Sekitar abad ke 2 Masehi, di dataran Asialah, di China. Tercipta sebuah benda tipis putih juga lebar, bernama kertas. Ts'ai Lun (Cái Lún) di masa Dinasti Han, bereksperimen membuat kertas yang sebelumnya hanya menggunakan bambu atau semacamnya untuk memuat tulisan.

20 abad berlalu, kertas telah menjadi alat komoditas dalam segala bidang kreativitas dan inovasi yang masih bertahan hingga sekarang. Di samping perlahan tergerus oleh kemajuan zaman, era digital ini. Adalah seperti halnya manusia, saya rasa, kertas tetap akan ada sepanjang episode-episode zaman akan datang.

Kita mungkin pernah mendengar cerita orang terdahulu. Kertas bisa memenuhi isi dalam lemari daripada pakaian sehari-hari, apa lagi kalau bukan surat cinta anak-anak SMA, bahkan seterusnya. Cerita lain, sangat merintihnya jurnalis koran ketika melihat korannya dijadikan tempat meletakkan makanan ringan oleh pedagang kaki lima, gerobak dan becak.

Dari kertas pula, sudah banyak kolaborasi digunakan untuk kemasan, seperti makanan dan minuman; susu, teh, kotak nasi, tisu, bungkus makanan dst. Ini membuktikan kertas sebagai alternatif ramah lingkungan dan kurang berpengaruh terhadap ekosistem di bumi. Karena berasal dari bahan organik. Di samping adanya penebangan pohon sebagai bahan industri kertas tersebut.

Sedikit cerita di atas menunjukkan betapa kasih sayangnya manusia terhadap kertas, walau sekilas dilihat hanya sebagai penyambung lidah semata. Pada intinya kita tetap memerlukan kertas. Karena kertas merupakan suatu alat dan bahkan menjadi budaya setiap manusia. 

Terlebih pada orang-orang terpelajar, sejak kecil hingga dewasa. Sekolah, perguruan tinggi, kantor dan perusahaan hingga rumah biasa, ada saja kertas sebagai penyambung lidah satu orang ke orang lainnya.

Dirasa, kalau pun ada seseorang cemburu terhadap puisi kekasihnya. Sebab, kekasihnya lebih perhatian pada puisi daripada ia sendiri. Maka kertaslah yang lebih dulu ia kasihi sebelum mencintai puisi yang ia tulis sendiri. Terkadang seseorang lebih mementingkan pekerjaannya daripada pendamping hidup, seumpama halnya seorang penulis puisi (sastrawan).

Sebut saja Budaya Kertas. Kalau pun hari raya Idulfitri harus membudayakan pakaian baru, justru kertas merupakan benda atau alat yang tidak dirasa dan disadari kebudayaannya. Khutbah hari raya dengan jelas khatib memegang kertas berisi tulisan khutbah-nya untuk disampaikan kepada mad’u (pendengar khutbah), bahkan dulu pernah ada ucapan selamat hari raya Idulfitri untuk dibagikan kepada kerabat dan sejawatnya.

Mengapa tidak? Bila untuk menghibur anak TK, origami alternatif unik bagaimana kertas diolah menjadi burung, kapal, bunga, orang-orangan, dll. Ketika lanjut sekolah SD, SMP, SMA hingga kuliah, kertas lagi, prioritas utama di ruang pembelajaran serta keperluan administrasi, lokakarya lainnya guna keberlangsungan hidup sebuah instansi di negara ini.

Uang pun, kertas yang sangat diperhitungkan oleh setiap orang.

Syahdan, bicara tentang kehidupan kertas, ia hanya benda mati. Namun, eksistensinya terjamah di setiap lini kehidupan.

Dalam kehidupan beragama, kertas telah meringankan beban manusia yang sedang kejumudan dalam melakoni kehidupannya, sampai saat ini, kitab-kitab agama samawi dan bumi bisa bertahan dan dipertahankan. Menginspirasi setiap insan di dunia untuk menuju ke akhirat.

***

Tidak hanya sekadar sampai di tangan-tangan manusia, kertas sekarang sudah bisa dimakan. Apa benar kertas sudah bisa dimakan? dan itu menyegarkan! Sebut saja papermint, istilah yang saya tahu dari inovasi kertas menjadi permen lembaran dengan rasa mint. 

Pelbagai aroma khas buah-buahan dan bentuknya lebih tipis daripada kertas maenstream yang biasa digunakan bahkan tembus pandang (transparan). Walau dari bahan yang berbeda, sebab papermint khusus hanya ditujukan ke mulut. Persamaannya hanya karena papermint menyerupai wujud kertas asli dan tidak lebih daripada kesederhanaan permen kertas penyegar mulut itu sendiri.

Menarik memang, bisa saja nanti ketika selesai membaca tulisan ini, kalian berupaya mencoba eksperimen menulis di kertas serta menyegarkan mulut dengan makan papermint. Hingga muncul inspirasi dan imajinasi dengan kesegaran berada di hadapan bangku kerja.

Pada aplikasi microsoft word sendiri, kertas atau paper diwujudkan hanya dalam tampilan monitor, semacam paper maya yang tidak bisa dipegang sekaligus tidak bisa ditulis pakai tangan. Pemakaiannya berdasar pada kelihaian menggunakan tombol huruf keyboard.

Inilah pergantian kertas dalam bentuk yang nyata yang kita tahu, selain wall (dinding) sosial media. Bagaimana pun bentuk dan wujudnya, muruah kertas tidak hilang pada diri kertas tersebut. Menjadi dambaan penggunanya untuk menuangkan pemikiran serta proses transisi oleh para ilmuan menciptakan alat-alat penemuan dan lainnya.

Semua itu berawal dari kesederhanaan kertas. Dari kesederhanaan tersebut, Sapardi Djoko Damono melahirkan karya puisinya dengan judul “Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana”. Begitulah kesederhanaan kertas di perihal yang tiada batas.

****

Sejak 20 abad ini lamanya perjalanan kertas, tidaklah semulus paper itu sendiri yang sedia setia ditulis, diberi gambar pun dimakan. Kertas melalui pembentukan proses ke buku, misalnya, adalah sangat terjal hingga hangus apa yang telah dilalui, ia dan penggunanya.

Benar, tiada yang sempurna di dunia ini. Seperti peribahasa China dalam chéng yû, shèng rén yě yôu sān fēn cuò, orang bijak pun bisa membuat kesalahan. Apalagi hanya sekadar benda yang disebut kertas, rentan terhadap air, rentan terbakar dan rentan sekali robek.

Sejarah mencatat, sebelum kertas benar-benar ada, di masa Kepemimpinan Dinasti Qin (221-207 SM), terjadi pembakaran buku karya-karya para sarjana waktu itu. Lihat chéng yû, "fén shū kēng rú", Membakar buku dan membunuh pengikut ajaran Khonghucu. (Lihat The Best of Chinese Wisdoms, Leman, 2008). Buku yang sebelum terbuat dari kertas melainkan kayu atau bambu yang ditulis secara ukiran. Buku marak terbakar di mana-mana.

Yin Zheng yang kelak menjadi Qin Shi Huang, adalah anak dari Kaisar Yi Ren yang kehidupannya menjadi alat seorang yang berasal dari pedagang, Lu Bu Wei. Pada tahu 247 SM, raja Yi Ren meninggal karena suatu penyakit. Ia (Yin Zheng) naik takhta yang baru berusia 13 tahun dan kemudian menjadi Qin Shi Huang. 

Karena usianya yang masih belia, semua urusan kerajaan diurus oleh perdana menterinya, Lu Bu Wei. Saat ia sudah berusia 22 tahun, ia memulai ambisi mencaplok enam negara kemudian mendirikan Dinasti Qin. Inilah kaisar pertama yang memerintah dengan tangan besi. (h. Xvii, xviii, xix, dan 9)

Dari karyanya yang monumental, telah dibangun tembok raksasa yang panjangnya mencapai 5000 km dan Istana Epang di Shanglin dengan melibatkan ratusan ribu pekerja untuk menyelesaikannya. Di masa kepemimpinannya telah lima kali tur keliling, kesempatan itu pula ia berencana mengunjungi putra pertamanya Fu Shu yang dibuang karena telah menentang raja membakar karya para sarjana.

Pada tahun 213 SM, Chun Yuyue mengemukakan pendapat untuk menerapkan kembali sistem Feodal seperti pada Dinasti Zhou. Ide tersebut dilawan oleh Li Si yang khawatir pada ajaran-ajaran sebelumnya, termasuk kebebasan berpikir, dapat mengancam pemerintahan kaisar. Maka, ia mengusulkan kepada kaisar untuk membakar semua buku yang dimiliki penduduk, kecuali karya-karya medis dan ramalan. (h. 15)

Rencana Li Si mendapat dukungan kaisar. Setelah itu, para prajurit menggeledah dari rumah ke rumah untuk mencari buku-buku yang dilarang, buku yang berhasil ditemukan dibakar di jalan-jalan. 

Semua buku pengetahuan dari pelbagai aliran, khususnya mengenai ajaran Khonghucu, dibakar habis-habisan. Bukan hanya itu, para filsuf dan pengikut ajaran Khonghucu yang mengkritik dan membahayakan pemerintahan pun dikubur hidup-hidup. (h. 16)

Tindakan yang kejam ini mendapat protes dari pangeran Fu Shu, anak pertama kaisar. Protes ini diartikan sebagai tindakan melawan kebijakannya. Berhubung ia anak raja, kaisar tidak membunuhnya. Sebagai hukuman, kaisar mengirimnya ke perbatasan, bersama pasukan penjaga di sana.

Akhirnya, tindakan tersebut merupakan bencana dalam sejarah Tiongkok. Barang berharga, karya-karya dan ajaran-ajaran yang muncul pada periode sebelumnya, terutama pada Periode Musim Semi, Periode Negara-negara Berperang, semuanya hilang dalam sekejap mata.

Inilah sejarah dari kebudayaan kertas. Dari setelah diciptakannya kertas kemudian mengenang sebelum tercipta kertas dengan kesederhanaan saya pribadi. Mengutip peribahasa China lagi; "rén wú qián hòu yăn hài yī qiān nián", Kalau orang tidak melihat depan dan belakang, akan menderita seumur hidupnya.