Belum lama ini publik dikejutkan dengan berita pernikahan dini putra Ustaz Arifin Ilham, Muhammad Alvin Faiz (17) dengan kekasihnya Larissa Chou (19) yang berlangsung pada tanggal 5 Agustus 2016 di masjid Az-Zikra, Bogor. Pernikahan Alvin dan Larissa digadang-gadang sebagai pernikahan yang menginspirasi banyak anak muda. 

Netizen sedang ramai-ramainya memuji sang motivator muda, Dek Alvin. (Iya, Dek, saya panggil demikian karena saya lebih tua lima tahun dari dia). Ia dipuji karena mengambil keputusan menikah di umur belia plus bisa menuntun Larissa dan keluarganya hingga memeluk agama Islam.

Saya ingin menyampaikan kesan dan pesan saya kepada Dek Alvin, istri dan Dek Alvin lovers di seluruh dunia. Bahwa sesungguhnya: atas pernikahan yang sudah telanjur, saya mengucapkan selamat menempuh hidup baru; semoga pernikahannya langgeng dan bahagia. 

Alhamdulillah juga Dek Larissa memilih Islam dengan kesadaran diri yang tinggi tanpa ada paksaan, meski harus melalui proses perdebatan soal agama, terlebih soal poligami. Setidaknya demikian hasil stalking yang saya lakukan. Semoga tetap istikamah dalam agama Islam. Semoga kuat dan tabah jika suatu saat dipoligami sama Dek Alvin, sebagaimana tuntunan ayah Dek Alvin, “poligami demi taat hukum (Islam).”

Perlu diketahui Dek Alvin, istri, juga pengikut bahwa di dunia ini banyak jomblo deadliner yang kemecer bisa nikah semuda dan semudah Dek Alvin. Tapi apalah daya, banyak hal yang menghambat niat mereka. Calon tidak tersedia dan nggak ada ongkos adalah kendala besar dalam menjalankan sunah Rasul tersebut. 

Pernikahan Dek Alvin dan Dek Larissa menginspirasi netizen. Teman-temanku di pondok juga tak mau kalah. Puji-pujian membumbung tinggi untuk Dek Alvin. Mereka juga mau dihalalin seperti Dek Larissa. Seolah-olah Dek Alvin adalah the real man and gentleman dibanding calon-calon mereka yang tak kunjung melamar.

Niat Dek Alvin menikahi Dek Larissa memang bagus. Selain untuk menjaga diri dari zina, Dek Alvin juga berniat dakwah menegakkan agama Allah. Bukan begitu? Saya kira begitulah. 

Tapi perlu diingat, niat bagus juga harus diwujudkan dengan cara yang baik pula. Mengingat banyak hal yang melingkupi diri dan kehidupan kita. 

Saya tidak hendak mengatakan pernikahan Dek Alvin dan Dek Larissa adalah suatu yang buruk, tidak. Saya tidak ingin dianggap menentang sunah Rasul. Tapi pertimbangkanlah banyak hal. Beragama tidak bisa dilakukan secara tekstual, tetapi harus dikontekskan dengan keadaan zaman sekarang.

Saya agak tidak setuju dengan alasan Dek Alvin untuk menikah, mengutip alasan Dek Alvin, “Kita bisa melihat kejadian sekarang, anak muda banyak yang pacaran dan melakukan seks bebas untuk mencari kebahagiaan. Fitrah manusia memerlukan pasangan, baik hati maupun fisik. Nah, daripada melakukan yang dilarang agama, kenapa tidak menikah saja? Dalam Islam ada dua prinsip: tinggalkan atau halalkan."

Sangat disayangkan pernikahan muda Dek Alvin ini jika alasannya demikian. Pernikahan sejatinya adalah perkara yang agung, bukan soal nafsu dan soal fitnah.

Nikah tidak segegabah itu. Bukan soal melegalkan seks semata. Ada misi yang ingin dibangun dan dicapai kedua mempelai dalam sebuah pernikahan. Membangun keluarga yang maslahah, tentunya untuk membahagiakan diri dan orang-orang di sekitarnya. Dan itu semua tidak bisa dilakukan dadakan, sebab pernikahan bukan tahu bulat, digoreng dadakan lima ratusan. Gitu yes..! Dibutuhkan kesiapan fisik, mental,juga finansial.

Lantas apa yang salah dengan pernikahan Dek Alvin? Seperti yang saya bilang, ini soal ketepatan waktu dan soal Dek Alvin sebagai public figure. Pernikahan Dek Alvin ada di waktu yang tidak tepat. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 ayat (1) menyatakan bahwa pernikahan hanya diizinkan jika pihak laki-laki sudah mencapai 19 tahun dan pihak wanita 16 tahun. 

Seharusnya, menurut aturan negara, Dek Alvin belum bisa melakukan pernikahan karena masih di bawah umur, masih 17 tahun. Tetapi negara juga dilema soal batasan umur. Banyak kondisi yang mendesak sehingga negara memberi jalan pintas untuk mereka yang tidak memenuhi batasan umur dengan dispensasi kawin. Biasanya hal ini dilakukan jika ada alasan yang mendesak, seperti MBA (married by accident) misalnya.

Namun begitu, adanya dispensasi kawin dianggap sebagai kemunduran, sebab Indonesia telah meratifikasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (Committee on the Elimination of Discrimination against Women/CEDAW). 

Tentunya kebijakan dispensasi pernikahan mencederai konvensi CEDAW, dalam hal ini perempuanlah yang paling sering menjadi korban dan dirugikan. Hemat saya, sejauh ini belum ada alasan yang mendesak bagi Dek Alvin untuk menikah sedini itu. Toh juga Dek Larissa tidak hamil, sehingga tidak menuntut tanggung jawab lebih kepada Dek Alvin. 

Sejauh pengetahuan saya, Dek Alvin menikah didasarkan pada alasan agama, lebih tepatnya menghindari fitnah dan takut melakukan kemaksiatan. Di usia semuda Dek Alvin (17) tidaklah ada alasan yang mendesak untuk menikah. Alih-alih mendasarkan tindakannya pada agama hanya soal kamuflase semata.

Pernikahan yang baik bukan untuk sensasi semata. Seharusnya Dek Alvin bisa lebih mengedepankan akal daripada nafsu. Kita diberi anugerah yang luar biasa dari Allah Yang Maha Esa berupa akal dan hati nurani untuk berpikir, menimbang mana yang baik dan mana yang buruk. 

Ulama tidak ada yang sepakat soal kewajiban menikah, tetapi mereka sepakat menuntut ilmu wajib bagi tiap-tiap individu. Usia 17 tahun di Indonesia masih dalam tahap belajar. Jadi, lebih diprioritaskan belajar ketimbang menikah. 

Paling mentok hukum menikah itu sunah, bisa saja menjadi wajib jika ada alasan mendesak yang bisa diterima syariat. Tapi jika menikah hanya karena alasan menjauhkan diri dari fitnah dan zina, menurut saya, hal itu bisa diatasi sebagaimana ajaran Rasulullah.

Menikah hanya menjadi salah satu pintu dari beragam pintu menjauhkan diri dari fitnah dan zina. Menikah bukan satu-satunya solusi apalagi sampai melanggar undang-undang. 

Pernikahan bukan jaminan seseorang untuk tidak melakukan zina. Banyak orang di luar sana yang menikah juga melakukan zina. Pernikahan itu bukan substansi, ia sekadar media untuk menyampaikan pesan bahwa kita diwajibkan untuk mengelola nafsu sebaik mungkin.

Kita diberi hati dan akal untuk berpikir, jadi kita bisa menjaga diri untuk tidak dekat-dekat dengan zina dan hal-hal yang menimbulkan fitnah. Soal nafsu, itu juga bisa diredam, sebagaimana sabda Rasul SAW:

“Hai para pemuda, barangsiapa yang mampu menikah, maka menikahlah, karena sesungguhnya menikah dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Jika tidak mampu menikah, maka berpuasalah, sebab puasa dapat mengekang syahwat (HR Jamaah). 

Seandainya Dek Alvin belum menikah, saya akan menganjurkan dia untuk berpuasa sembari menunggu sampai umurnya terpenuhi. Saya pikir dia lebih berkewajiban belajar (tidak hanya ilmu agama, tetapi ilmu umum juga) daripada mendahulukan nafsunya semata.

Pernikahan Dek Alvin tidak dilaksanakan dengan jalan yang terbaik. Nikah bukan soal bikin sensasi dan mengejutkan publik semata. Seharusnya pernikahan menjadi ibrah baik bagi semua orang, tapi tidak dengan usia semuda itu. Bukan karena saya iri dan cemburu, tetapi ini soal maslahah. 

Mungkin menikah itu maslahah bagi Dek Alvin yang sudah siap lahir batin, tetapi bagaimana dengan pengikutmu atau orang lain di sekitarmu? Apakah mereka semapan dan seenak hidup Dek Alvin? 

Kemaslahatan harus diwujudkan untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi. Hemat saya, pernikahan Dek Alvin memang maslahat bagi dirinya, tetapi menimbulkan kemelaratan sosial. Pernikahan dini menyalahi tujuan agama Islam diturunkan (Maqasid Syariah).

Pada saat Dek Alvin bangga duduk di pelaminan, pada saat itu pula Dek Alvin telah membuka pintu kemelaratan sosial selebar-lebarnya. Di saat pemerintah, aktivis perempuan dan anak berjuang mati-matian menekan angka pernikahan dini, Dek Alvin dan ayah malah berbuat sebaliknya, membuka keran sederas-derasnya. 

Saya tahu bahwa sebagai ustaz dan motivator muda, Dek Alvin juga Ustaz Arifin Ilham (ayah) memiliki pengikut yang luar biasa banyak. Tentunya perkataan, perbuatan, juga keputusan yang kalian ambil akan menjadi panutan jamaah. 

Saya yakin bahwa umat kondisinya tidak sama dengan kondisi Dek Alvin yang jauh lebih beruntung. Tentu nikah dini Dek Alvin akan menjadi inspirasi ribuan jamaah. Apalagi jamaah yang jomblo nan baper, pasti pinginnya cepet dihalalin tanpa melihat kesiapan-kesiapannya.

Saya miris ketika melihat teman-teman pondok saya juga netizen memuji Dek Alvin. Itu artinya mereka tidak berpikir kritis dan cerdas. Mereka sama halnya Dek Alvin dan ayah, tidak menyadari persoalan sosial yang sebenar-benarnya terjadi di masyarakat. 

Realitas di masyarakat menunjukkan nikah dini justru menjadi penyebab banyak masalah. Menurut data penelitian Pusat Kajian Gender dan Seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015, angka pernikahan dini di Indonesia berada di peringkat ke-2 se-Asia Tenggara. Sekitar 2 juta perempuan Indonesia menikah di bawah usia 15 tahun dan putus sekolah.

Bukan hanya itu, hampir kebanyakan pernikahan dini berkahir pada perceraian. Data ini menunjukkan bahwa pernikahan dini justru melebarkan pintu kebodohan, orang banyak putus sekolah dan tidak terdidik. Sedangkan kebodohan hanya akan melahirkan kemiskinan dan kemelaratan yang mengakar sampai ke anak cucu mereka. 

Belum lagi soal kesiapan fisik dan psikis anak yang menikah di bawah umur. Terutama perempuan yang memiliki beban-beban ganda dalam kehidupan rumah tangga: hamil, menyusui, mengurus, dan mendidik anak. Tentunya mereka belum matang dan siap untuk menanggung beban itu semua.

Betul kiranya banyak pelaku nikah muda menjadi beban sosial. Saya jadi teringat beberapa sahabat saya yang menikah setelah lulus SMP. Beberapa di antara mereka bercerai tidak lama setelah mereka menikah. 

Dan yang membuat saya sedih, saya kehilangan dua teman kecil saya. Satu teman saya meninggal setelah melahirkan dan satu orang lagi bunuh diri akibat tidak tahan dengan masalah sosial yang ia hadapi (semoga Allah mengampuni mereka).

Dari persoalan yang saya paparkan, seharusnya Dek Alvin bisa memikirkan kondisi sosial masyarakat kita, sehingga bisa meredam keinginan untuk bikin sensasi dengan menikah sedini itu. Dalam konteks ini, ada satu kaidah fikih yang berbunyi: dārul mafāsid aulā min jalbil mashālihm, yang artinya: menghilangkan mafsadat (kerusakan) itu lebih didahulukan daripada mengambil sebuah maslahat. 

Saya kira, lebih maslahat jika Dek Alvin bisa memberi contoh yang baik. Syukur-syukur dengan pengaruh yang Dek Alvin miliki, Dek Alvin mau mengampanyekan anti-pernikahan dini dan menggerakkan jamaah ke perubahan yang lebih baik.