Bertapa sebentar kelihatannya menyenangkan. Mendiamkan mulut dan anggota tubuh lain dari gempita angan-angan dan pekerjaan.

Situasi dan kondisi memang dinamis, pun sangat mengejutkan. Kupikir hari cerah dan dapat mengeringkan semua cucianku, eh ternyata hujan meluncur tiba-tiba.

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus bermental baja. Siap dalam keadaan apa pun. Termasuk harus menerima #DiRumahAja.

Mengisolasi diri sejenak, tak usah banyak keluhan dan sumpah serapah. Anggap saja ini jatah libur yang selama ini diimpi-impikan. Meskipun tetap bekerja dari rumah, ya sudah syukuri saja. Setidaknya bisa sehari hanya mandi satu kali (hehe).

Hangatnya pelukan selimut kerap kali mencegahku menemui mentari pagi. Aku mengalah pasrah ketika tubuhku di dekap erat selimut merah darah bergambar beruang kesayangan.

Pagi-pagi adalah "hidup" yang kuimpikan. Aku bisa menghirup oksigen dan melepaskan karbon dioksida dengan penuh kemerdekaan. Maksudku, ketika libur begini, "kemerdekaan"-ku berlimpah ruah.

Lampu kamar sengaja redup. Maka pantulan sinar mentari di jendela tertutup tirai merah hati itu tercetak jelas. Lamat-lamat, senyumku mengembang atas setianya mentari menyambutku. Meskipun, aku lebih sering bergeming.

Kedua tanganku masih memeluk erat kekasihku yang bernama: guling. Aku jarang terlelap tanpa kehadirannya. Atau, bantal yang kehilangan kebantalannya akibat beralih fungsi menjadi guling.

Pagiku paripurna. Aku hanya mengedipkan mataku sesekali dan terpejam lagi. Bangun lagi, terpejam kembali (seperti lagu lawasnya Mbah Surip, hehe). Begitulah seterusnya sampai aku sadar ada demo dari cacing di perutku.

Astaga. Pasti banyak cacian terlontar untuk perempuan sepertiku. Mana ada laki-laki yang mau memperistri perempuan yang kerap sengaja tenggelam dalam selimut.

Untuk menikmati hidup, aku terpaksa sering menutup telinga dengan berbagai komentar. Toh, inilah me time ala diriku. Tubuhku berhak dimanjakan dengan cara seperti ini.

Atau, baiknya aku klarifikasi sebentar (mana tahu calon jodohku ada yang membaca ini, jangan kabur dulu). Jika aku ingin terlambat bangun, aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan pagi di petangnya. Misalnya, semua baju dan piring kotor sudah kucuci dan pastinya kinclong semua. Pagi tinggal duduk-duduk manis saja, deh.

Karena apa-apa mode daring, jadi pekerjaan juga hanya membutuhkan koneksi internet dan kuota. Ah, jatah untuk kuotaku jadi membengkak tajam. Aku memanfaatkan waktu luang untuk keliling dunia via YouTube.

Nah, ini waktunya untuk menata ulang cita-cita dan keinginan yang terkadang tumpang tindih. Cita-cita sebulan ke depan, setahun ke depan, atau lima tahun ke depan.

Biasanya kutuliskan semua mimpi-mimpiku dalam kertas-kertas kecil dan kuselipkan dalam dompet. So amazing, kebanyakan dari impianku tercapai. Ya, bukan serta-merta terwujud gitu doang, harus ada aksi yang sesuai.

Di saat-saat membosankan #DiRumahAja, kita harus memikirkan hal-hal menyenangkan dan kusukai. Untuk apa? Untuk mengembangbiakkan energi positif. Banyak hal di dunia ini yang kusukai: terutama dunia itu sendiri.

Aku teramat menggilai alam dan budayanya. Salah satu mimpi yang belum terwujud adalah kebebasan melangkahkan kaki ke tiap petak bumi ini. Semoga saja suatu kala nanti mereka mengundangku (Aamiin!).

Selain itu, pengembangan diri tak bisa lepas dariku. Orang-orang lebih sering menyebutnya self love. Intinya gampang saja sih, yang membuat diri jadi lebih baik dan positif (bukan dua garis merah!). Itu saja.

Menurutku, tak hanya mengubah dari dalam saja (pola pikir). Tubuh kita pun membutuhkan perhatian. Setelah diajak berjuang mati-matian dalam pekerjaan, boleh dong dimanja-manja dan disayang-sayang (karena menunggu orang lain menyayangi terlalu lama, ups).

Misalnya, menyempatkan olahraga sebentar dan maskeran. Btw, masalah masker aku suka bahan-bahan alami dan ala rumahan saja. Bisa dipakai di rumah gitu maksudnya, tak usah repot dan mahal-mahal ke salon.

Aku pusing yang ribet-ribet. Lebih suka yang biasa-biasa saja asal aman, nyaman, dan cocok.

Dan, masker satu ini syukurnya langsung cocok di wajahku. Komposisinya bahan-bahan alami seperti susu, pisang, wortel, havermut, beras. Di kemasan tertulis fungsi: membuat kulit bercahaya, sehat, dan cerah!

Ulala, wajahku terasa lebih enteng setelah diamuk waktu bekerja. Relaksasi yang benar-benar murah meriah bin simpel (hehe).

Kebetulan kudapatkan langsung masker berguna ini dari seorang sahabat. Jadi ceritanya, waktu itu aku pernah berjanji mau beli masker kalau sudah tiba lagi di Jambi. Dan, baru sempat beli sekarang karena aku baru ingat punya janji (maklum faktor "U").

Sembari bermasker ria selama 15 menit, baca-baca buku elektronik adalah pilihanku (lagi). Saat ini, buku Bobo mengantarkan ingatanku ke dua puluh tahun lampau. Ya, dulu, aku kecil teramat menggilai majalah Bobo.

Menyikapi pandemi Covid-19, kita tak boleh lengah. Beruntungnya aku berada di lingkaran orang-orang yang peduli pentingnya pendidikan. Di kala seperti ini, ajang bertukar buku elektronik sangat berguna.

Bukan hal baru jika kubuka WhatsApp dan ada seorang teman (atau beberapa) yang mengirimkan buku elektronik. Melihat kepeduliannya, aku pun termotivasi untuk membagikan bahan-bahan bacaanku ketika luang. Atau, meneruskan buku elektronik dari pengirim lain. Kami saling bertukar bahan bacaan.

Tak hanya bentuk buku, bagi pengguna Telkomsel, aplikasi MyTelkomsel pun turut menyediakan kuota 30 GB seharga 0 rupiah untuk mengakses Ruangguru dan Ilmupedia selama satu bulan.

Semoga keadaan ini segera membaik dan kita bisa beraktivitas normal seperti semula. Tetaplah #DiRumahAja dan terus mengembangkan diri.