Menulis itu mengasyikkan. Menulis itu ruang belajar tentang banyak hal. Menulis juga bisa mendapatkan penghasilan. Setidaknya hal ini yang dialami penulis selama menjadi jurnalis dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Kota Jayapura, Provinsi Papua.

Penulis  sendiri adalah siswa yang paling bodoh di antara teman-temannya di sekolah, hingga tidak mengetahui perkembangan di ibu kota Provinsi Papua. Lebih parahnya lagi, penulis sangat kaku untuk berbahasa Indonesia. Tidak sehebat atau selancar teman-teman yang terbiasa berbahasa Indonesia.

Penulis pun berpikir, jika jalan ini tidak mengubah hidupku, maka ada jalan lain untuk menuju ke sana. Komitmen ini yang membuat penulis belajar menulis setiap hari pada catatan harian. Penulis hanya menulis pengalaman yang dialami.

Pada prinsipnya penulis hanya menulis apa yang dialami dan diketahui. Soal salah dan benar urusan kemudian. Intinya menulis saja apa yang ada dalam benak. Tiap hari saat bangun penulis menyempatkan diri untuk menulis. Dari situ penulis memberanikan diri untuk menjadi jurnalis, meski harus belajar banyak hal.

Setelah menjadi jurnalis banyak orang hebat yang penulis kenal. Penulis juga menjalin relasi dengan mereka. Tak terkecuali juga para narasumber, yang dengan baik hati memberikan segepok uang meski itu tak terkait dengan berita yang ditulis. Itu semata karena budi baik narasumber ketika ditemui penulis.

Perkenalan penulis menjadi jurnalis berawal dari pertemuan dengan kakak-kakak dari Majalah Metro Papua tahun 2018 di Jayapura. Awalnya penulis lebih banyak belajar bagaimana menulis puisi dan berita bersama tim Majalah Metro Papua. Dari situ penulis memberanikan diri menulis untuk media online Wagadei.com yang diampu Abeth You yang juga jurnalis media Jubi.

Metro Papua adalah sebuah majalah berisi tulisan opini, berita, puisi dan cerpen. Semua tulisannya yang dimuat di dalam majalah ini adalah karya anak-anak Papua, yang tergabung dalam organisasi Rumpun Pelajar Mahasiswa Siriwo Mapia Piyaiye Topo Wanggar (RPM SIMAPITOWA) di Jayapura. Penulis sendiri adalah anggota dari RPM SIMAPITOWA.

Ketika itu, penulis menjadi salah satu kontributor Metro Papua di Distrik Abepura. Menjadi kontributor atau koresponden adalah menjadi pribadi, yang harus bertanggung jawab untuk menyajikan berita yang sesuai dengan standar dan etika jurnalistik.

Penulis belajar banyak sewaktu menjadi kontributor pada majalah Metro Papua. Setiap hari harus menulis untuk memenuhi kuota berita pada media ini. Padahal waktu itu penulis juga menjadi siswa di SMKN 3 Jayapura. Artinya, kita harus pintar-pintar membagi waktu, antara menjadi kontributor pada majalah dan seorang siswa yang menggapai masa depan di sekolah.  

Setelah beberapa edisi tulisan diterbitkan oleh majalah Metro Papua, media ini gulung tikar tanpa alasan. Penulis pun berhijrah dan menulis pada media Suarameepago.com dan Wagadei.com. Dua media ini juga dikelola anak-anak asli dari wilayah adat Meepago. Media ini terbuka bagi siapa saja, termasuk anak-anak Mee yang ingin belajar menjadi penulis.  

“Ikut jangan takut, takut jangan ikut.” Kata-kata dari Pemimpin Redaksi Wagadei.com, Abeth You ini menjadi motivasi bagi penulis untuk terus belajar menjadi penulis atau jurnalis, meski harus berbenturan dengan waktu sekolah. Media ini memiliki visi-misi “Tepat Dalam Mengulas Informasi, Jujur, Kami Bukan yang Pertama tapi Kami Punya Mimpi Baru Yakni Ingin Memerdekakan Suku Mee Melalui Pemberitaan yang Akurat dan Tepat”.

Visi dan misi Wagadei.com memacu penulis untuk terus menjadi jurnalis yang sekaligus siswa atau pelajar di SMKN 3 Jayapura. Menulis pada media ini juga bukan sekadar menulis, tetapi bagaimana menyajikan tulisan yang enak dibaca, akurat, kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai prinsip jurnalisme profesional.

Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, jurnalisme berfungsi untuk menyampaikan informasi, mendidik masyarakat, melakukan kontrol sosial atau advokasi dan menghibur khalayak. Jurnalisme atau pers merupakan pilar keempat dalam negara demokrasi seperti Indonesia.  

Kembali ke muka, penulis semakin bersemangat menulis ketika liputan-liputannya dipublikasikan pada media Wagadei.com. Tambahan pula banyak orang-orang hebat yang mengenal dan dikenal penulis, mulai dari mahasiswa, masyarakat bisa, hingga pejabat. 

Banyak dari antara mereka yang memanggil penulis dengan kata “ade wartawan” dan dipercayakan untuk meliput dan menulis kegiatan-kegiatan mahasiawa di Jayapura. Beberapa narasumber yang baik hati memberikan penulis uang transportasi, apalagi ketika mereka mengetahui bahwa penulis juga adalah seorang siswa pada salah satu sekolah di Jayapura.

Dari situ penulis berpikir bahwa menulis bisa mengenal dan dikenal banyak orang. Menulis juga bahkan mendapat uang meski tak selalu setiap hari. Kadang-kadang uang juga didapat saat mengikuti fellowship yang diberikan untuk melakukan liputan mendalam, seperti yang dialami penulis saat meliput situasi lingkungan di Kota Jayapura, yang diselenggarakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Papua.

Uang yang didapat itu lumayan untuk mencukupi kebutuhan sekolah siswa perantauan yang datang daerah untuk belajar di ibu kota Provinsi Papua. Hal ini justru dapat mengurangi beban orangtua yang notabene bekerja sebagai petani di daerah Meepago.

Penulis berpikir bahwa pada gilirannya menjadi penulis adalah kesempatan dan sarana untuk belajar banyak hal, mengasah kemampuan, mengasah kedewasaan, melatih kedisiplinan dan kepekaan, serta menghasilkan uang dan peluang berusaha di bidang media massa. Menulis juga bisa menciptakan lapangan kerja bagi anak-anak Papua. 

Kita dapat melihat secara kasat mata bahwa banyak media massa di Tanah Papua yang memberikan peluang bagi anak-anak Papua untuk mengembangkan kariernya sebagai penulis melalui jurnalisme. Dengan demikian, menulis juga dapat menciptakan lapangan kerja bagi anak-anak Papua.

Anak-anak Mee, khususnya dari Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, adalah anak-anak muda Papua yang berbakat dan memiliki banyak kemampuan atau kompetensi yang bisa bersaing di dunia global. Membudayakan budaya literasi baca-tulis adalah langkah awal untuk mengembangkan kemampuan di bidang tulis-menulis dan peluang usaha di bidang kepenulisan.

Menulis juga tidak memandang usia. Siapa pun bisa menjadi penulis. Kalau bukan kita anak-anak Mee, siapa lagi yang bisa menjadi penulis? Kalau bukan sekarang waktunya menulis, kapan lagi kita menulis? Menulis itu mudah dan mengasyikkan. Oleh karena itu, anak-anak muda Papua mesti mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita, demi membangun daerah Meepago, khususnya Kabupaten Dogiyai dan dapat bersaing di dunia global. (*)

Penulis adalah siswa SMKN 3 Jayapura Menulis itu mengasyikkan. Menulis itu ruang belajar tentang banyak hal. Menulis juga bisa mendapatkan penghasilan. Setidaknya hal ini yang dialami penulis selama menjadi jurnalis dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Kota Jayapura, Provinsi Papua.

Penulis  sendiri adalah siswa yang paling bodoh di antara teman-temannya di sekolah, hingga tidak mengetahui perkembangan di ibu kota Provinsi Papua. Lebih parahnya lagi, penulis sangat kaku untuk berbahasa Indonesia. Tidak sehebat atau selancar teman-teman yang terbiasa berbahasa Indonesia.

Penulis pun berpikir, jika jalan ini tidak mengubah hidupku, maka ada jalan lain untuk menuju ke sana. Komitmen ini yang membuat penulis belajar menulis setiap hari pada catatan harian. Penulis hanya menulis pengalaman yang dialami.

Pada prinsipnya penulis hanya menulis apa yang dialami dan diketahui. Soal salah dan benar urusan kemudian. Intinya menulis saja apa yang ada dalam benak. Tiap hari saat bangun penulis menyempatkan diri untuk menulis. Dari situ penulis memberanikan diri untuk menjadi jurnalis, meski harus belajar banyak hal.

Setelah menjadi jurnalis banyak orang hebat yang penulis kenal. Penulis juga menjalin relasi dengan mereka. Tak terkecuali juga para narasumber, yang dengan baik hati memberikan segepok uang meski itu tak terkait dengan berita yang ditulis. Itu semata karena budi baik narasumber ketika ditemui penulis.

Perkenalan penulis menjadi jurnalis berawal dari pertemuan dengan kakak-kakak dari Majalah Metro Papua tahun 2018 di Jayapura. Awalnya penulis lebih banyak belajar bagaimana menulis puisi dan berita bersama tim Majalah Metro Papua. Dari situ penulis memberanikan diri menulis untuk media online Wagadei.com yang diampu Abeth You yang juga jurnalis media Jubi.

Metro Papua adalah sebuah majalah berisi tulisan opini, berita, puisi dan cerpen. Semua tulisannya yang dimuat di dalam majalah ini adalah karya anak-anak Papua, yang tergabung dalam organisasi Rumpun Pelajar Mahasiswa Siriwo Mapia Piyaiye Topo Wanggar (RPM SIMAPITOWA) di Jayapura. Penulis sendiri adalah anggota dari RPM SIMAPITOWA.

Ketika itu, penulis menjadi salah satu kontributor Metro Papua di Distrik Abepura. Menjadi kontributor atau koresponden adalah menjadi pribadi, yang harus bertanggung jawab untuk menyajikan berita yang sesuai dengan standar dan etika jurnalistik.

Penulis belajar banyak sewaktu menjadi kontributor pada majalah Metro Papua. Setiap hari harus menulis untuk memenuhi kuota berita pada media ini. Padahal waktu itu penulis juga menjadi siswa di SMKN 3 Jayapura. Artinya, kita harus pintar-pintar membagi waktu, antara menjadi kontributor pada majalah dan seorang siswa yang menggapai masa depan di sekolah.  

Setelah beberapa edisi tulisan diterbitkan oleh majalah Metro Papua, media ini gulung tikar tanpa alasan. Penulis pun berhijrah dan menulis pada media Suarameepago.com dan Wagadei.com. Dua media ini juga dikelola anak-anak asli dari wilayah adat Meepago. Media ini terbuka bagi siapa saja, termasuk anak-anak Mee yang ingin belajar menjadi penulis.  

“Ikut jangan takut, takut jangan ikut.” Kata-kata dari Pemimpin Redaksi Wagadei.com, Abeth You ini menjadi motivasi bagi penulis untuk terus belajar menjadi penulis atau jurnalis, meski harus berbenturan dengan waktu sekolah. Media ini memiliki visi-misi “Tepat Dalam Mengulas Informasi, Jujur, Kami Bukan yang Pertama tapi Kami Punya Mimpi Baru Yakni Ingin Memerdekakan Suku Mee Melalui Pemberitaan yang Akurat dan Tepat”.

Visi dan misi Wagadei.com memacu penulis untuk terus menjadi jurnalis yang sekaligus siswa atau pelajar di SMKN 3 Jayapura. Menulis pada media ini juga bukan sekadar menulis, tetapi bagaimana menyajikan tulisan yang enak dibaca, akurat, kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai prinsip jurnalisme profesional.

Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, jurnalisme berfungsi untuk menyampaikan informasi, mendidik masyarakat, melakukan kontrol sosial atau advokasi dan menghibur khalayak. Jurnalisme atau pers merupakan pilar keempat dalam negara demokrasi seperti Indonesia.  

Kembali ke muka, penulis semakin bersemangat menulis ketika liputan-liputannya dipublikasikan pada media Wagadei.com. Tambahan pula banyak orang-orang hebat yang mengenal dan dikenal penulis, mulai dari mahasiswa, masyarakat bisa, hingga pejabat. 

Banyak dari antara mereka yang memanggil penulis dengan kata “ade wartawan” dan dipercayakan untuk meliput dan menulis kegiatan-kegiatan mahasiawa di Jayapura. Beberapa narasumber yang baik hati memberikan penulis uang transportasi, apalagi ketika mereka mengetahui bahwa penulis juga adalah seorang siswa pada salah satu sekolah di Jayapura.

Dari situ penulis berpikir bahwa menulis bisa mengenal dan dikenal banyak orang. Menulis juga bahkan mendapat uang meski tak selalu setiap hari. Kadang-kadang uang juga didapat saat mengikuti fellowship yang diberikan untuk melakukan liputan mendalam, seperti yang dialami penulis saat meliput situasi lingkungan di Kota Jayapura, yang diselenggarakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Papua.

Uang yang didapat itu lumayan untuk mencukupi kebutuhan sekolah siswa perantauan yang datang daerah untuk belajar di ibu kota Provinsi Papua. Hal ini justru dapat mengurangi beban orangtua yang notabene bekerja sebagai petani di daerah Meepago.

Penulis berpikir bahwa pada gilirannya menjadi penulis adalah kesempatan dan sarana untuk belajar banyak hal, mengasah kemampuan, mengasah kedewasaan, melatih kedisiplinan dan kepekaan, serta menghasilkan uang dan peluang berusaha di bidang media massa. Menulis juga bisa menciptakan lapangan kerja bagi anak-anak Papua. 

Kita dapat melihat secara kasat mata bahwa banyak media massa di Tanah Papua yang memberikan peluang bagi anak-anak Papua untuk mengembangkan kariernya sebagai penulis melalui jurnalisme. Dengan demikian, menulis juga dapat menciptakan lapangan kerja bagi anak-anak Papua.

Anak-anak Mee, khususnya dari Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, adalah anak-anak muda Papua yang berbakat dan memiliki banyak kemampuan atau kompetensi yang bisa bersaing di dunia global. Membudayakan budaya literasi baca-tulis adalah langkah awal untuk mengembangkan kemampuan di bidang tulis-menulis dan peluang usaha di bidang kepenulisan.

Menulis juga tidak memandang usia. Siapa pun bisa menjadi penulis. Kalau bukan kita anak-anak Mee, siapa lagi yang bisa menjadi penulis? Kalau bukan sekarang waktunya menulis, kapan lagi kita menulis? Menulis itu mudah dan mengasyikkan. Oleh karena itu, anak-anak muda Papua mesti mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita, demi membangun daerah Meepago, khususnya Kabupaten Dogiyai dan dapat bersaing di dunia global. (*)

Penulis adalah siswa SMKN 3 Jayapura