Masyarakat pada umumnya tidak pandai mendengarkan penjelasan-penjelasan para pejabat. Akan tetapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru tindakan-tindakan yang dilakukan mereka. (James Baldwin)

Kasus korupsi yang menjerat para petinggi negeri belakangan ini menandakan ungkapan mulutmu harimaumu mulai menunjukkan tanda-tanda kebenarannya. Orang-orang yang biasanya mengepalkan tangan berjanji menegakkan hukum dan keadilan justru diterkam omongannya sendiri.

Di kalangan pendidik misalnya, guru yang seharusnya digugu dan ditiru (dipercaya dan diteladani), namun dalam melakukan tugasnya justru menyisakan persoalan etik yang mengejutkan. Ada di antara mereka terbongkar melakukan tindakan yang tidak terpuji. Mereka digelandang aparat karena diduga terlibat transaksi jual beli jabatan dan atau ngembat dana BOS.

Oknum anggota DPR yang pada saat kampanye lantang akan memperjuangkan hak rakyat, namun ketika menduduki kursi legislatif, malah mengkhianati konstituennya. Mereka berpikir bagaimana caranya mengembalikan uangnya yang habis dibelanjakan saat memobilisasi massa. Sehingga sebagian besar dari mereka dilaporkan juga karena diduga melakukan korupsi.

Di kalangan eksekutif, gubernur dan bupati/walikota, tidak sedikit di antara mereka yang harus tidur di hotel prodeo. Mereka tertangkap tangan aparat sedang melakukan korupsi atau pesta narkoba.

Cerita tentang tindakan tercela yang dilakukan oleh orang-orang yang berpendidikan itu kemudian memunculkan stigma pahit. Pendidikan dituding seakan akan menghasilkan penjahat-penjahat yang cerdas. Eksistensi sekolah dipertanyakan.

Ivan Illich, misalnya. Ia melakukan kritik yang cukup pedas melalui bukunya Deschooling Society. Buku tersebut menjelaskan bahwa lembaga sekolah atau sistem pendidikan modern tidak akan membawa perubahan bagi peserta didik maupun masyarakat. Kritik yang tidak kalah pedasnya juga dilontarkan koleganya, Everett Reimer. “school is dead,” katanya

Pendidikan saat ini terlalu mengagung-agungkan sains dan matematika. Sementara, pendidikan karakter tidak diurus. Aspek moral dan budi pekerti dipinggirkan. Para guru sibuk berpikir tentang ujian-ujiain dan keberhasilan sekolah.

Serangkaian proses pendidikan berlangsung penuh cacat. Keberhasilan sekolah hanya diukur dari aspek akademik semata. Sekolah dinilai maju diukur dari tingginya nilai yang diperoleh peserta didiknya pada saat ujian akhir. Demikian juga, peserta dinilai sukses manakala mampu mendulang nilai yang cukup tinggi pada saat ulangan.

Padahal menurut hasil penelitian Thomas J Stanley Ph.D, dari seratus faktor yang berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang, IQ hanya menempati urutan ke-21. Belajar di sekolah favorit di urutan ke-23, dan lulus dengan nilai baik serta memuaskan cuma faktor sukses ke-30.

Sepuluh faktor pertama yang berpengaruh terhadap kesuksesan adalah ; 1) jujur. 2) Disiplin. 3) Good interpersonal skill. 4) Support dari pasangan hidup. 5) Work harder than others. 6) Cinta pekerjaan. 7) Good and strong leadership. 8) Semangat dan berkepribadian kompetitif. 9) Good Life Management. 10) Abilty to sell or product.

Mencermati hasil penelitian di atas, seyogianya pendidikan harus dikembalikan pada roh yang sebenarnya sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan membentuk karakter bangsa seperti yang dicita-citakan Ki Hajar Dewantara kala mendirikan Perguruan Taman Siswa. 

Yakni, mempersiapkan rasa kebebasan dan tanggung jawab serta membuat peserta didik berkembang merdeka, menjadi orang yang serasi, terikat erat dengan budaya' mandiri, sehingga terhindar dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik, terhindar dari tekanan, rasa rendah diri dan ketakutan.

Tidak hanya itu, pendidikan harus menyediakan ruang agar peserta didik putra bangsa yang setia, berjiwa patriot, serta memiliki rasa pengabdian yang mendalam kepada nusa dan bangsa

Sekolah menjadi wahana peletakan batu awal dalam membentuk manusia-manusia yang berbudi pekerti luhur. Setelah keluar, diharapkan lahir insan-insan yang bermoral dan tidak korup. Kata kuncinya: keteladanan.

Keteladanan merupakan strategi yang sangat ampuh untuk mengurai benang kusut di dunia pendidikan kita. Apabila semua mulai dari orang tua, guru, kepala sekolah, anggota DPR, pejabat publik bisa menjadi uswatun hasanah atau teladan yang baik, saya yakin semua akan meniru laku mereka.

Apabila itu sudah dilakukan, selanjutnya pandangan masyarakat terkait keberhasilan seseorang harus digeser. Tanda keberhasilan seseorang tidak lagi diukur dari kemampuan akademik saja. 

Indikator kecerdasan emosi, seperti kemampuan menahan diri, memiliki stabilitas emosi, selalu memahami orang lain, tidak mudah putus asa, pantang menyerah, sabar, memiliki kesadaran diri, punya motivasi yang berlipat, punya kreativitas yang dinamis, memiliki empati, dan toleran, merupakan karakteristik yang jauh lebih penting dimiliki peserta didik ketimbang sekadar pencapaian angka-angka yang tertulis di rapor/ijazah itu sendiri.