Sudah setaun lebih kita melaksanakan pembelajaran pada masa pandemi. Namun, hingga saat ini dari pihak lembaga pendidikan, guru, dan siswa masih merasakan kegelisahan. Kesulitan untuk melakukan pembelajaran efektif di era sekarang tentunya menjadi problem yang harus di pecahkan untuk menunjang pendidikan di Indonesia. Hal ini menjadi tolak ukur untuk kedepannya dalam mendidik generasi penerus bangsa. 

Baru-baru ini Mas Nadiem telah mengusung tema " Serentak Bergerak, Wujudkan merdeka Belajar " Dilansir : kompasiana. Saya tertarik saat kata-kata tersebut. Dimana pembelajaran bebas adalah hal yang sangat dibutuhkan pada era pandemi seperti ini. Guru harus dapat menyesuaikan dan mempunyai metode yang pas untuk menyampaikan pembelajaran kepada peserta didik. 

saya teringat dengan pola pendidikan paupaulo freire. Freire menyebutkan, bahwa sistem pendidikan yang pernah ada dan mapan selama ini dapat diibaratkan sebagai sebuah “bank”. Dalam sistem ini, anak didik adalah objek investasi dan sumber deposito peotensial. Mereka tidak berbeda dengan komoditas ekonomis lainnya yang lazim dikenal. Depositor atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga kemasyarakatan yang berkuasa, sementara depositonya berupa pengetahuan yang diajarkan kepada anak didik. 

Freire percaya bahwa tugas utama sistem pendidikan itu adalah reproduksi ideologi kelas dominan sebagai alat mempertahankan kekuasaan mereka. Anak didik pun lantas diperlakukan sebagai ”bejana kosong” yang akan diisi sebagai sarana tabungan atau penanaman “modal ilmu pengetahuan” yang akan dipetik hasilnya kelak. Jadi, guru adalah subjek aktif, sedang anak didik adalah objek pasif yang penurut. Pendidikan akhirnya bersifat negatif di mana guru memberi informasi yang harus diingat dan dihafalkan. Akibatnya, para murid diperlakukan sebagai objek teori pengetahuan yang tidak berkesadaran pada realitas di sekelilingnya.

Pemerintah telah memberikan kebijakan untuk  melakukan daring sementara ini untuk menanggulangi penyebaran Covid-19. Kebijakan tersebut berdampak kepada lembaga pendidikan khususnya guru, dan siswa. Memang sekarang guru mulai menyesuaikan pembelajaran daring. Tapi siswa hingga saat ini masih kesulitan dalam memahami pembelajaran tersebut. Orang tua malah menjadi sasaran utama pertanyaan-pertanyaan mereka untuk memahami dan mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru. 

Pembelajaran seperti inilah yang terjadi pada era ini. Tidak semua guru dapat menggunakan teknologi dengan maksimal. Tidak semua siswa memiliki handphone, dan tidak semua siswa dapat mengerti pembelajaran yang di ajarkan. Lantas bagaimana terjadi pembelajaran efektif yang ingin dicapai. 

Siswa telah mengalami penurunan minat belajar. Bahkan sebagian besar siswa malah tidak mengikuti pembelajaran yang di selenggarakan. Karena mereka menilai pembelajaran seperti itu tidak memberikan mereka pengetahuan dan kebebasan dalam belajar. Tugas dan tugas yang mereka terima menjadikan mereka jenuh. Dan jalan keluarnya merek orang tualah yang mengerjakan tugas-tugas mereka. 

Beberapa dari orang tua mendatangkan guru les untuk mengajarkan anaknya dan membantu mengerjakan tugas-tugasnya di sekolah. Seolah mereka tau pendidikan dengan cara daring memunculkan hasil yang minim. Dan bisa dibilang pembelajaran di sekolah hanya sebatas formalitas semata. 

Ketika covid-19 masih menjadi alasan utama untuk melakukan pembelajaran daring. Lantas vaksinasi yang dilakukan apakah tidak memberikan dampak apapun bagi masyarakat, khususnya diranah pendidikan. Seharusnya setelah vaksinasi dilakukan pembelajaran secara langsung bisa segera dilaksanakan. Supaya dapat memajukan kembali pendidikan di Indonesia. 

Tidak lupa pendampingan orang tua dalam pembelajaran siswa harus di pantau. Karena siswa sangat membutuhkan dukungan yang lebih dari orang tua untuk belajar lebih giat dan sungguh-sungguh. Tidak lepas dari kebijakan sekolah dan yang lainnya, guru harus berinovasi dalam mengajar. Buatlah pembelajaran yang menyenangkan supaya siswa betah dan nyaman dalam belajar meskipun dengan kondisi pembelajaran daring. 

Pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan mudah di mengerti itulah yang dapat membuat terselenggaranya pendidikan dengan baik. Kurangi beban siswa dengan cara melakukan pembelajaran tatap muka lewat zoom, google meet, dll. Guru jangan hanya memberikan tugas dalam Lks hanya demi nilai semata meskipun untuk mengejar kompetensi yang di tentukan. Siswa membutuhkan kebebasan dalam belajar bukan beban yang membuat mereka setres dan ketakutan dalam pembelajaran. 

Guru kemungkinan besar akan kesulitan dalam melakukan penilaian jika tidak bertemu dengan siswa namun ini dapat di atasi dengan adanya pertemuan rutin antara guru dan siswa secara online dan offline jika di perbolehkan. Sistematika penilaian sekarang akan sedikit rumit karena siswa memakai  gajet saat melakukan ujian namun guru mungkin sedikitnya dapat membedakan pengetahuan siswa untuk memberikan peringkat akademik bagi siswa tiap semesternya. 

Harapan penulis dari pemerintah segera mengeluarkan kebijakan untuk belajar tatap muka. Lembaga pendidikan mulai dapat beroperasi dengan lancar. Guru dapat mengajar dengan baik lagi. Dan siswa dapat sekolah mendapatkan ilmunya dengan sebagaimana mestinya. Dan masyarakat dapat menjalankan aktivitasnya seperti biasanya.