Hadirin jama’ah Shalat idul Fitri yang dirahmati Allah!

Di pagi yang indah ini, sudah sepatutnya kita haturkan syukur kepada Allah Swt. Sampai hari ini masih Ia limpahi kita dengan nikmat umur yang panjang dan kehidupan yang penuh kasih sayang, sehingga hari ini kita dapat berkumpul di tempat yang mulia ini guna bersujud pada-Nya, memuji-muji zatNya dan mengagungkan asmaNya.

Takbir, tahmid dan tahlil yang kita gemakan sejak azan magrib kemarin merupakan pertanda telah tiba hari raya Idul Fitri, hari besar umat Islam, hari yang menjadi simbol akan diri manusia yang tersucikan dari segala kotoran lahir dan batin. Maka sudah sewajarnya setiap muslim berbahagia pada hari ini, meski harus diingat bahwa tibanya hari raya Idul Fitri berarti berakhir pula bulan Ramadan yang mulia.

Bulan Ramadan adalah bulan tatkala al-Quran diturunkan untuk pertama kalinya, sebagaimana firman Allah Swt:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْ أُنْرِلَ فِيْهِ القُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran sebagai petunjuk dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda (antara yang haq dan bathil) (QS. Al-Baqarah: 183)

Menurut Imam al-Nawawi al-Bantani dalam Kitab Marah Labid Tafsir al-Nawawi, maksud ayat tersebut adalah turunnya al-Quran dalam satu kesatuan utuh dari al-Lauh al-Mahfuzh ke langit dunia atau disebut pula Bait al-‘Izzah. Turunnya al-Quran ke langit dunia itu terjadi pada malam lailat al-qadr, tepatnya malam ke-24 bulan Ramadan.

Tidak diketahui bagaimana bentuknya kalam Allah itu atau dalam bahasa apa ia tersaji. Yang pasti, setelah malam itu Jibril As meng-imla-kan ayat-ayat al-Quran secara berangsur-angsur kepada Nabi kita Muhammad Saw selama 23 tahun kenabian beliau. Pada rentang waktu ini ayat-ayat tersebut disampaikan kepada Nabi dengan berbahasa Arab. Mungkin demi memperingati peristiwa besar inilah Allah kemudian men-syariat-kan puasa bagi orang-orang yang beriman.

Hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita. Dalam tradisi Nabi Saw, tidak sedikit peristiwa besar yang diperingati atau dirayakan dengan berpuasa. Nabi berpuasa di hari Senin untuk memperingati hari kelahirannya. Nabi juga menganjurkan berpuasa Nishfu Sya’ban guna memperingati hari lolosnya Nabi Musa As dari kejaran Fir’aun. Dan, turunnya al-Quran sebagaimana kami sebut tadi juga menjadi petanda disyariatkannya puasa Ramadan.

Hadirin jama’ah Shalat idul Fitri yang dirahmati Allah!

Mungkin muncul pertanyaan di benak kita yang ingin meningkatkan keimanan, seperti halnya Nabi Ibrahim yang mempertanyakan bagaimana Allah menghidupkan orang-orang mati: mengapa harus berpuasa? Mengapa puasa itu tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan seksual? Mengapa harus ada praktek semacam itu dalam agama?

Setidaknya ada dua bentuk jawaban terhadap pertanyaan tersebut: pertama, karena memang begitulah puasa dilaksanakan, baik disyariatkan dalam agama Islam maupun agama-agama manusia. Hampir semua agama mengajarkan ajaran yang serupa, yakni menjauhkan diri dari hijab-hijab duniawi yang menghalangi diri dari cahaya ilahi.

Dalam rangka menempuh perjalanan ruhani kepada Tuhan itu, agama-agama manusia menuntut pengikut-pengikutnya untuk melakukan puasa. Dalam hal ini, kita bisa katakan bahwa puasa bukanlah sebentuk ibadah yang aneh dan asing, melainkan telah dilaksanakan sepanjang sejarah manusia dan agamanya. Hal ini seturut dengan ungkapan dalam ayat puasa:

كَمَا كُتِبَ عَلَى اَّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“...sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu...” (QS. Al-Baqarah: 183)

Kedua, puasa menjadi metode untuk meluruhkan keduniaan kita, karena makan-minum dan nafsu seksual merupakan induk segala kebutuhan manusia. Kebutuhan-kebutuhan lainnya, seperti kekuasaan, kehormatan dan cinta, mengikut pada hasrat-hasrat dasar tersebut.

Apabila kita menganalisis segala konflik dan pertikaian yang terjadi di tengah umat manusia, hampir semua, jika tidak semuanya, berujung pada persoalan perut dan birahi. Bahkan, segala perbuatan, pemikiran, dan perasaan umum kita, seperti marah, iri, dengki dan lain-lain dilatarbelakangi dan dimotivasi oleh kebutuhan akan makan-minum dan nafsu seksual itu.

Karena merupakan dasar dan induk segala kebutuhan, makan-minum dan nafsu seksual dipahami sebagai simbol segala hasrat duniawi. Hasrat duniawi itu bukannya tidak baik, tapi jika hasrat-hasrat tersebut berlebihan dan menjadi tujuan utama hidup kita, mereka hanya akan menjadi penyakit bagi jiwa dan keimanan kita. Karena itu, hasrat dan hawa nafsu bukan dihalang-halangi, melainkan dikendalikan.

Dalam agama Islam dan agama-agama lainnya, upaya untuk mengendalikan hawa nafsu tersebut terwujud dalam ibadah puasa. Jadi, puasa Ramadan merupakan sarana dan ajang pelatihan bagi diri setiap orang beriman untuk mengendalikan hawa nafsunya.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab, seorang ahli tafsir al-Quran Indonesia yang masih hidup, menyatakan apabila diri kita telah terlatih mengendalikan makan-minum dan nafsu seksual, maka mudahlah bagi kita untuk mengendalikan hasrat-hasrat yang lain.

Hadirin jama’ah Shalat idul Fitri yang dirahmati Allah!

Bulan Ramadan sebagai bulan puasa merupakan momen pelatihan diri itu. Ibarat masa pandemi, puasa Ramadan adalah momen mengisolasi diri dari hasrat-hasrat duniawi yang mengandung virus-virus perusak jiwa.

Karena makan-minum dan nafsu seksual adalah simbol nafsu duniawi yang harus kita taklukkan, wajarlah kiranya jika para ulama menyebut bahwa selama Ramadan kita berperang melawan hawa nafsu. Peperangan itu berlangsung selama kurang-lebih 30 hari, dan setelah itu tibalah kita di hari Idulfitri, hari yang menjadi simbol kemenangan atas hawa nafsu.

Tinggal kemudian bagaimana kita menjadikan puasa di bulan Ramadan sebagai pelajaran berharga untuk mengarungi setiap detik kehidupan kita selanjutnya, setidaknya selama sebelas bulan ke depan. Sebab, perang jihad melawan hawa nafsu, musuh terbesar kita, yang sebenarnya justru akan kita hadapi sepanjang hidup kita. Ya, berakhirnya bulan Ramadan bukan akhir dari segalanya. Ini baru permulaan.

Demikianlah apa yang Rasulullah Saw serukan dalam Hadis beliau:

رَجَعْتُمْ مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الجِهَادِ الأَكْبَرِ فَقِيْلَ وَمَا جِهَادُ الأَكْبَر يَا رَسُوْلَ الله؟

فَقَالَ جِهَادُ النَّفْسِ

Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lantas sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “jihad (memerangi) hawa nafsu.” (HR. Al-Baihaqi)

Selain itu, sebuah syair Arab dari Abu al-‘Atahiyah melantunkan:

أَشَدُّ الْجِهَادِ جِهَادُ الْهَوَى # وَمَا أَكْرَمَ الْمَرْءُ إِلَّا التُّقَى

وَأَخْلَاقُ ذِي الْفَضْلِ مَعْرُوْفَةٌ # بِبَذْلِ الْجَمِيْلِ وَكَفِّ الْأَذَى

Sedahsyat-dahsyat jihad adalah jihad melawan hawa nafsu. Tiadalah seorang terhormat kecuali karena takwa.

Dan akhlak orang terhormat dapat diketahui. Dengan (kebiasaan) berbuat kebaikan dan menghindari perbuatan menyakiti orang lain.

Meski demikian, tidaklah keliru jika kita bergembira di hari idulfitri ini, merayakan kemenangan dan merasakan diri yang kembali suci, seperti bayi yang baru lahir. Setiap Muslim berhak ber-idulfitri dengan bersenang-senang secara wajar sesuai tuntunan agama.

Ada pengetahuan di kalangan umat Islam bahwa yang berhak merayakan Idulfitri adalah mereka yang puasanya tunai selama sebulan. Anggapan ini tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Orang-orang tidak berpuasa karena sakit atau sudah berusia lanjut, perempuan-perempuan yang tidak puasa karena haid atau nifas, anak-anak yang sedang belajar puasa, juga berhak atas kegembiraan hari raya.

Orang yang sakit dan orang-orang tua telah menang atas hawa nafsunya dengan bersabar atas penyakit dan usianya, serta tidak memaksakan diri untuk berpuasa. Perempuan haid dan nifas telah menang atas hawa nafsunya karena bersabar atas rasa sakit yang diderita dan berhasil menjalankan kodratnya sebagai wanita. Anak-anak telah menang atas hawa nafsunya karena mau belajar berpuasa supaya ketika kelak besar ia jadi terbiasa.

Jadi hari ini adalah hari buat semua Muslim, tanpa kecuali. Muslim di desa dan di kota, pejabat dan rakyat jelata, mayoritas dan minoritas, lelaki dan perempuan, tua dan muda, yang kaya dan yang miskin, selama ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, berhak berhari raya. Segala kesenjangan antar golongan dan antar lapisan harus dipersempit.

Apabila kita harus menjaga jarak tubuh di masa pandemi ini, jarak hati kita harus diperkecil bahkan kalau perlu dihilangkan sama sekali. Untuk tujuan itu, agama mewajibkan setiap Muslim untuk membayar zakat. Selain mempersempit jarak hati, zakat, yang arti harfiahnya adalah "suci", dapat membersihkan harta dan jiwa kita, agar di hari nan fitri ini kita semua sama-sama dalam keadaan suci.

Akhirnya, dengan penuh rasa tulus dan ikhlas, kami mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR BATIN. Semoga Allah menerima amal ibadah kita semua dan dilimpahi kita dengan ridha-Nya.