Ada sebuah kecenderungan yang perlu untuk diteliti secara khusus dan lebih mendalam terhadap persoalan-persoalan social yang ada di masyarakat, baik itu yang menyangkut di dalam dunia Politik, Ekonomi, ataupun Agama. Sesuatu hal yang sangat penting dan perlu untuk dibahas lebih dalam yaitu persoalan tentang kepemimpinan kharismatik.

Kepemimpinan kharismatik ini lebih cenderung terhadap konsep berpolitik. Hal ini cukup penting dikarenakan peran di dunia politik merupakan suatu aturan permainan yang dimainkan oleh penguasa dalam ranah kekuasaan.

Kepemimpinan kharismatik juga menjadi salah satu factor yang khusus untuk dipertimbangkan di dalam suatu pemetaan oleh seorang pemimpin yang nantinya memiliki legalitas dan otoritas untuk menentukan sebuah kebijakan nantinya.

Sudah terlalu banyak teori-teori tentang kepemimpinan kharismatik saat ini, tetapi ada teori yang sangat berpengaruh oleh ide-ide Max Weber. Kharisma sendiri adalah berasal dari kata bahasa Yunani yang artinya “berkat yang terinspirasi secara agung atau di dalam bahasa lain yang artinya anugerah”, di dalam bahasa Kristen yaitu rahmat, yaitu yang memiliki kemampuan untuk melakukan suatu keajaiban atau untuk memprediksi suatu peristiwa di masa depan, sehingga dapat melahirkan sesuatu perubahan yang radikal.

Menurut Max Weber konsep kharismatik itu sendiri lebih ditekankan terhadap kemampuan seorang pemimpin yang memiliki kekuatan luar biasa serta memiliki aura mistis. Menurut Max Weber juga, ada lima factor yang muncul bersamaan dengan kekuasaan yang kharismatik, yaitu: pertama, adanya seseorang yang memiliki bakat luar biasa, kedua, adanya krisis social, yang ketiga, adanya sejumlah ide yang radikal untuk memecah krisis tersebut, keempat, adanya sejumlah pengikut yang percaya bahwa orang tersebut memiliki kemampuan yang luar biasa sifatnya transcendental dan supranatural, dan yang kelima yaitu adanya bukti yang berulang  bahwa apa yang dilakukan mengalami kesuksesan.

Dari penjelasan definisi di atas, Max Weber juga menggunakan istilah tersebut untuk menjelaskan suatu bentuk pengaruh yang itu bukan didasarkan terhadap tradisi ataupun otoritas yang formal, akan tetapi lebih kepada persepsi para pengikut bahwasanya pemimpin yang diberkati oleh kualitas luar biasa.

Menurut Max Weber juga, kharisma akan terjadi apabila terdapat sebuah krisis social, seorang pemimpin akan muncul dengan membawa visi yang radikal untuk menawarkan sebuah solusi untuk krisis yang sedang terjadi. Seorang pemimpin juga akan menarik para pengikut yang percaya terhadap visi tersebut, mereka nantinya akan mengalami suatu keberhasilan terhadap visi yang mereka bawa agar terlihat seolah dapat dicapai, dan para pengikut lainnya dapat mempercayai bahwa pemimpin tersebut adalah orang yang luar biasa.

Sesorang dapat dikatakan berkharisma apabila ia dapat menciptakan suatu perubahan yang eksistensial. Namun terkadang, hal tersebut dianggap sebagai suatu pembaharuan terhadap adat, atau akan melahirkan perpecahan. Asumsi lain mengenai pemimpin yang kharismatik adalah orang yang dianggap dan akan dipersepsikan negative, mengapa demikian? Karena akan memunculkan keretakan yang di latar belakangi oleh sikap yang memperlihatkan bentuk kemerdekaan yang baru, dan mau tidak mau nantinya akan menimbulkan sebuah ketaatan yang baru antara seorang pemimpin dan para pengikut.

Tidak hanya apa yang sudah dijelaskan diatas Max Weber juga mengemukakan bahwa kharismatik merupakan salah satu dari tiga tipe yang dikemukakan olehnya. Max Weber sebagai seorang postulat ideal di dalam memandang peranan yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin keagamaan terhadap pola social yang ada di dalam masyarakat apakah juga perlu memasukkan mereka ke dalam konsep kharismatik atau bahkan tidak?

Sebenarnya Max Weber menjadikan tipe otoritas atau system kepercayaan yang mampu mengabsahkan hubungan-hubungan di dalam masyarakat menjadikannya tiga bagian, yang pertama yaitu, dominasi hukum (legal-rasional),yang kedua yaitu, tradisional (estabilished), dan yang ketiga yaitu, kharismatik (pemimpin).

Kekuasaan rasional yang dibangun atas dasar hukum, merupakan kekuasaan yang didasarkan oleh kepercayaan terhadap legalitas peraturan dan hak-hak oleh mereka yang sedang memegang kekuasaan, yang berkuasa menurut peraturan yang mengatur dapat mengeluarkan perintah. Kekuasaan tradisional yang dibangun atas dasar kepercayaan yang telah ada menjaga kesucian tradisi kuno atau dengan kata lain bentuk kepercayaan terhadap legalitas praktek yang telah dibakukan. Sedangkan kekuasaan kharismatik yaitu merupakan suatu dominasi yang didapatkan atas dasar pengabdian diri terhadap kesucian, sifat kepahlawanan, atau lebih patut untuk diteladani dari ketertiban di dalam kekuasaaan.

Seorang pemimpin yang memiliki jiwa kharismatik sudah tentu mempunyai kemampuan untuk memimpin rakyat, dikarenakan ia dicintai oleh rakyatnya, kehadirannya pun sudah dinanti oleh rakyat. Nah, kemudian bagaimana cara untuk mengarahkan rakyat yang terlalu fanatic tersebut kea rah yang lebih baik. Yaitu dengan mencoba untuk memperbaiki dirinya sendiri dan mencoba mengamalkan apa yang telah disebutkan oleh nenek moyang terdahulu yaitu konsep Tri Dharma.

Tri Dharma sendiri adalah Rumongso Melu Handarbeni (Merasa Ikut Memiliki), Rumongso Melu Hangrukebi (Merasa Ikut Bertanggung Jawab Terhadap Kehidupan Bangsa) dan Mulat Sariro Hangrosowani (Bersedia Untuk Selalu Mawas Diri Demi Perbaikan Dimasa Datang).

Konsep Tri Dharma yang telah dijelaskan diatas sangat signifikan dengan idealitas di dalam masyarakat terhadap seorang pemimpin yang di idam-idamkan. Gambaran lain dari konsep peminpin yang memiliki otoritas dan dianggap kharismatik yaitu seorang Nabi dan Paulus. Dalam hal ini, Max Weber mencoba untuk memetakan konsep otoritas, seperti apa yang dipegang oleh Paulus.

Di dalam tesisnya Max Weber menyatakan bahwa kekuasaan, misalnya seperti kekuasaan Paulus, yaitu memaksakan kehendak atau hasrat personal terhadap orang lain meskipun hal yang demikian akan mendapat perlawanan. Dan ketika teori otoritas tersebut yang dicontohkan yaitu otoritas Paulus, lalu diterapkan ke dalam ranah keagamaan, maka hal tersebut cukup memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap pola pikir para penganut agama Kristen. Baik hal tersebut akan membawa dampak positif maupun dampak negatif.

Kita kembali ke sub awal mengenai rutinisasi kharismatik, karena hal tersebut dapat terjadi mengingat bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh pemimpin kharismatik dapat ditransformasikan. Semua hal tersebut biasa dilakukan dengan menggunakan cara memindahkan sifat karisma kepada seorang penerus yang ditunjuk melalui mekanisme atau tata cara tertentu, sesuai dengan kesepakatan awal dari masyarakat atau organisasi yang terkait.

Tetapi, ada suatu permasalahan yang kemungkinan cukup menyulitkan yaitu menemukan seorang penerus  untuk menjadi pemimpin yang luar biasa. Banyak alasan yang dapat digunakan oleh seorang pemimpin kharismatik untuk memikirkan dan mengidentifikasi sedini mungkin bagi seorang penerus yang kuat guna memastikan transisi yang mulus.

Alasan-alasan yang mungkin dikemukakan yaitu meliputi mekanisme pertahanan, misalnya saja seorang pemimpin akan menghindari untuk memikirkan tentang kematian dan pensiun dini dirinya, atau seorang pemimpin terlalu asyik terhadap misinya, dan mengalami ketakutan terhadap rival yang sangat potensial.

Sedangkan menurut Weber, akan muncul suatu kepercayaan di kalangan masyarakatnya terhadap adanya kharisma warisan atau kharisma terhadap jabatan. Konsepsi yang digunakan terhadap sifat-sifat pribadi tersebut merupakan transformasi yang bisa saja berubah menjadi konsepsi yang dapat disalurkan melalui kekuatan immaterial-supranatural kepada orang biasa dan dapat memberikan otoritas kepadanya.

Misalnya saja kharisma warisan terhadap pemilihan beberapa orang khalifah pertama di dalam Islam dari keturunan Nabi Muhammad, sedangkan contoh mengenai kharisma jabatan yaitu pengemban jabatan kepausan dalam agama Kristen di barat.

Di dalam rutinisasi kharismatik ini, pandangan yang dikemukakan oleh Weber sangat terbilang pesimis, yaitu ketika menilai bahwa sifat kharismatik hanya terdapat pada permulaannya saja dan nantinya ketika seorang pemimpin tersebut telah meninggal, maka sifat kharismatik itu akan beralih menjadi sebuah impersolan yang biasa dan murni.

Bagi Weber, tanda-tanda yang nyata suatu otoritas bukanlah sebagian bentuk dari kharisma yang murni dan tulen, tetapi yang dikatakan oleh Weber sebagai kharisma yang murni yaitu suatu pengabdian kepada orang-orang dan bukan bagian dari peluang-peluang kemukjizatan orangnya. Oleh karena itu, dapat kita katakan bahwa terdapat dis-harmonis antara kharisma buatan dan murni. Kharisma buatan yang didasarkan kepada kepentingan atas pekerjaan, sedangkan kharisma yang murni lebih menitik beratkan kepada pengabdian terhadap seseorang.