Guna menghindarkan anak dari bahaya penularan virus korona atau dikenal dengan Covid-19, pemerintah mengambil tindakan untuk meliburkan sekolah, menggantinya dengan belajar dari rumah. Guru tetap memberikan pembelajaran, tetapi secara virtual. Ada juga yang memang libur total, dalam arti tak ada pembelajaran sama sekali.

Keputusan itu sudah barang tentu memiliki risiko. Terburuknya, peserta didik tak lagi menyentuh buku pelajarannya. Lainnya, berkaitan dengan proses pembelajaran jarak jauh antara guru dengan peserta didiknya. Salah satunya adalah pemberian tugas yang ugal-ugalan oleh guru terhadap peserta didik di rumah.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) jadi geram, lantaran guru sudah kelewat batas, seenaknya saja memberi tugas kepada peserta didik yang membikin mereka stres, selama masa karantina diri di rumah masing-masing. Kalau mau dipikir-pikir, apalagi yang bisa diberi guru-guru kita selain tugas? Kan, supaya peserta didik di rumah ada alasan untuk belajar? Kalau tak diberi tugas, mereka mau ngapain coba?

Beban tugas dan tanggung jawab pendidikan kita selalu saja dibebankan pada guru dan sekolah (formal). Mau bagaimana lagi? Paradigma kita sudah seperti itu. Coba saja tanya para orang tua atau wali murid, kalau anak mereka di sekolah tidak kunjung pintar-pintar, berapa persen yang akan menyalahkan diri sendiri? Bagus kalau tidak menyalahkan sekolah.

Padahal, sekolah utama anak adalah di rumah mereka sendiri. Sebelum berjumpa dengan bapak dan ibu guru di sekolah pun, mereka sudah bertemu ibu kandungnya sendiri. Ada yang sekaligus bertemu ayahnya, yang kemudian mengazankan di kuping kanan dan meng-ikamatkan di kuping kiri.

Si jabang bayi tentu tak tahu, tidak juga sebagian orangtua, bahwa sejak masa kehamilan, sudah berlangsung proses pendidikan. Kata-kata yang dikeluarkan oleh orang tua--sadar atau tidak--terdengar oleh si kecil dalam perut ibunya, yakni saat sudah ditiupkan ruh ke dalamnya.

Makanan-makanan dari sumber halal juga adalah sebuah bentuk pendidikan bagi si jabang bayi. Yaitu tubuhnya dibiasakan (dididik) untuk menerima makanan yang halal. Supaya--dengan harapan--aliran darahnya harmonis dengan kebaikan alam, pikirannya jernih tak terhambat bayang-bayang materialisme.

Jika sekolah yang utama (madrasah awal) itu di rumah, lantas apa fungsi sekolah? Tidak lain sekolah hanyalah untuk membantu orang tua agar anak mendapatkan tambahan pengetahuan. Selain itu, sekolah juga membantu dalam menyediakan ruang sosial, tempat anak berinteraksi dengan dunianya. 

Mereka adalah calon pemimpin masa depan, ruang sosial di sekolah memberi mereka pengetahuan bagaimana membangun solidaritas sosial, serta kerja-kerja kepemimpinan yang sederhana--menjadi ketua kelas atau ketua OSIS.

Pelajaran-pelajaran sains--selain sains sederhana--tak ada di rumah. Seperti tentang nutrisi, pengetahuan sosial, matematika, keterampilan serta ilmu kejuruan lainnya. Maka sekolah yang menyediakan semua itu. Kalaupun yang sudah ada, semacam pendidikan agama, sekolah tinggal membantu memperkuat dan mengembangkan dari yang diajarkan di rumah.

Sekolah memang menjadi tempat untuk berkembangnya teori-teori pembelajaran. Para ahli banyak melahirkan teori untuk mendidik anak menjadi manusia yang dewasa. Kita akan bertemu dengan teori pembelajaran behavioristik, konstruktivistik, humanistik, dan lain-lain. 

Ada pula perkembangan pembelajaran yang berbasis media elektronik dan internet. Semua itu dapat menambah pengalaman untuk menjalani hidup sebagai manusia yang beradab.

Namun tetap saja, pendidikan utama adanya di keluarga. Kalau saja kita sudi meluangkan waktu untuk membaca "Tarbiyatul Aulad fil Islam", karya Dr. Abdullah Nasih Ulwan yang dua jilid, yang tebalnya 1300-an halaman itu, di sana terbentang teori pendidikan orisinil Islam, sejatinya pendidikan itu bewal dari rumah dan tidak boleh ditinggalkan.

Nasih Ulwan membahas proses pendidikan--sesuai tuntu(t)nan agama--mulai dari saat seorang dewasa memilih pasangan. Kriteria yang harus diperhatikan ada empat: berdasarkan kecantikan (ketampanan), harta, keturunan dan agama.

Pendidikan berlanjut saat kehamilan serta kelahiran anak. Orangtua mengazankan dan mengikamahkan anak, mentahnik (menggosok kurma di langit-langit mulut), memberi nama, mengakikahkan, menyunat, memberi pendidikan dan pengajaran ... hingga kelak anak itu dewasa dan memilih pasangan--mengulangi siklus pendidikan yang telah dikerjakan oleh orang tuanya.

Tidak hanya soal cara-cara mendidik berdasarkan teori orisinal Islam (berdasar Alquran dan Sunah), Nasih Ulwan juga memperingatkan mengenai bahayanya percekcokan dan perceraian bagi perkembangan mental anak. Tak luput pula, faktor-faktor kenakalan, disebabkan disharmonisasi hubungan orangtua, kemiskinan, pengaruh lingkungan, krisis keteladanan dan lain sebagainya.

Nasih Ulwan juga memperingatkan orangtua akan bahaya pengaruh paham-paham transnasional perusak mental dan kepribadian anak. Antara lain paham komunisme, fasisme, freemasonry, liberalisme, dan lain-lain. 

Bahaya lain adalah pengaruh video porno, minuman keras, obat-obatan terlarang, serta pergaulan bebas yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Pendidikan anak dalam Islam oleh Nasih Ulwan pada akhirnya menekankan pada tanggungjawab orang tua di rumah--maupun di sekolah. Adapun tanggung jawab itu meliputi tanggung jawab pendidikan agama, moral, fisik, rasio, kejiwaan, sosial, dan seksual.

Jadi, sejak dari rumah, anak itu seyogianya sudah memiliki horizon Islam, segala habitus yang didasarkan atau merupakan hasil dari pendidikan Islam dalam keluarga. Sekali lagi kata kuncinya adalah keluarga.

Lagipula UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, lebih menguatkan bahwa keluarga adalah termasuk dari salah satu lembaga pendidikan yang ada (informal), disamping sekolah (formal), dan juga masyarakat (nonformal).

Banyak yang memanfaatkan legalitas ini untuk menyelenggarakan homeschooling, sekolah rumah. Ya, orang tua mereka akan berkata, "Jika anak sudah tahu membaca, menulis dan berhitung, lebih baik sekolah di rumah saja". Orangtua bisa mengajarkannya keahlian tertentu. Soal masa depan, anak bisa diikutkan pada ujian kesetaraan. Model pendidikan seperti ini lebih memberi kebebasan.

Sebagian memilih homeschooling sebab menurut mereka sekolah tak lagi bisa dipercaya dalam perbaikan moral anak. Malahan praktek kenakalan kebanyakan terjadi di sekolah. Pada titik yang paling ekstrim, kritikus sekelah Ivan Illich mengkritik praktek sekolah dengan konsep deschooling society, ataukah Paulo Freire dengan konsep pembebasan dalam dunia pendidikan.

Bagi kita saat ini, tidak harus mengamini kritik yang ekstrim itu. Cukup memahami bahwa pendidikan yang utama berlangsung di keluarga. Adapun sekolah, sifatnya membantu dalam menyediakan pengetahuan tambahan, dan juga ruang sosial untuk anak latihan hidup bermasyarakat dan memimpin. Dus, tak ada pendidikan yang benar-benar libur.