Seks dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu jenis kelamin, hal yang berhubungan dengan alat kelamin seperti senggama atau birahi.

Seks secara biologis identik dengan jenis kelamin. Wanita punya vagina, pria mempunya penis. Sedangkan seksualitas itu sendiri luas cakupannya. Ada secara biologis yang berkaitan dengan organ reproduksi dan alat kelamin. Kemudian psikologis yang berkaitan dengan tingkah laku manusia sebagai makhluk seksual.

Peran dan dinamikanya terhadap seksualitas itu sendiri dengan dunia sosial yang erat kaitannya dengan hubungan seksual yang muncul dalam kehidupan sehari - hari di lingkungan hidup bermasyarakat. Faktor lingkungan dan budaya sangat mempengaruhi berkesempatan atau tidaknya mempelajari seks dan apakah dapat melakukannya.

Filsuf Jerman di abad ke-18, Immanuel Kant, pernah memberi nasihat tentang perkawinan. "Orang" begitu tulisnya, "mengenyangkan nafsu tidak lewat cinta, tetapi lewat perkawinan". Seberapa privatpun, nasihat itu menyingkap sesuatu yang politis. Politik tidak beroperasi dengan cinta, tetapi dengan kuasa. Seperti seks, kuasa adalah juga nafsu yang tidak berbentuk dan liar jika tidak didisiplinkan.

Seksualitas menurut Jeffrey Weeks (aktivis gay), kebanyakan mengenai kata - kata, imaji - imaji, ritual dan fantasi mengenai gaya - gaya seks, cara manusia hidup dan beradaptasi dengannya.

Pembicaraan mengenai seksualitas memang selalu dikaitkan dengan tubuh. Gagasan mengenai tubuh dipengaruhi oleh pandangan agama - agama pada umumnya. Seks pada masa lalu dianggap sebagai sesuatu yang sakral atau suci, tetapi tidak dengan pada zaman sekarang yang sudah berubah cara pandang dan kelakuan berseksual.

Descrates, sebagai peletak dasar filsafat modern sebagai landasan perkembangan ilmu pengetahuan modern, mengukuhkan dualisme tersebut dengan prinsipnya, cogito ergo sum, aku berfikir maka aku ada. Manusia identik dengan "pemikiran" ketimbang tubuh, sementara tubuh itu sendiri bagian dari seluruh realitas materil belaka, kata decrates.

Menurut Giddens, sosiolog dari Inggis mengatakan, di era globalisasi ini, "untuk pertama kalinya seksualitas merupakan sesuatu yang ditemukan, dibentuk dan diubah." Banyak seksualitas tidak lagi didominasi oleh praktik seksual heteroseksual, yang dimaksud heteroseksual yaitu cenderung untuk melakukan seks dengan beda kelamin bahkan sampai pada perbedaan jenis makhluk, yang realitasnya sudah beragam.

Di zaman sekarang, pemikiran dan akal sudah tidak dipakai lagi terkhusus dalam melakukan kontrol seksual. Makhluk hidup dan benda mati kadang menjadi wadah untuk mengekspresikan nafsu, yang lebih parahnya lagi sampai makhluk hidup tersebut kehilangan nyawanya, misalnya hewan. Lalu ayah memperkosa anak kandungnya sendiri menjadi fenomena yang sangat sering terjadi, dan sebaliknya.

Demokrasi

Indonesia dikenal sebagai negara demokrasi dan katanya memakai sistem demokrasi. Demokrasi ialah gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.

Sebelum menjalankan kewajiban sebagai warga negara seharusnya saya dan seluruh rakyat Indonesia menuntut hak sebagai warga negara terlebih dahulu. Karena negara demokrasi itu membiarkan rakyatnya mencari uang sendiri, namun bebas berpendapat, apakah seperti itu realitasnya?

Menurut pengalaman saya, mengutarakan pehaman atas demokrasi yang bertolak dari atau dengan mencantolkan diri pada rumusan teori tertentu biasanya justru lebih menyulitkan dalam menangkap pengertian demokrasi secara mendalam, Terutama berbicara mengenai prinsip - prinsip operasional demokrasi atau hanya menekankan salah satu sisi dari praktik baku demokrasi, tanpa lebih dahulu mengutarakan yang mendasari mengapa demokrasi dan untuk apa.

Paradigma demokrasi akan lebih mudah dipahami secara mendalam lewat penjelasan yang singkat dan merdeka, yaitu dengan menuangkan penyatuan bacaan yang sudah diperoleh selama ini dari pelbagai rujukan, entah klasik atau modern plus disimpulkan secara terpadu. Ini berarti bahwa kita memahami demokrasi secara mendalam, dengan cara memperluas bacaan kita tentang demokrasi.

Namun kritik saya lagi - lagi terhadap pemikiran saya sendiri, ialah pemahaman tentang pancasila hanya dipahami secara utuh jika kita memiliki kesadaran pribadi, bukan hanya terpaut pada teori - teori saja.

Lalu, demokrasi seperti apa yang dimaksud? apakah seks bukan salah satu hak berdemokrasi atau bukan bagian dari hak asasi sebagai manusia?

Seks itu sebuah pilihan, pilihan untuk menikmati sepuas - puasnya kehidupan sebagai lajang, mengejar kenikmatan seksual, mengalami kehidupan sebagai lesbian atau gay, bikeseksual ataupun melakukan kehidupan bersama atas dasar rasional dengan kesadaran penuh akan resikonya.

Romo Magnis dalam pidatonya pernah mengatakan bahwa, di Gereja katolik selalu berlaku bahwa hubungan seks yang dapat dibenarkan hanyalah hubungan seks antara laki - laki dan perempuan di dalam kerangka suatu perkawinan yang sah.

Kalau memang secara alami ada kecenderungan seksual yaitu menyukai sejenis, padahal alam diciptakan Tuhan apakah homoseksualitas sesuatu yang terkutut terhadap Tuhan? Padahal hak mereka yaitu mempunyai kasih seksual karena memang kecenderungan seks yang sejenis, begitu argumentasi mereka yang mendukung LGBT.

Kemudian, problem berhubungan seksual antara lelaki dan perempuan, apa hak negara mencampuri dua orang yang sedang melakukan hubungan seksual? di belakang pintu tertutup dan hubungan dilakukan atas dasar suka sama suka. Mungkin jelas tuntutan adalah neraka dan dosa, tetapi itu menjadi urusan pribadi masing - masing dan bukan menjadi hak negara untuk mengkriminalisasi apalagi mempublikasikan dalam proses penggerebekan karena ini mencakup rana sangat pribadi.

Lalu muncul pertanyaan, mengapa ketika terjadi penangkapan orang yang melakukan hubungan seksual selalu yang menjadi tersangka adalah laki - laki, padahal hubungan itu didasari suka sama suka dan secara psikologis wanita juga mempunyai nafsu birahi.

Perdebatan mengenai hal tersebut sudah saya lakukan dengan dosen filsafat saya, yang merupakan lulusan Doktor di Rusia. Dan singkatnya, ujung dari perdebatan itu adalah kita harus kembali pada konstitusi atau keterikatan hukum.