Sebelum Agama Islam masuk ke kerinci masyarakat kerinci masih menyembah alam seperti benda benda keramat, pohon tua atau lain sebagainya. Masyarakat kerinci pada masa itu belum mempunyai agama atau kepercayaan yang di anut mereka hidup seperti biasa namun tidak memiliki agama.

Namun setelah Islam masuk ke kerinci perlahan masyarakat pada masa itu ingin mempelajari tentang Islam. Islam masuk ke kerinci sekitar abad ke 14 sampai 15 masehi, yang di kembangkan oleh para mubalig mubalig yang berasal dari daerah Minang kabau atau Sumatera Barat.

Tetapi sebelum masuk ke kerinci para mubalig mubalig tersebut terlebih dahulu masuk ke daerah Siak ( Riau ) Sehingga di kerinci orang orang yang taat menjalankan ibadah di sebut Dengan Siak. Karena para mubalig ini masuk ke daerah Siak terlebih dahulu maknanya warga atau masyarakat kerinci menyebut nya Siak.

Di sebutkan ada 6 orang Siak yang menyebarkan agama Islam di kerinci, keberadaan mereka di perkuat dengan adanya kandungan naskah Tambo dalam surat Incung tanduk kerbau yang di simpan oleh Datuk singarapi putih di sungai penuh dan Datuk Satrio Mandarin di Rawang. Naskah tersebut menceritakan silsilah dan keturunan ( Tambo ) Siak lengih Yang juga disebut syekh Samilullah atau Malin Syaibatullah.

Selain itu juga terdapat naskah yang bertuliskan aksara Jawi yang berada di daerah Desa Kemantan yang bertuliskan kisah tentang Siak Rajin. Naskah tersebut memperlihatkan tentang kisah dan sejarah para Siak yang menyebarkan agama Islam di Bumi Kerinci ini, berikut sedikit kisah tentang ke 6 Siak yang menyebarkan agama Islam di kerinci:

Jeli Siak

Siak jeli atau yang lebih dikenal dengan imam majeli ada Siak yang menyebarkan agama Islam di kerinci, beliau berdakwah di daerah Siulak, semurup, dan sekungkung. Hingga kini makamnya terletak di koto jeli ( Dusun Tinggi Siulak ) dan masih sering di kunjungi oleh masyarakat. Beliau juga menikah dengan Puti Sedayu atau yang lebih di kenal dengan sebagai nenek Selayu, dan di karuniai 5 orang anak yaitu Gento Menggalo, Gento meh, Gento suri, Ayunan Gento, dan Gento aning.

Siak Rajo

Siak Rajo menyebarkan agama Islam di daerah kemantan dan di daerah sekitar Kemantan, sungai Medang dan penawar ( air hangat timur), ia menetap dan meninggal di Talang Banio, beliau juga menikah dengan Datang Bunga Alam dan mereka di karuniai 5 orang anak yaitu Rajo Bujang, Rajo Genti, Patih Nyadi, Sungai Teman, dan Sri Bungo Padi.

Siak Ali

Siak Ali tinggal di Koto Baringin Sungai Liuk beliau berdakwah di sekitar wilayah pesisir bukit sungai penuh. Menurut sejarah nama asli beliau ialah Nenek Telago Undang, peninggalan beliau yang terkenal adalah batu sorban yang berada di desa Sungai Liuk.

Siak sakti

Siak sakti adalah pendakwah yang menyebarkan agama Islam di daerah Koto Jelatang, Hiang Tinggi, yang sekarang di kenal dengan kecamatan Sitinjau Laut. Penulis belum menemukan catatan sejarah beliau.

Siak Berebut Sakti

Siak Berebut Sakti menetap atau tinggal di daerah Koto Merantih Tinggi, Tarutung dan beliau menyebarkan agama Islam di desa sepanjang aliran sungai Batang Merangin Kerinci. Banyak keturunannya yang merantau dan tinggal di daerah Siulak, antara lain yaitu Depati Sungai Langit Gedang dan adiknya Ninek Gadih.

Siak Lengih

Siak Lengih tinggal dan meninggal di daerah Koto Pandan, kawasan Sungai Penuh. Dalam tembo naskah surat incung tanduk kerbau sering di sebut dengan Syekh Samilullah atau Malin Sabiyatullah .

Islam juga mempengaruhi budaya kerinci salah satunya dari segi arsitektur, banyak masjid yang arsitektur nya mirip dengan daerah di Sumatera Barat yaitu seperti masjid yang berada di desa Pulau tengah, Masjid Agung yang berada di pondok Tinggi, masjid Tuo yang berada di desa Lempur, dan Masjid Kuno yang berada di desa Tanjung Pauh Hilir.

Masjid-masjid tersebut memiliki ciri khas tersendiri dan berbeda dari masjid yang lain, desain nya yang memadukan antara budaya kerinci dan budaya Minang menambah keunikan tersendiri bagi Masjid tersebut.

Seni dan Budaya di daerah kerinci juga di pengaruhi dan ada unsur Islam nya seperti Sike Rebana, yang di gunakan sebagai media dakwah pada zaman dahulu dan diiringi dengan alunan gendang yang terbuat dari kulit sapi yang di nyanyikan oleh beberapa orang.

Ada juga Tari Rangguk yang awal munculnya berada di desa Cupak  dan kemudian menyebar ke daerah kerinci lainnya sehingga menjadi salah satu tarian yang berasal dari daerah kerinci. Hingga saat ini Tari Rangguk juga sering di adakan di acara-acara adat di desa yang ada di kerinci.

Itu sedikit sejarah tentang perkembangan agama Islam di kerinci, dan sekarang agama Islam menjadi agama mayoritas masyarakat kerinci dan juga sekarang banyak berdiri masjid masjid yang bagus dan mewah yang ada di setiap desa desa di kerinci.

Mulai banyak pesantren yang didirikan di kerinci contohnya di semurup, sungai penuh, ambai dan ada juga di pentagen. Dan banyak juga sekolah yang bernuansa agama seperti Madrasah ibtidaiyah, madrasah Tsanawiyah dan madrasah Aliyah. Sehingga agama Islam menjadi agama mayoritas penduduk di Bumi Kerinci.

Dan juga budaya atau adat di kerinci juga dimasukkan unsur-unsur atau mengikuti ajaran Islam.