Mimpi buruk dalam tiap hubungan baik itu dalam komitmen jangka pendek maupun jangka panjang tak lain adalah kekhawatiran akan munculnya pihak ketiga yang bisa hadir dari pihak pria maupun wanita.

Selama berabad-abad kaum pria lekat sebagai sosok yang paling tak bisa memegang komitmen berbanding terbalik dengan wanita yang digambarkan sebagai lambang sikap setia dan pengabdian. Dan kepercayaan ini begitu subur mengingat sejarah-sejarah panjang kaum pria yang tak pernah bisa melepaskan sosoknya dari kehadiran kaum wanita.

Pria-pria perkasa yang dikenal paling hebat dalam sejarah tak mampu hanya memperistri seorang wanita. Contoh saja, Sultan Ottoman yang memiliki Harem yang digunakan khusus sebagai tempat bernaung para perempuan yang melayaninya dari beragam kasta. Kaisar Cina pun tak kalah ekstrim dalam mengumpulkan koleksi selir. Bahkan kisah paling fenomenal menyebut Nabi Sulaiman memiliki ratusan istri sedangkan Alexander agung mengumpulkan wanita maupun pria untuk melayaninya.

Keharusan pria memperistri banyak wanita terutama di kalangan para penguasa tak lain disebabkan kewajiban untuk memperoleh keturunan demi melanjutkan silsilah keluarga sekaligus melanggengkan kekuasaan. Perang berkepanjangan dan kondisi politik yang tidak stabil dalam pemindahan kekuasaan membuat kaum pria rentan mengalami masa hidup yang lebih pendek akibat perebutan takhta baik dalam tingkat internal maupun eksternalnya.

Namun, dominasi seksual ini tak hanya melulu dinikmati lingkup para raja. Bangsawan, pria-pria kaya dengan harta berlimpah pun mampu mengumpulkan para wanita yang diperoleh sebagai budak rampasan perang maupun belian.

Seiring berjalannya waktu, di mana era modernisasi sepenuhnya menghapuskan perbudakan dan poligami dianggap sebagai ketabuan dalam masyarakat yang monogami pun tak sepenuhnya berhasil mematahkan kebiasaan pria untuk hidup dengan lebih dari satu wanita. Baik yang dilakukan dengan legalitas maupun ilegal.

Pria-pria yang mapan dengan status ekonomi yang berada di atas kelompok masyarakat kebanyakan memiliki akses lebih besar untuk memilih dan memiliki lebih dari satu wanita sebagai pendamping.

Dan kebutuhan akan kepemilikan ini tak selalu disebabkan emosi yang dipengaruhi perasaan namun bisa pula didasari hanya sebatas kebutuhan seksual sebab satu wanita dianggap kurang memuaskan maupun kurang layak.

Alasan bahwa seorang wanita tak lagi menarik, tak cukup cantik, tak cukup pengertian, tak mengerti secara emosional, tak memuaskan di ranjang sering menjadi dalih para pria demi melanggengkan praktek perselingkuhan mereka. Sedangkan para wanita yang menjadi simpanan lebih sering diposisikan sebagai bahan pemuas nafsu belaka yang cukup ditaklukkan dengan kehadiran materi.

Para pria kemudian hanya menganggap hubungan dengan wanita tak lebih sebagai partner dalam barter seksual dan materil baik yang dilakukan secara resmi maupun tak resmi.

Kaum pria dan seksualitas yang mereka agungkan lebih sering menjadikan perempuan sebagai korban alih-alih memposisikan mereka sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat yang sama. Mereka menindas wanita dalam ranah seksual mereka, memperbudak, mengontrol, mengatur kewajiban, tak memberi ruang atas penolakan maupun menghindarkan wanita atas kontrol terhadap kehidupan seks yang mereka kehendaki.

Wanita yang menolak hubungan seksual dianggap tak berbakti, tak patuh, bersalah. Dan kesalahan mereka dianggap pantas diganjar dengan perselingkuhan dengan perempuan lain. Status sebagai istri resmi nyatanya tak memberi jaminan rasa aman bagi wanita sebab pada akhirnya mereka hanya dijadikan boneka seks belaka yang statusnya hanya dijaminkan lewat pemenuhan hubungan di atas ranjang dengan mengabaikan emosi mereka dan kebutuhan akan cinta.

Perempuan yang berselingkuh akibat kurangnya keintiman emosional dan cinta lebih mudah dianggap hina. Sementara pria yang melakukan perselingkuhan disebabkan kurangnya kepuasan tak perlu bersusah payah bergulat dengan kejamnya stigmatisasi negatif masyarakat. Luapan seksualitas mereka yang tak terkendali dianggap kewajaran dan para wanita yang berstatuskan sebagai istri kerap kali menjadi pihak yang paling disudutkan sebab dianggap telah gagal menjalankan peran sebagai istri yang tak mampu menjadi satu-satunya tempat pemuasan hasrat bagi pasangannya.

Fase transisi wanita; hamil, nifas, menyusui, menstruasi, menepouse seringkali dianggap sebagai bentuk kekurangan, alih-alih menganggapnya sebagai metamorfosis biologis keras nan sulit yang untuk melaluinya pun diperlukan kerja keras dan penyesuaian diri yang tak mudah.

Perubahan suasana hati akibat dari pengaruh hormon tak pernah mendapat perhatian lebih. Ia hanya dianggap sebagai sebuah bentuk keharusan belaka sebab wanita yang kadung lekat dengan sosok yang lemah dan terbatas yang terperangkap dalam tubuh biologis yang rentan dan membatasi langkah mereka dibandingkan kaum pria yang tak perlu melewati fase-fase perubahan serupa.

Sulitnya hidup dan beratnya peran sebagai wanita tidak serta-merta membuatnya berada dalam posisi yang mendapat penghormatan tinggi. Sebaliknya kaum wanita lebih sering menjadi korban penindasan kesewenang-wenangan kaum pria demi memperoleh kesenangan badaniah. Pengorbanan yang berada di luar hal tersebut hanya dianggap sebagai tugas wajib yang bahkan luput mendapat ujaran terimakasih.

Rendahnya pengakuan atas kerja keras dan pengabdian kaum wanita tak bakal dengan mudah berubah sebab dunia yang dikuasai keganasan maskulinitas lelaki masih mengecilkan wanita. Memandangnya tak lebih dari objek yang bertujuan memanjakan alih-alih menganggapnya sebagai manusia yang setara dan patut untuk diperlakukan dengan jalan yang sama adilnya. Dan tak lagi mengidentikkannya dengan salah satu peran penghias rumah belaka, apalagi hanya sebagai pemuas hasrat kaum pria layaknya yang selalu diimajinasikannya dalam malam pertama.