Desa merupakan ruang yang sangat strategis bagi pembangunan ekonomi negara. Sebab, desa memiliki beragam potensi, baik Sumber Daya Manusia (SDM) maupun Sumber Daya Alam (SDA).

Di samping itu, desa juga kaya dengan culture yang masih dilestarikan oleh masyarakat setempat. Sehingga desa tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, namun ia juga menjadi tempat lahirnya pengetahuan dan kebudayaan.

Dalam memaksimalkan potensi yang ada di desa, pemerintah telah membuat arah kebijakan pembangunan desa pada tahun 2020-2024.

Setidaknya ada lima arah kebijakan pembangunan desa yang menjadi fokus pemerintah, yaitu mengentaskan 10.000 desa tertinggal menjadi desa berkembang, mendorong 5.000 desa berkembang menjadi desa mandiri, revitalisasi 63 kawasan transmigrasi, revitalisasi 60 Kawasan Perdesaaan Prioritas Nasional (KPPN), dan mengentaskan 62 daerah tertingga.

Untuk dapat mencapai program-program pembangunan desa secara maksimal, pemerintah telah mengeluarkan paket strategis melalui Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Tidak kurang ada lima strategi yang dibuat oleh Kementerian Desa PDTT dalam melaksanakan program-program tersebut, di antaranya peningkatan SDM desa, peningkatan usaha pascapanen komoditas pertanian, penguatan pariwisata desa, peningkatan konektivitas antarwilayah perdesaan dan perkotaan, dan digitalisasi perdesaan.

Selain itu, lahirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menjadi napas baru bagi pengelolaan desa. Di mana UU ini menjamin kemandirian desa melalui asas rekognisi dan subsidiaritas yang menggeser peran desa dari objek menjadi subjek pembangunan.

Adanya kewenangan berdasarkan hak asal-usul dan kewenangan lokal berskala desa, diharapkan desa akan menjadi pelaku aktif dalam proses pembangunan dengan memperhatikan dan mengapresiasi keunikan serta kebutuhan yang dimiliki oleh masing-masing desa. Sehingga pembangunan yang dilakukan sejalan dengan kearifan lokal yang ada dan dapat mengangkat potensi asli desa.

Program peningkatan SDM desa menjadi program awal yang harus dilakukan oleh setiap desa untuk mencapai keberhasilan pembangunan desa seperti yang telah dicanangkan oleh pemerintah.

Melalui Alokasi Dana Desa (ADD) yang dikucurkan langsung oleh pemerintah pusat kepada desa setiap tahunnya, diharapkan dapat mendorong terealisasinya program-program pembangunan desa, terutama pembangunan SDM desa. Hal ini sejalan dengan Permendes Nomor 11 Tahun 2019 yang menjelaskan bahwa dana desa dapat dialokasikan untuk berbagai program kegiatan mulai dari kegiatan padat karya tunai, pemberdayaan masyarakat, peningkatan kualitas SDM, hingga membangun Posyandu.

Pada tahun 2020, rata-rata dana desa yang ditransfer ke 7.495 desa sebesar Rp. 960,59 juta dari total keseluruhan ADD sebesar Rp. 72 triliun. Dirjen Perimbangan Keuangan (PK) Kemenkeu menyampaikan bahwa penyaluran Dana Desa tahun ini lebih besar di tahap pertama, yakni 40% dari sebelumnya 20%. Tahap kedua 40% dan tahap ketiga 20%.

Sedangkan bagi desa berkinerja baik, pemerintah akan memberikan reward penyaluran dana dengan proporsi 60% di tahap I dan 40% di tahap II (kemenkue.go.id). Hal ini dilakukan oleh pemerintah sebagai upaya untuk mempercepat proses pembangunan desa dan meningkatkan kinerja kepala desa dalam membuat perencanaan pembangunan.

Keberhasilan program peningkatan SDM desa tentunya perlu mendapat dukungan dari kepala desa sebagai pihak eksekutor pembangunan desa. Pasalnya, desa telah diberikan kewenangan oleh pemerintah pusat dalam memanfaatkan dana desa untuk pembangunan desa.

Oleh karena itu, kepala desa harus memiliki perencanaan yang matang dengan melibatkan berbagai pihak untuk menjalankan program-program pembangunan, khususnya peningkatan SDM desa melalui sekolah desa. Adapun pihak-pihak yang dapat digandeng oleh kepala desa adalah lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat setempat.

Payungi University sebagai lembaga pendidikan alternatif yang dibangun secara kolektif oleh penggerak Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi) menjadi salah satu wadah pendidikan transformatif yang memiliki tujuan meningkatkan kualitas SDM desa. Terdapat tiga sekolah yang menjadi fokus pengajaran di Payungi University, yaitu sekolah media, sekolah kewirausahaan, dan sekolah desa.

Sekolah desa merupakan ruang belajar yang diperuntukkan bagi masyarakat desa. Sekolah ini, selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas SDM desa, juga ingin memperkokoh posisi masyarakat dan pemerintah desa dalam proses membangun desa. Sehingga, nantinya pembangunan desa dapat berjalan dengan perencanaan, pengelolaan, dan evaluasi yang baik sesuai dengan arah kebijakan dari pemerintah pusat.

Setidaknya ada tiga inisiatif yang menjadi basis dari sekolah desa. Di mana inisiatif tersebut mencakup, pusat pengajaran dan penguatan kualitas SDM desa – baik pemerintah maupun masyarakat desa –, pusat riset masyarakat dan penerbitan sumber rujukan pengetahuan tentang pembangunan desa, dan menjadi ruang praktik percontohan pemberdayaan masyarakat desa.  

Dharma Setyawan, penggagas sekolah desa menegaskan bahwa pada tataran di mana sudah terbentuknya SDM desa yang berkompeten, maka masyarakat selanjutnya dapat menggali potensi-potensi yang ada di desa dengan pemanfaatan dana desa secara efektif.

Sehingga, nantinya pada tahun pertama, kedua, dan ketiga, pemanfaatan dana desa akan tercipta ekosistem-ekosistem baru yang mampu meningkatkan ekonomi desa. Hal ini sejalan dengan prioritas pembangunan ekonomi nasional yaitu melakukan transformasi di bidang ekonomi.