Sektor ritel tidak mampu bertahan menghadapi pandemi dalam sistem kapitalisme.  Sektor ritel mengalami goncangan  yang luar biasa hingga menyeret sektor ritel ke titik nadir yang menyebabkan suatu ritel gulung tikar,  melakukan PHK massal dan penutupan seluruh gerai mereka.  

Daftar ritel yang tak mampu bertahan  diantaranya PT Hero Supermarket Tbk yang memutuskan untuk menutup seluruh gerai Giant di Indonesia di akhir Juli 2021. PT Tozy Sentosa, pengelola Centro Department Store dan Parkson Department setelah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berencana menutup gerainya.  PT. Matahari Department Store Tbk berencana menutup 13 gerai pada tahun ini. Dan,   PT Gramedia Asri Media, pemilik toko buku Gramedia memutuskan tak memperpanjang masa sewa di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat pada Oktober 2020 yang berarti gerai tersebut akan segera ditutup (economy.okezone.com, 29/05/2021).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan penutupan seluruh gerai Giant milik PT Hero Supermarket Tbk ini menandakan bahwa kondisi ritel modern kini berada di titik terendah tetapi harus beroperasi di tengah pandemi covid-19 yang belum usai. Walaupun peritel modern sudah sedemikian berupaya menggunakan dana cadangan, tapi tetap saja dana cadangan itu tidak mampu menahan biaya operasional. Dengan kata lain cost sudah lebih besar daripada pendapatan.

Jika ditelisik,  bisnis peritelan modern tidak terlepas dari pijakan sistem kapitalisme itu sendiri. Sistem kapitalisme menciptakan ekonomi gelembung (bubble economic) yang mudah pecah ketika dihadapkan dengan masalah termasuk menghadapi pandemi. Das Kapital, sebuah buku karya Karl Heindrich Marx  yang memberi catatan bahwa kapitalisme liberal itu adalah akumulasi kapital di tangan kaum kapitalis yang memungkinkan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, akan tetapi  sangat bias terhadap pemilik modal. Marx meramal bahwa suatu masa sistem kapitalis akan hancur, bukan disebabkan oleh faktor-faktor lain, melainkan karena keberhasilannya sendiri.

Sistem kapitalis dinilai Marx mewarisi daya self-destruction, suatu daya dari dalam yang akan membawa kehancuran bagi sistem perekonomian kapitalisme liberal itu sendiri (Hasbiullah,  2009.  Jurnal Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan).

Bisnis ritel modern beberapa nya termasuk berbiaya tinggi. Selain faktor biaya riil, faktor non-riil yang merupakan ciri utama kapitalisme menjadi penyebab.

Sebagai contoh, tingginya suku bunga pada usaha properti, menyebabkan spekulasi agar tingkat keuntungan yang berlebihan diambil oleh perusahaan- perusahaan properti di Amerika Serikat sehingga menambah semakin besarnya kredit macet yang terjadi. Adanya spekulasi yang tinggi menyebabkan munculnya ekonomi biaya tinggi (hight cost economy). Harga minyak yang mencapai 140 dollar AS per barelnya bukan karena adanya peningkatan pada permintaan atau turunnya penawaran tetapi disebabkan karena spekulasi (Hasbiullah,  2009. Jurnal Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan).

Pada masa normal,  ritel modern akan dapat meraup keuntungan berlipat akibat harga yang berdasar pada spekulan,  namun pada saat pandemi justru mereka harus terlilit dengan besar biaya operasional  yang harus dikeluarkan agar dapat menciptakan  harga dengan spekulan tersebut.

Dalam sistem ekonomi kapitalis, aktivitas ekonominya didasarkan pada mekanisme pasar yang bukan dipengaruhi oleh kekuatan permintaan dan penawaran tetapi lebih banyak disebabkan karena adanya estimasi yang berlebihan (spekulasi) dalam memperoleh keuntungan pelaku ekonomi terutama para kapitalis. Uang digunakan sebagai komoditi dan alat spekulasi dalam perekonomian melalui lembaga  perbankan.

Selanjutnya,  pasar modal dalam ekonomi kapitalis yang juga bersifat spekulatif,  tidak memberikan kontribusi terhadap sektor riil sehingga pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh pasar bursa menjadikan pertumbuhan ekonomi spekulan. Wajar ketika terjadi depresi ekonomi pemerintah  tidak dapat memberikan stimulus karena  angka pertumbuhan ekonomi berbeda dengan fakta. Sebagaimana Roy mengatakan penutupan gerai Giant menandakan peritel modern hingga kini belum mendapatkan insentif dari Pemerintah. Sehingga dana cadangan peritel modern habis ditambah produktivitas yang rendah (liputan6.com, 25/05/2021).

Adanya kompetisi dalam dunia bisnis  antar perusahaan adalah kata kunci globalisasi perdagangan dalam kapitalisme.   Keberadaan sektor online pada hari ini menjadi raksasa baru dalam dunia pemasaran menggeser pemain lama. Gelombang bisnis online yang memenangkan masyarakat akhirnya akan menjadi pemenang kompetisi. Memang dinamisasi perdagangan harus cepat dikenali dan disesuaikan oleh pengusaha. Namun,  kadang kala kompetisi bukan lagi perusahaan dengan perusahaan  melainkan perusahaan  berhadapan dengan negara dengan adanya pasar bebas. 

Adanya pasar bebas, ekonomi satu
negara tidak lagi bersifat tidak terpengaruh oleh ekonomi negara lain. Akibatnya ekonomi suatu negara terutama negara berkembang sangat tergantung pada ekonomi negara lain terutama pada ekonomi negara-negara kuat seperti
Amerika Serikat. Namun,  negara-negara kuat tersebut juga penting menjaga daya masyarakat untuk menopang mereka kembali. 

Ambruknya sektor ritel tentu akan mengurangi kestabilan ekonomi  masyarakat yang dengan itu mengganggu jalannya ekonomi  kapitalisme itu sendiri. Oleh karena itu, kolapsnya sektor ritel adalah kolapsnya ekonomi  kapitalis. Kolapsnya ekonomi  kapitalis menandakan ekonomi  kapitalis rentan terhadap goncangan karena rapuhnya pijakan dan asas ekonomi ini.