Kehidupan Manusia sangatlah kompleks, berbagai pengalaman pun telah banyak manusia lalui. Oleh sebab itu, manusia memiliki akal budi yang dapat ia gunakan untuk berpikir dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, manusia memiliki perasaan yang dapat mempengaruhi setiap apa yang ia kerjakan. Hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya.

Manusia juga disebut sebagai makhluk sosial, karena ia membutuhkan manusia lainnya pula. Manusia memiliki relasi yang erat dengan manusia lainya. Maka, manusia memiliki naluri untuk berelasi dan dengan pembahasan kali ini mengenai seksualitas, dan keluarga, manusia diajak untuk semakin menyadari bahwa dirinya ialah pribadi yang kompleks dengan segala kecerdasan yang mumpuni.

Maka, berbicara mengenai seksualitas, bukan hanya mengenai hubungan seksual ataupun hasrat seks saja, melainkan juga dipahami sebagai jenis kelamin. Seksualitas manusia juga sebuah realitas pribadi yang indah dan kompleks. Maka seksualitas manusia harus diphami secara benar dan universal sehingga mampu mensubjekkan manusia lainnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan bukan dijadikan sebagai objek sehingga seksualitas mampu melengkapi manusia.

Filsafat manusia memandang seksualitas sebagai hal yang suci. Dalam buku Yepes Stork dijelaskan bahwa seksualitas dipandang sebagai hal yang indah dan suci. Maka, ia menggambarkan seksualitas sebagai puzzle yang mana puzzle ialah potongan-potongan dari suatu gambar yang kemudian menjadi satu. Potongan-potongan tersebut diibaratkan sebagai laki-laki dan perempuan, lantas mereka disatukan atas nama perkawinan suci.

Yepes Stork menjabarkan seksualitas dalam 4 bagian elemen: 1) perbedaan kelamin, 2) laki-laki dan perempuan saling tertarik dan melengkapi, 3) memiliki dimensi sosial dalam keluarga dan bermasyarakat dan 4) adanya kebebasan dan cinta yang saling menyatu. Pada elemen pertama dijelaskan bahwa manusia memiliki perbedaan kelamin antara laki-laki dan perempuan sedari manusia itu lahir dimana mereka memiliki karakter yang paling mendasar yaitu unsur biologis (organ tubuh) yang mana masing-masing organ tubuh ini akan mempengaruhi kehidupan mereka kedepannya. Yepes Stork menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki sisi maskulinitas dan feminitas. Sisi maskulinitas dan feminitas harus seimbang, sebab 2 sisi ini dianggap lebih mendalam.

Elemen kedua, laki-laki dan perempuan memiliki rasa jatuh cinta dan menumbuhkan rasa ketertarikan dan mereka juga saling melengkapi diantara kelemahan dan kelebihan yang mereka punya. Sebab, laki-laki dan perempuan memiliki peran masing-masing yang mana peran tersbut berbeda, tetapi dalam kesatuan cinta, mereka akan saling melengkapi.

Elemen ketiga ialah apabila manusia telah mengucapkan janji pernikahan yaitu adanya dimensi sosial dalam keluarga dan bermasyarakat. Laki-laki dan perempuan yang telah dipersatukan oleh pernikahan mereka memiliki potensi untuk berkembang dalam keluarga maupun masyarakat. Sebab dengan menikah, pasangan suami-istri mempunyai tugas untuk membawa kehidupan yang baru ke dunia dan menjadi berkat bagi sesama dalam masayrakat. Oleh sebab itu, dalam bukunya, Yepes Stork mengatakan bahwa membuat keluarga yang berhasil ialah tugas utama dan mendasar dari manusia untuk saling melengkapi.

Elemen yang keempat ialah bahwa cinta itu bebas. Cinta itu tidak memiliki paksaan, maka tidak akan ada cinta abadi tanpa adanya kebebasan. Hal ini didasari pada pasangan laki-laki dan perempuan apabila tidak dilandasi oleh cinta yang tulus, maka pasangan tersebut tidak akan merasakan keharmonisan dalam keluarga. Oleh sebab itu, cinta yang tulus tanpa syarat akan mendukung keluarga yang harmonis. Dengan keluarga yang harmonis, maka keluarga akan dapat menyejahterakannya, membangun perekonomian yang maksimal sehingga mampu membentuk dimensi sosial yang baik.

Maka, seksualitas manusia dipandang sebagi hal yang suci. Seksualitas digambarakan juga sebagai pewarnaan terhadap dunia ini, sebab seksualitas saling melengkapi antara laki-laki dan perempuan yang dapat mengekspresikan dirinya masing-masing untuk bentuk penghargaan terhadap satu sama lainnya. Hal ini disebabkan karena seksualitas ialah bentuk integral atau penyatuan cinta manusia yang mendasar yang tidak mengobjektivitaskan orang lain. Maka cinta yang baik ialah cinta yang agape atau cinta yang tulus/abadi bukan sebagai cinta yang eros, yang hanya mengobjekkan tubuh semata sesaat saja yaitu dalam ikatan perkawinan yang suci.

Sehingga laki-laki dan perempuan dalam membangun keluarga berencana ialah bukan hanya mengenai 2 anak cukup, tetapi lebih mendalam lagi yang dimaksud dengan keluarga berencana di mana, laki-laki dan perempuan sebelum mengucapkan janji perkawinan haruslah matang terhadap segala hal. Matang memikirkan jumlah anak, bagiamana membangun stabilitas keuangan, memikirkan pendidikan anak.

Untuk dapat mencapai seperti itu, harus memahami konsep seksualitas sebagai bentuk pemberian diri. Memandang seksualitas yang sehat, utuh dan integral untuk tujuan kehidupan berkeluarga. Sehingga konsep seksualitas ialah pemberian diri berarti memberikan diri seutuhnya untuk keluarga, masyarakat dalam bentuk pelayanan dan mendorong manusia untuk terus memperjuangkan hidup perkawinannya.


SUMBER:

Leahy, Louis, Manusia Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis Tentang Makhluk Paradoksal, Jakarta: Gramedia, 1984.

Prasetyono, Emanuel, Dunia Manusia Manusia Mendunia, Sidoarjo: ZifaTama, 2013.

Stork, Ricardo Yepes, Fundamantos de Antropologia: Un Ideal De La Exelencia Humana, Pamplona: Indiciones Universad de Navarra, S.A, 1996.