi ekonomi global, mungkin saja ini adalah pertarungan ekonomi dunia oleh negara-negara besar yang memiliki surplus kapitalis. Atau ada juga berkata bahwa ini adalah ujian dari Tuhan kepada hamba-hambanNya untuk tetap menjadi orang yang sabar dan tetap memiliki keyakinan. 

Bahkan ada juga mengatakan bahwa ini adalah teori konspirasi yang membelokkan segala perhatian kita, namun kepentingan para penguasa tidak mampu diawasi karena kita telah dihipnotis dengan keadaan.

Catatan terakhir, sebagaimana yang disinggung tulisan ini di bagian awal. Bahwa selama "Korona" melanda justru banyak yang terjadi "Sa Koro-Korona" atau bahasa kerennya bisa masuk dalam kategori rebahan. Menyia-nyiakan waktu yang telah menjadi bonus bagi kita untuk hidup. Jangan sampai rebahan kita selama "Korona" terus membudaya dan menjadi kebiasaan walau si "Korona" sudah pergi.

Semoga si "Korona" cepat balik ke asalnya dan tidak memberikan kepanikan lagi pada manusia. Agar kita nantinya juga dapat melihat apakah rebahan akan terus dilanjutkan atau dihilangkan seiring dengan kepergian si "Korona".