Jika seseorang berorientasi gay, mencari Tuhan, dan memiliki niat baik, apa saya punya hak untuk menghakimi mereka? – Paus Fransiskus

Pernyataan lembut ini sungguh menampar keras nurani saya. Tamparan yang membawa kesadaran baru bagi peziarahan batin. Kesadaran yang membangkitkan rasa manusiawi kepada kaum LGBT yang selama ini dianggap berbeda, padahal kita sama. Kita sama-sama makluk berharga yang diciptakan Tuhan dan kita memuliakannya.

Namun, kenapa saat mereka (LGBT) hendak menyembah Tuhan pun, ada manusia lain yang malah mengusik dan berusaha meluluhlantakkan persatuan iman?

Begitulah saya mendengar sebuah kisah yang berceritera bahwa pesantren yang didirikan oleh Maryani diketahui bernama Pesantren Al Fatah, ditutup paksa, karena mereka terdiri dari kaum waria. 

Hati kecil saya berbisik, jika kita memang insan yang penuh ajaran cinta kasih, maka selayaknya kita mengulurkan tangan dan memeluk saudara kita yang sedang jatuh ke dalam lubang. Kita berusaha memberinya cahaya bukan malah semakin meninggalkannya sendirian dalam gelap.

Kenyataan ini membawa saya ke dalam permenungan. Jika Allah Tuhan kita, dalam penciptaan, mengambil resiko membuat kita berbeda dan merdeka, siapakah saya untuk campur tangan? 

Kita mengutuk usikan spiritual yang terjadi ketika seorang pemimpin memaksakan aturan-aturan, perilaku, dan dengan demikian menuntut bahwa itu merampas kemerdekaan orang lain. 

Allah membiarkan kemerdekaan untuk berdosa di tangan kita. Manusia harus berbicara dengan sangat jelas tentang nilai-nilai, batas, perintah, tetapi pengusikan spiritual dan agamawi tidak diizinkan. 

Saya tergelitik akan fenomena kolom agama yang terdapat pada kartu tanda penduduk (KTP). Pada kolom tersebut, masyarakat harus mengisi satu dari enam agama yang sah dan dilindungi UU pemerintah Indonesia yaitu Islam, Buddha, Hindu, Kristen, Katolik, dan Khonghucu. 

Di luar daripada itu, kepercayaan asli nusantara, misalnya parmalim di Sumatera Utara, tidak diakui keberadaannya. Akibatnya, para penghayat kepercayaan diminta mengosongkan kolom agama di KTP-nya.

Muncul beberapa kasus akibat kosongnya kolom agama itu. Salah satunya adalah sulitnya mengurus dokumen kependudukan. Diskriminatif, bukan?

Inilah yang harus kita pahami bahwa kaum LGBT mempunyai haknya untuk mengatakan bahwa baik Allah maupun kodrat membuatnya seperti apa adanya sekarang. 

Namun, kiranya kita perlu pula penegasan bahwa benar manusia diciptakan hanya terdiri dari dua jenis kelamin, yakni wanita dan pria. Namun, konstruksi masyarakat pada hal tersebut (gender) membawa manusia ke dalam pengakuan akan sebuah keberagaman seksualitas.

Salah satu bukti kekayaan keragaman gender dalam kebudayaan Indonesia ada di Sulawesi Selatan. Di sana terdapat lima gender, yakni adalbura’ne (laki-laki), makunrai (perempuan), calabai (waria), calalai (tomboi), dan bissu calabai

Sejarah mencatat keberadaan calalai dan calabai diterima di tengah masyarakat. Ini adalah sebuah bukti toleransi gender di masyarakat Sulawesi Selatan.

Begitulah, saudara, pengakuan dan toleransi itu muncul dari sikap mau menyadari, memahami, dan menghargai. Demikianlah perbedaan orientasi seksual sebagai satu aspek penting untuk disikapi secara bijaksana selain perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan.

Menolak Perilaku, Mendoakan Pelaku

Kembali ke pokok yang sekarang di mana fenomena LGBT dianggap sebagai wabah penyakit oleh masyarakat kita. Ya, seperti yang saya ketahui agama salah satu lembaga sosial yang menolak LGBT, sebagaimana Yudaisme melarang hubungan seksual antara dua orang laki-laki.

Kata-kata yang tepat yang digunakan oleh kitab suci ialah bahwa orang tidak boleh mempunyai relasi bersama dengan cara yang sama seorang laki-laki mempunyai relasi dengan perempuan. 

Itulah dasar bagi posisi apa pun yang diambil pada persoalan ini. Sejak dahulu, cita-cita manusiawi adalah persatuan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Hukum Yahudiah jelas–homoseksualitas tidak diizinkan. 

Pun saya seorang katolik diberi ajaran serupa hukum Yahudiah dan lebih mengambil sikap menghormati setiap orang sejauh mereka adalah sopan dan menjaga hidup pribadi mereka untuk diri mereka sendiri. Tak lupa sambil melaksanakan perutusan cinta kasih, yakni panggil pulang mereka yang sesat.

Melawan Gravitasi

Sekiranya perlulah digarisbawahi sekali lagi bahwa kaum LGBT mempunyai hak untuk mengatakan bahwa baik Allah maupun kodrat membuatnya seperti apa adanya sekarang. Pun setiap orang memiliki hak untuk setuju atau tidak setuju terhadap keberadaan LGBT. 

Hal ini berkaitan dengan hak asasi manusia di mana pokok persoalan, yakni ketika ketidaksetujuan tersebut berlanjut ke tindak kekerasan dan penyebaran kebencian. Saya pernah membaca, bukankah dalam Al Quran tegas dikatakan “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang bertakwa”?

Menjadi seorang yang melawan gravitasi (LGBT) merupakan perkara yang tidak mudah karena harus berhadapan dengan berbagai macam konsekuensi yang sebagian besar berseberangan dengan nilai-nilai yang diyakininya.  

Tidak dipungkiri kecaman, hinaan, hujatan, dan kekerasan akan selalu diterima oleh mereka selama wacana mengenai kebenaran aturan heteroseksual diproduksi terus menerus tanpa dibarengi sikap yang jelas terhadap keragaman seksual. 

Keterbukaan bagi seorang homoseksual adalah hal yang sulit dilakukan. “Bagai makan buah simalakama”, kebanyakan dari mereka lebih bersembunyi dalam topeng yang semu. Kenapa kita tak coba memaknai apa yang terjadi di balik topeng mereka? 

Yang saya tahu, setiap manusia memiliki hati, maka perkataan dan perbuatan kita bisa saja terlupakan, tetapi bagaimana kita memperlakukan orang lain akan terpatri selamanya. Ingatlah, “Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan”, sebuah nilai kehidupan yang tak pernah usang.

Membangun Jembatan

Stigma yang ditujukan kepada homoseksual pada dasarnya adalah pelabelan sepihak akibat dari wacana heteronormativitas yang diproduksi terus menerus tentang homoseksual yang selalu dinilai berdasarkan penyimpangan seksualitasnya. Jika dibiarkan demikian, maka sikap dan perilaku diskriminatif di Indonesia adalah perjuangan sepanjang hayat. 

Kita tak menyadari betapa banyak dinding yang kita bangun atas dasar keegoisan semata. Kita berbeda namun bukan berarti kita tak bisa bersama. Mari mengakui dalam hidup sehari-hari ada banyak halangan yang merintangi kita dan mereka: misinformasi, gosip, prasangka, fitnah, hujat. 

Semua kenyataan ini membangun suatu sensasionalisme kultural tertentu yang menghilangkan setiap kemungkinan akan keterbukaan kepada orang lain. Sehingga jembatan untuk mempertemukan selalu gagal.

Sudah saatnya merobohkan dinding pembeda dan membangun jembatan di antara kita dengan cara berdialog yang nyata. Dialog lahir dari suatu sikap penuh hormat terhadap orang lain, dari suatu keyakinan bahwa orang lain mempunyai sesuatu yang baik untuk dikatakan. 

Itu mengandaikan bahwa kita dapat membuat tempat dalam hati kita untuk sudut pandang mereka, pandangan mereka, dan usul-usul mereka.

Dialog mengandung penerimaan hangat dan bukan penghukuman lebih dahulu. Untuk dialog, seorang harus tahu merendahkan pertahanan, membuka pintu rumah seseorang dan menawarkan kehangatan. 

Seorang filsuf St. Thomas Aquinas menjadi teladan. Saya melihat bahwa beliau selalu berangkat dari menempatkan dirinya sendiri di dalam posisi dari lawannya untuk memahami mereka; ia berdialog dari sudut pandang orang lain.

Saya Indonesia, Saya Pancasila, dan kita negara demokrasi bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika. Ingatlah, dalam demokrasi, segala sesuatu harus dipecahkan dengan saluran hukum dengan cara debat yang tulus, saling menghormati, dan meluas. Setiap pihak harus menjelaskan dalam cara yang mencari dasar yang sama dengan lawannya untuk sampai pada pertimbangan yang berhasil berdasar pada pertaruhan yang saling menguntungkan. 

Sebagai warga negara yang menganut paham demokrasi dengan kebhinekaannya, maka perlu solusi sikap dewasa dalam menghadapi fenomena keberagaman seksualitas supaya tidak ada pihak yang dirugikan dan tentu saja sikap yang disesuaikan terbaik dengan norma yang berlaku di Indonesia.