Selama bertahun-tahun saya sebagai pelajar, saya menemukan sebuah keanehan pada semua pelajar yang saya temui. Teman sekelas saya, adik-adik saya, orang yang tidak saya kenal pun, semuanya mengalaminya.

Semuanya benci bersekolah.

Saya pernah duduk sekamar dengan adik-adik saya, hanya mengobrol dan bukan mengerjakan PR (sesuatu yang seharusnya kami lakukan) karena kami semua tidak bersemangat mengerjakannya. Saya pernah bergadang sampai larut malam karena besoknya ada dua ulangan dan satu latihan soal yang harus dikumpulkan, semuanya untuk kelas berbeda-beda. Saya pernah menyalin jawaban PR teman saya sebelum sekolah dimulai, di waktu istirahat, bahkan pernah sekali saya menyalin tepat sebelum pelajaran yang bersangkutan, karena tidak saya kerjakan malam sebelumnya.

Setiap kali saya menceritakan pengalaman-pengalaman ini kepada adik-adik saya, atau teman sekelas saya, semuanya paham. Semuanya pernah melakukannya juga. Semuanya sama-sama benci sekolah, Bahkan anak paling rajin, paling pintar sekelas pun merasa stress dan lelah karena sekolah.

Kalau jenis dan kualitas sekolah serta kemampuan akademis siswa tidak berpengaruh, mengapa begitu banyak orang yang sama-sama benci bersekolah?

Jawabannya banyak. Saya bisa mengatakan bahwa sekolah memberikan begitu banyak tekanan pada siswa sehingga penelitian menemukan kecemasan dan depresi di antara siswa sekolah menengah berada pada titik tertinggi sepanjang masa. Saya bisa mengatakan bahwa sekolah terlalu fokus pada pengetahuan akademis saja dan lalai mengajarkan kecakapan hidup yang bakalan berguna di saat siswa beranjak dewasa. (Saya masih tidak tahu cara membayar pajak. Keterampilan hidup sepertinya lebih berguna di masa depan ketimbang kalkulus.) Saya bisa mengatakan bahwa sekolah mengabaikan hal-hal penting seperti kreativitas dan keterampilan sosial dan penerapan nilai moral yang baik, dan sebaliknya mengukur harga siswa dengan seberapa banyak yang bisa mereka hafalkan dan berapa banyak pertanyaan tes yang dapat mereka jawab dengan benar dan apakah sepatu mereka hitam polos atau tidak. Dan masih banyak lagi.

Sekolah membunuh rasa ingin tahu siswa dan membuat mereka semakin benci belajar.

Belajar seharusnya adalah sesuatu yang luar biasa. Belajar adalah menemukan hal-hal baru dan dunia baru yang tidak Anda ketahui kemarin. Ada kegembiraan dalam melihat tanaman menarik dan trik sulap dan zat-zat bercampur dan bereaksi dalam tabung reaksi. Ada kegembiraan dalam menemukan sesuatu yang baru tentang kuman dan planet jauh dan bagaimana burung terbang di angkasa. Ada kegembiraan dalam mempelajari keterampilan baru, mempelajari bahasa asing, masakan makan malam baru, dan cara menjahit kancing yang copot. Seharusnya ada kegembiraan dalam menemukan hal-hal baru; seharusnya ada kegembiraan dalam belajar.

Tetapi sekolah mengubah belajar menjadi sesuatu kewajiban, yang harus Anda lakukan. Anda harus menyelesaikan banyak soal matematika dan fisika sebagai "latihan". Anda harus memahami fungsi bagian-bagian sel dan rumus-rumus termodinamika dan cara menulis teks deskriptif. Anda harus paham ini semua di luar kepala, karena ada tugas menulis esai satu halaman dan sepuluh soal latihan untuk diserahkan kepada bapak atau ibu guru besok lusa dan dua ulangan nanti hari Jumat, dan jika Anda tidak melakukan semuanya dengan benar, Anda akan diberi nilai C di rapor dan dilabeli "anak bodoh" dan mungkin tidak naik kelas.

Mengapa anak-anak tidak minta tolong saja kepada gurunya, atau orangtuanya kalau dia memang kesusahan, mungkin Anda bertanya-tanya. Toh nilai rapor dan pendapat guru bisa berubah jika dia benar-benar berusaha. Mengapa anak itu tidak berusaha saja?

Saya bertanya balik kepada Anda, mengapa Anda bersedia melakukan sesuatu? Contohnya kerja kantoran. Mengapa Anda rela kerja kantoran? Mengapa Anda mau duduk di balik meja yang sama dan melakukan hal yang sama selama 9 jam setiap hari enam hari seminggu? 

Gaji, mungkin itulah jawaban yang paling umum. Uang untuk menghidupi diri sendiri. Nafkah untuk menghidupi keluarga.

Mengapa Anda mau banting tulang di sawah dan mengurusi hewan ternak yang berisik dan bau setiap hari? Untuk makanan, dan agar hasil jerih payah Anda bisa dijual, untuk uang.

Intinya, Anda mau melakukan sesuatu umumnya karena usaha Anda akan membuahkan hasil yang (moga-moga) memuaskan. Jika uang bisa didapatkan tanpa usaha, menurut teori, tidak ada orang yang bakal mau bekerja.

Materialis? Tapi memang benar kok! Mungkin ada perkecualian, seperti perbuatan amal dan kreasi seni, tapi itu pun terkadang dilakukan atas motivasi materialis juga. Amalan adalah kewajiban atau kesunahan yang dapat mengantarkan Anda ke surga (atau ke ketenaran di sosmed), dan kreasi seni pun bisa dan biasanya dijual demi uang.

Tapi pelajaran sekolah? Kebanyakan bersifat teori, hanya sesuatu yang dibaca dan ditulis di whiteboard lalu dicatat ulang di buku tulis untuk dipelajari nanti menjelang ujian akhir semester. Matematika dan fisika menjadi sekadar hitung-hitungan dan bukan hukum alam agung yang bisa dijabarkan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Teks deskripsi hanyalah bentuk sejenis tugas, dan sejarah bukan lagi kejadian nyata melainkan bacaan yang poin-poin pentingnya harus dihafal untuk ujian. Sekolah tidak lagi berpusat pada menimba ilmu—sekolah menjadi les hafalan.

Lagipula, kebanyakan pelajaran sekolah justru tidak berguna pada akhirnya karena memahami fungsi mitokondria hanya berguna jika Anda masuk bidang biologi, dan rumus-rumus termodinamika tidak bermanfaat bagi seseorang yang kuliah jurusan kedokteran atau akuntansi, dan juru masak hotel bintang empat dan hakim agung sama-sama tidak berurusan dengan teks deskriptif.

Bahkan kalau Anda mau mengklaim bahwa "pelajaran itu mengasah otak, melatih siswa mengingat dan menghitung dan menalar", memahami semua ini adalah kewajiban dan bukan kebutuhan. Karena siswa merasa pengetahuan itu ujung-ujungnya tidak bermanfaat walaupun dia wajib mengetahuinya, maka ujung-ujungnya pengetahuan itu tidak menempel juga, dan menghilang setelah ujian selesai.

Siapa yang mau terpaksa melakukan sesuatu yang tampaknya tidak berguna juga pada akhirnya?

Dan menalar? Sekarang hampir tidak ada yang namanya menalar dalam pelajaran sekolah. Adanya menghafal dan menjawab pertanyaan. Nalar tidak berguna ketika yang keluar di ujian hanya "sebutkan nama tujuh tulang lengan manusia" dan "ada berapa jenis majas" dan "berapa momen inersia silinder pejal berdiameter sekian dan bermassa sekian dan sertakan caranya". Momen inersia itu maksudnya apa? Silinder pejal itu apa? Saya bahkan tidak tahu sama sekali! Bu Guru tidak pernah menjelaskannya karena itu bukan materi ujian, jadi apa gunanya? Dan apa gunanya semua yang saya pelajari ini setelah ujian selesai?

Inilah mengapa ada sistem-kebut-semalam dan menyalin PR dan bahkan mengapa ada contek-menyontek juga. Inilah mengapa pelajaran tadi pagi sudah terlupakan besok paginya.

Dan kebiasaan apapun, baik maupun buruk, berbeda dengan pelajaran, melekat dengan sangat cepat.