Researcher
3 bulan lalu · 51 view · 4 menit baca · Perempuan 85640_32397.jpg

Seksisme Sains di Sekolah Islam

Agenda yang tertuang dalam SDGs (Sustainable Development Goals) 2030, bahwa salah satu mandat dalam wacana kesetaraan gender adalah pentingnya perempuan, remaja perempuan, dan anak-anak perempuan untuk menguasai sains.

Disisi yang lain, masyarakat muslim mengalami pertumbuhan kesalehan sosial dalam berbagai lini kehidupan. Semuanya menggunakan ”jargon” Islam sebagai manifestasi keimanan masyarakat Indonesia. Dari sekian kebangkitan Islam masyarakat muslim Indonesia tersebut, ada satu hal yang terlupakan, yaitu kebangkitan literasi sains untuk semua jenis kelamin.

Menurut Max Weber, etika keagamaan bisa mendorong perilaku keduniaan. Artinya, kebangkitan kesalehan sosial masyarakat muslim Indonesia baik laki-laki maupun perempuan ”seharus”nya dan selayaknya berbarengan dengan kebangkitan literasi sains untuk anak perempuan dan laki-laki.

Adanya kesenjangan sains itu dapat dilihat pertama kalinya dalam sistem pendidikan sains di sekolah-sekolah Islam. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Indonesian Consortium for Religiuous Studies (ICRS) bekerjasama dengan USAID dan National Academi of Sains pada bulan Januari-Juli 2017 dengan objek penelitian di sekolah-sekolah Islam.

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa ”Kepala sekolah, guru dan orang tua memberikan ”ruang” perbedaan sains kepada anak laki-laki dan kepada anak perempuan. Pertanyaanya kemudian adalah, mengapa demikian?.

Seksisme Sains 

Perbedaan jenis kelamin secara biologis selalu menjadikan salah satu pihak diperlakukan tidak adil dalam berbagai lini kehidupan, baik itu politik, ekonomi, sosial dan budaya. Argumentasi ”kodrat” (given) menjadikan perempuan selalu berada dalam posisi kedua setelah laki-laki.


Sedangkan laki-laki diposisikan dalam ruang pertama di publik. Akibatnya muncullah kemudian penempatan kerja bahwa laki-laki berada dalam wilayah publik dan perempuan berada dalam wilayah domestik.

Penempatan perempuan dalam wilayah domestik dan laki-laki berada dalam wilayah publik akhirnya menjadi sesuatu yang terbakukan dan menjadi begitu apa adanya. Padahal menurut kajian Nunuk Murniati, bahwa dahulu masyarakat pra-agrikultur, perempuan memegang posisi yang setara dengan laki-laki. Namun kemudian berubah ketika telah terjadi adopsi pertanian yang menetap. Dan kemudian laki-laki mulai melembagakan konsep bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki.

Pelembagaan tersebut lama-kelamaan menjadi semacam budaya yang turun-temurun. Akibatnya, budaya patriarkhi hingga kini menjelma dalam berbagai lini kehidupan perempuan terutama dalam kepemilikan sains. Kepemilikan sains yang hanya berpihak kepada laki-laki inilah kemudian yang disebut dengan istilah seksisme sains.

Seksisme merupakan suatu bentuk prasangka dan bersifat diskriminatif kepada kelompok lain hanya karena perbedaan gender atau jenis kelamin. Seperti yang dikutip oleh Nadiatus Salama, bahwa seksisme yang ambivalen, mencerminkan sesksisme jahat sehingga orang yang berpandangan demikian akan memiliki perasaan yang negatif dan kekecewaan yang mendalam terhadap perempuan.

Tetapi disisi yang lain, orang tersebut juga memiliki seksisme baik yang diwarnai dengan sikap afeksi, rasa hormat dan kagum secara bersamaan. Ironisnya, masyarakat yang tidak mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan dalam bidang sosial, ekonomi dan politik lebih cenderung untuk memperlihatkan seksisme ambivalen yang tinggi.

Dampak yang lebih luas, sikap seksisme yang ambivalen ini kemudian berimplikasi kepada perempuan dalam berbagai ranah dan lini kehidupan perempuan. Seperti misalnya dalam konteks pendidikan sains, anak perempuan sejak kecil terdiskoneksi oleh sains.

Mengutip pandangan Dewi Candraningrum, Bahwa sains adalah milik laki-laki dan bukan milik perempuan. Padahal seharusnya, sains itu bebas nilai.

Judy Wacjman menegaskan bahwa perempuan jika ingin menguasai sains harus membongkar batas-batas yang terdiri dari simbol dan nilai-nilai maskulin, dan menurut Judy Wacjman pembongkaran batas tersebut sangatlah sulit. Dengan demikian, jika sains sejak kecil di dominasi oleh anak laki-laki, ini artinya sains adalah simbol laki-laki dan memiliki nilai-nilai yang hanya berpihak kepada laki-laki.


Dominasi nilai-nilai maskulin dalam pengetahuan sains dikritik oleh Donna Jeanne Haraway dengan menciptakan sebuah metafora Cyborg yang kemudian menginspirasi lahirnya banyak karya science-fiction baik dalam narasi verbal (seperti novel, cerpen dan puisi) maupun narasi gambar bergerak (seperti film).

Haraway memberikan argumentasi tentang pemilihan metafora cyborg. Haraway ingin menjelaskan bahwa Haraway melihat jika perempuan selalu berada dalam ladang ironi, tempat yang paradoks, dan seperti sebuah sirkuit yang sulit perihal dipersatukan menempel di tubuh perempuan.

Sebagai sebuah ironi, perempuan merupakan gabungan dari humor dan permainan yang serius. Karenanya, Cyborg merupakan salah satu strategi retorik dan alat politik yang meyakinkan untuk melakukan sebuah ”perlawanan” atas aturan-aturan yang tidak adil, bias dan misoginis, terutama dalam lingkup pengetahuan sains.

Sains Untuk Perempuan 

Diskriminasi berdasarkan jenis kelamin merupakan hal yang sangat buruk dan berlawanan dengan etika keilmuwan bahwa ilmu untuk semua jenis kelamin. 

Namun prilaku seksisme sains menjalar dalam semua lini kehidupan masyarakat tanpa disadari, bahwa pembedaan dalam hal apapun, terutama pembedaan pemberian dan perlakuan anak perempuan dan anak laki-laki dalam sains dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan begitu adanya.

Oleh karena itu, untuk meminimalisir kondisi buruk demikian, dibutuhkanlah sinergi antara semua elemen dan semua pihak baik pemerintah, kepala sekolah, guru, orang tua dan masyarakat bahwa anak perempuan berhak untuk menguasai sains dan tekhnologi.

Kemudian, peneliti-peneliti sains perlu ditumbuhkan dan di dorong untuk terus melakukan riset agar ilmu pengetahuan responsif gender. Banyaknya penempatan perempuan yang bergelut di dunia sains dengan sendirinya akan mengikis paradigma masyarakat tentang perempuan sebagai makhluk pelengkap laki-laki.


Disamping itu juga menciptakan keadilan dan kesetaraan dalam tataran ilmu pengetahuan, sains dan tekhnologi. Upaya-upaya yang demikian, merupakan salah satu cara bagaimana mengurangi defisit anak perempuan dalam dunia sains dan tekhnologi. 

Sehingga amanat Pancasila sila ketiga ”Kemanusiaan yang adil dan beradab” dapat dimaknai bahwa keadilan tidak hanya keadilan dalam tataran bersosial, tapi keadilan juga dimaknai dalam keadilan berpengetahuan sains. Sehingga sains tidak hanya dikuasai oleh laki-laki, tapi juga dikuasai oleh perempuan.

*Dalam bentuk prosiding, tulisan ini telah dipresentasikan di acara The 17th Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) tahun 2018 di Jakarta Indonesia.

Artikel Terkait