“Sekolah ini membunuhku.” Kalimat ini tercoret di tembok belakang toilet sekolah. Meski letaknya tersembunyi, tulisan ini sangat jelas terbaca, karena ditulis dengan menggunakan spidol hitam pada permukaan tembok yang dicat abu-abu.

Mencoret dinding adalah bentuk protes yang lazim ditemui di tembok-tembok kota. Coretan dinding adalah bentuk protes yang menggunakan media spidol, pilox atau arang ala kadarnya. Kaum urban yang terpinggirkan cenderung menuangkan kekesalannya dengan mencoreti tembok, termasuk coretan status di dinding facebook. Fenomena ini sepertinya menginspirasi Iwan Fals yang pernah mempopulerkan lagu “Coretan Dinding”.   

“Sekolah ini membunuhku” adalah ungkapan sarkastis yang menggambarkan realitas secara berlebihan. Bahkan dalam perspektif narasi silogisme, “Sekolah ini membunuhku” adalah contoh ungkapan ironi. Sekolah sebagai lembaga tempat orang-orang menimba ilmu pengetahuan, seharusnya menjadikan manusia menjadi lebih bijaksana, lebih cerdas dalam bernalar, serta lebih kuat menghadapi persoalan hidup.

Tentu saja hal ini berkebalikan dengan pernyataan “Sekolah ini membunuhku” Senada dengan judul lagu yang pernah dipopulerkan D’Massif, Cinta Ini Membunuhku. Cinta yang seharusnya menentramkan dan membahagiakan, bukan malah membunuh sang pencinta.

Tekanan berlebihan

‘Sekolah ini membunuhku’, adalah bahasa hiperbolis yang bisa dimaknai sebagai ungkapan terhadap kondisi tekanan yang berlebihan, yang akhirnya mematikan kebebasan, lalu menghambat potensi kreativitas. Kalimat itu juga bisa bermakna matinya naluri dan kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Tekanan yang berlebihan, selama ini selalu menjadi keluhan dari siswa. Tekanan mereka rasakan mulai dari tugas yang menumpuk setiap hari. Tugas yang menumpuk membuat mereka harus mengorbankan waktu untuk bermain, nongkrong, atau menyalurkan bakat dan kegemaran.

Padatnya jam belajar juga sering kali menjadi keluhan siswa. Setiap hari, mereka sudah tiba di sekolah sebelum jam 7.15 pagi dan pulang jam 14.00 siang. Beberapa mata pelajaran mereka terima di dalam kelas dengan durasi tiga, bahkan ada yang sampai empat jam.

Tingginya angka standar KKM

Tekanan yang berlebihan tidak hanya berupa padatnya jam belajar. Hasil belajar adalah korelasi yang signifikan dari tuntutan jam belajar yang tertera di roster harian. Hasil belajar siswa dievaluasi melalui penerapan standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

KKM selama ini, sejak kebijakan Ujian Nasional, dinaikkan pointnya untuk mengantisipasi anjloknya nilai siswa yang dapat berkontribusi besar terhadap penentuan kelulusan seorang siswa. Karena itu, setiap siswa, setidaknya harus memperoleh nilai sesuai dengan standar KKM untuk semua mata pelajaran pada tiap semester.  

Tingginya angka standar KKM praktis menuntut siswa untuk belajar ekstra. Di lain pihak, suasana belajar dan penunjang kelangsungan proses belajar mengajar pada beberapa sekolah di daerah masih belum memadai.

Ironi jam kosong

Besarnya tekanan belajar membuat jarak antara siswa dengan pelajaran semakin lebar. Situasi ironi kembali tercipta: mereka senang jika tidak belajar, mereka gembira jika guru berhalangan mengajar, mereka besorak jika jam kosong, lalu ramai-ramai membolos. Mereka berusaha menghindar dari kejumudan aktivitas belajar yang padat.

Padahal antara siswa dan proses belajar seharusnya terjalin hubungan yang harmonis, bukan justru tertekan dan stress dengan tekanan belajar. Mungkin ada benarnya ungkapan filosofis yang pernah dipopulerkan oleh Bertrand Russell “Banyak orang memilih mati daripada berpikir, makanya, banyak orang kini sudah mati.”

Disorientasi sekolah dan fenomena Bu Menteri

Saat baru dilantik, Menteri Kelautan Dan Perikanan dalam struktur Kabinet Indonesia Hebat, Ibu Susi, seketika menjadi sorotan publik yang tampil nyentrik. Ibu Menteri, berhasil meraih perhatian publik dengan penampilannya yang di luar kelaziman. Tampil dengan kostum sederhana, dengan tato tubuh yang menonjol, dan merokok, lantas menuai polemik di media massa. Seakan menyempurnakan gebrakan Presiden Jokowi yang mengusung revolusi mental dalam pemerintahannya.

Namun, yang paling banyak melahirkan perdebatan adalah riwayat pendidikan Ibu Menteri, yang hanya lulusan SMP. Selain merokok, ijazah SMP seringkali dieksploitasi pihak media untuk meraih rating pembaca. Bahkan, di media social online, Ibu Menteri juga tidak lepas dari cibiran dan ungkapan negatif yang bersifat menyerang pribadi.

Tapi, seiring berjalannya waktu, Ibu Menteri justru menunjukkan grafik kinerja yang baik dan tren positif yang menonjol. Beberapa perbaikan dalam struktur departemen yang dipimpinnya, hingga temuan-temuan lapangan terkait kejahatan penyalahgunaan hingga pencurian sumber daya laut berhasil mengangkat citra positif Ibu Susi.

Seseorang menulis coretan di dinding facebook “tidak usah sekolah tinggi nak, bahkan jadi menteri pun bisa hanya dengan lulusan SMP.” Lantas, untuk apa sekolah?

Memang, korelasi antara tinggi sekolah dengan jabatan dan kesuksesan tidak bersifat mutlak. Jangankan menteri, presiden pun di beberapa Negara, termasuk Indonesia pernah dijabat oleh orang yang tidak berijazah tinggi. Di dunia swasta lebih lagi. CEO Facebook adalah salah satu contoh nyata. Tanpa gelar sarjana, Mark Zuckerberg mampu mendirikan peursahaan yang bersaham Miliaran dan menjadi tokoh yang mempengaruhi perkembangan dunia.

Lalu, untuk apa bersekolah?

Terpilihnya Ibu Susi mengisi kursi kabinet pemerintahan, bagi sebagian orang adalah pukulan telak bagi para pakar yang bertitel akademik tinggi. Bahwa, lembaga pendidikan formal bukan jaminan bagi seseorang untuk meraih kesuksesan. Sekolah dan Perguruan Tinggi harus melakukan intropeksi terkait kualitas dan integritas luaran. Alumni yang dengan gagah menyandang gelar akademik lalu menunggu peluang untuk terakomodir dalam penerimaan kepegawaian.

Sebaliknya, fenomena Ibu Susi bisa menjadi autokritik bagi lembaga pendidikan formal untuk kembali menyusun dasar orientasi. Bahwa sekolah adalah tempat menimba ilmu dan dengan ilmu tersebut, seseorang bisa lebih bijak menghadapi perosalan hidup, dapat memaknai persoalan hidup, serta yang terpenting adalah dengan ilmu pengetahuan, seseroang mampu produktif dan beradaptasi dengan kondisi lingkungan dengan kemampuan berkreasi yang dimilikinya.

Karenanya, sekolah seharusnya tidak membebani pelajar. Sekolah seharusnya membawa pelajar lebih memahami arti hidup. Dengan bekal ilmu yang diperoleh dari sekolah, seorang terpelajar harusnya mengedepankan logika bukan mendahulukan emosi. Pelajar membudayakan nalar dan mengabaikan agitasi dan propaganda. Pelajar memilih debat bukan adu jotos.

Pelajar harusnya produktif, bukan malas dan berpangkutangan. Dengan ilmu yang diperoleh di sekolah, tidak seharusnya terjadi tawuran yang melibatkan pelajar. Seharusnya, siswa itu tahu untuk apa mereka bersekolah.