Berbicara mengenai kesempatan, tentu bukanlah hal tabu. Setiap orang punya kesempatan. Setiap orang berhak mencoba apapun selagi ia mampu. Dan setiap orang punya cara tersendiri dalam memanfaatkan kesempatan tersebut.

Dalam simfoni kehidupan ini, kesempatan selalu ada disetiap langkah yang kita jalani. Entah itu kesempatan untuk mencoba, kesempatan untuk berubah, ataupun kesempatan untuk berjaya. Semua itu bisa kita dapatkan, tergantung diri kita sendiri. Kalau kita mau mencoba, pasti kesempatan selalu ada. Tetapi kalau kita pasrah, kesempatan pun akan musnah.

Kesempatan memang bukan jaminan dalam meraih kesuksesan. Akan tetapi, jika seseorang mampu memanfaatkan dan memaksimalkan kesempatan, bisa jadi ia akan sukses di masa depan.  Karena pada dasarnya kesuksesan tidak akan hadir jika mengandalkan kepasrahan.

Dalam upaya mengejar kesempatan tersebut, tentu banyak hal yang harus dilalui. Dengan berdiam diri menanti keputusan takdir bukanlah upayanya. Itu hanyalah angan-angan semata yang tidak akan menjadi realita. Lantas bagaimana upaya yang tepat?

Renungi, berpikir, berproses, kemudian wujudkan. Itulah garis besar dari upaya memanfaatkan kesempatan yang ada. Dulu saya selalu bertindak berdasarkan takdir yang ada. Ketika saatnya belajar, saya akan ikut belajar. Ketika teman saya pergi jalan-jalan, saya juga akan ikut jalan-jalan. Bisa dikatakan mengikuti apa yang semestinya akan terjadi.

Namun, di penghujung masa SMA, saya baru sadar jika hidup bukan sekedar bergantung pada takdir. Hidup harus terus berjalan. Selagi masih ada kesempatan untuk bertindak, maka harus dilakukan. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka diri saya dengan keluar dari zona nyaman.

Saya merupakan pelajar yang mengejar prestasi akademik, bahkan ikut lomba pun yang berkaitan dengan akademik. Sebagai contoh olimpiade kimia, IPA, dan Islami. Selain itu juga mengejar ranking paralel di jurusan MIPA. Tak heran jika saya terkesan serius dalam melakukan apapun, sehingga dirasa kurang bersosialisasi ataupun aktivis organisasi.

Kala itu, ada kesempatan di mana peluang non akademik menanti saya. Guru SMA saya mengajak untuk berkontribusi mengikuti perlombaan di bidang kepenulisan dan penelitian ilmiah. Dalam tim yang beranggotakan 2 orang, saya dan rekan kelas sebelah diminta untuk berkontribusi merealisasikan penelitian beliau. Saya yang notabene-nya tidak memiliki background keilmiahan merasa terbebani.

Guru saya selalu berkata ke saya jika ini merupakan sebuah kesempatan. Di mana seseorang belum tentu bisa mendapatkan kesempatan tersebut. Karena merasa jika guru saya percaya kami bisa mewujudkannya, maka kami pun menyetujui. Penelitian yang kami lakukan yaitu, meneliti manfaat dari daun mangga sebagai minuman kesehatan. Kami menyebutnya “Sirgolem” alias Sirup Godhong Pelem.

Hal yang kami lakukan pertama kali ialah membuat terlebih dahulu paper terkait Sirgolem ini. Mulai dari kandungan ilmiah, manfaat, cara pembuatan, pemasaran, dan lain sebagainya. Setelah menempuh beberapa kali revisi, akhirnya kami dapat menyelesaikannya. Singkat cerita, sampailah kami di tahap pengiriman tulisan tersebut.  

Sebelum mengirim tulisan ini, kami sudah sempat pesimis, merasa jika ini tak mungkin lolos. Mengingat pesertanya bukan hanya satu kabupaten, satu provinsi, ataupun se-Indonesia, melainkan dari berbagai negara. Bahkan pesertanya bukan hanya dari kalangan pelajar SMA, melainkan banyak dari kalangan mahasiswa. Bisa dibayangkan betapa pesimisnya kami kan?

Selagi ada kesempatan, coba aja dulu! Ya, itulah motivasi yang membuat kami yakin untuk terus melanjutkan kompetisi ini. Bisa dibilang dengan modal niat dan nekat, kami seorang pelajar SMA yang jauh dari hiruk pikuk kota ini berusaha membuka diri. Kami pun mengirimkan tulisan ini ke dua event sekaligus, yaitu di Thailand dan Malaysia.

Hari demi hari pun berlalu, begitupun dengan bulannya. Di tengah malam, ketika overthinking itu merajalela, teman saya sebagai perwakilan pun membuka pengumuman lomba tersebut. Betapa kagetnya ia ketika memperoleh E-mail dari INNOPA, sebuah lembaga yang menaungi inovator Indonesia di kancah internasional, menyatakan jika inovasi kami lolos tahap seleksi nasional, dan berhak melanjutkan seleksi di dua event sekaligus, yaitu World Young Inventors Exhibition dan Thailand Inventors’ Day.

Setelah lolos seleksi nasional, kami menjadi yakin jika kesempatan memang ada, khususnya bagi mereka yang mau merealisasikannya.  Walaupun harus disertai dengan revisi, membuat produk, poster, mengurus registrasi, hingga membuat paspor. Sebuah mimpi bisa naik pesawat ke luar negeri pun sudah di depan mata. Saat itu yang saya rasakan hanyalah senang, bangga, dan speechless pada diri sendiri.

Namun, mimpi itu dipatahkan oleh pandemi. Ketidakjelasan kondisi di berbagai belahan dunia saat itu berdampak pada penundaan event tersebut, sekaligus perubahan event menjadi online judging. Tangisan dan kekecewaan kami rasakan saat itu. Ya, mimpi di depan mata itu telah kabur kembali.

Kecewa boleh, tapi jangan berlebihan. Itulah yang guru pembimbing kami katakan kepada kami. Selama beberapa jam, kami diberi motivasi dan dukungan untuk bangkit menyelesaikan perlombaan tersebut. Akhirnya, setelah sempat terpuruk dalam kekecewaan, kami pun bangkit bahu-membahu menyelesaikan inovasi kami.

Di tengah padatnya pembelajaran daring, kami sang pemimpi bolak-balik ke sekolah demi inovasi. Membuat full paper dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, video presentasi produk, pembuatan poster baru, serta registrasi lainnya pun kami lakukan. Bersama rasa ikhlas dan overthinking yang kian memanas, kami kirimkan inovasi ini ke tahap selanjutnya.

Berdoa, kerjakan, kirim, dan lupakan. Ya, itulah yang kami lakukan kala itu. Tidak pernah terbesit dalam pikiran akan menjadi juara atau apapun itu. Kami cenderung pasrah dan pesimis.

Namun, bersama hembusan angin sore di bawah pohon mangga sekolah, saya membuka laptop dan menyaksikan pengumuman lomba. Tak lupa ditemani oleh camilan yang dibawa oleh guru pembimbing. Benar-benar raut muka pasrahlah yang tertera saat itu.

Tunggu-tunggu! kok itu ada nama dan inovasi kami? Nama sekolah kami? Ini benar atau sekedar prank belaka? Tertera jika Sirgolem memperoleh silver medal, berdampingan dengan negara tetangga. Saya pribadi pun tak percaya. Ketika guru saya merangkul dan memberikan kata “Selamat, Dek”, barulah air mata kebahagiaan itu muncul.

Dari pengalaman saya di atas merupakan salah satu buah dari memanfaatkan kesempatan. Kita sebagai seorang manusia yang dibekali akal pikiran harus mampu membuktikannya. Caranya dengan mencoba apapun itu yang dirasa bisa dilakukan. Terlebih jika mendapatkan kesempatan, di mana belum tentu orang lain merasakannya. Janganlah pesimis terhadap kesempatan. Ingatlah! kesempatan tidak datang dua kali untuk mereka yang tak punya ambisi.