1 bulan lalu · 181 view · 3 min baca · Hiburan 71238_12977.jpg
Pinterest

Sekarang Zamannya Bamboo Man!

Karena kalau Iron Man, harus impor dari Tiongkok...

Terima kasih, Gubernur DKI! Saat ini publik diberikan informasi bahwa kalau memakai apa pun berbahan baku besi, maka impor dari Tiongkok alias Cina. Saya pun langsung berasumsi bahwa selama ini, semua besi-besian di rumah saya adalah impor Cina.

Saya juga baru menyadari bahwa motor saya adalah untuk memperkaya Cina. Terkaget-kagetlah saya bahwa tiang-tiang listrik di dekat rumah saya adalah buatan Tiongkok! Waduh. Ternyata betul yang disebut Gubernur DKI! Invasi Tiongkok ke Indonesia ini sampai ke seluruh pelosok yang ada besinya.

Isu yang sensitif diangkat oleh Gubernur DKI Jakarta perihal bambu yang ia gunakan dan sudah ia buang dalam waktu 11 bulan. Isu ini diangkat oleh pemimpin, entah untuk apa. Yang pasti, menurut penulis, jawaban yang ia munculkan benar-benar tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaan.

Berbicara mengenai bambu, kita melihat bagaimana dari awal, pemimpin terlihat sedang mengangkat-angkat isu mengenai ethnicity yang di negara Indonesia, masih cenderung dikategorikan sebagai bagian yang sangat sensitif.

Isu tentang ethnicity ini sudah menjadi sebuah isu yang sering sekali digunakan oleh pemimpin ini, mulai dari pidato pelantikan sampai dengan yang ia lakukan saat ini. Sangat disayangkan, sebagai seorang pemimpin, beliau tidak bisa mempertontonkan sebuah tindakan dan statement yang merangkul.

Mengapa isu tentang ethnicity ini sangat sensitif di Indonesia? Setidaknya ada beberapa hal yang bisa menjadi catatan penting mengenai hal ini.


Pertama, orang Indonesia masih belum dewasa. Kedewasaan dalam menerima perbedaan ini sepertinya masih kurang baik. Dulu, penulis sangat ingat bahwa di dalam keberagaman etnis dan ras, kami masih bisa tertawa bersama-sama di atas perbedaan kami.

Teman kami yang tinggal dalam berbagai keberagaman bisa bercanda dengan orang yang berbeda dengannya, baik secara agama, etnis, maupun ras. Tapi saat ini, sepertinya hal itu akan masuk ke ranah hukum. Candaan semacam ini sudah sulit ditemukan di dalam masyarakat yang multikultural.

Karena, jujur saja, bagi penulis, bercanda adalah sebuah indikator kedewasaan bangsa ini. Ketika bangsa ini bisa bercanda dengan hal-hal yang dianggap sensitif, tapi ternyata bisa memberikan warna tersendiri, di sanalah esensi dari kedewasaan sebuah bangsa.

Kedua, orang Indonesia masih belum selesai dididik di dalam mengenal keberagaman. Pendidikan Indonesia cenderung belum mencapai tahapan yang dewasa.

Selama 73 tahun merdeka, Indonesia masih jauh sekali kelihatannya bisa menerima keberagaman. Pendidikan Pancasila dan keberagaman masih sangat minim, atau setidaknya masih dalam batasan teori belaka.

Indonesia masih perlu dididik untuk mencapai tahapan sedemikian. Menerima perbedaan adalah sebuah hal yang harus terus-menerus dipelajari.

Mari kita kembali ke pembahasan di awal. Kita melihat bahwa Jakarta adalah sebuah kota yang sekarang menjadi tempat melakukan uji coba isu-isu SARA. Sekarang ini, Jakarta sudah jatuh terlalu jauh dan terjebak dalam isu sensitif yang ada.

Bayangkan, bambu saja bisa dijadikan isu untuk mengangkat hal-hal yang sensitif seperti etnis. Etnis Cina lagi-lagi dijadikan kambing hitam untuk membenarkan tindakan-tindakan yang tidak benar dari seorang pemimpin di DKI Jakarta.

Bayangkan saja, sekelas pemimpin bisa mengatakan bahwa mengunakan bahan bambu, karena kalau pakai bahan dasar besi, harus impor dari Tiongkok.

Bagi penulis, ini adalah sebuah pemikiran yang sangat kental provokasinya. Sudah cukup Bapak Ahok saja yang menjadi korban isu SARA dan etnis. Sudah cukup bahwa di Indonesia, isu-isu ini terjadi di tempat-tempat yang tidak banyak.


Jangan sampai isu ini makin lama makin menjamur terus-menerus. Mengapa? Karena isu mengenai SARA ini sangatlah mudah menjadi bahan provokasi dari orang-orang tidak bertanggung jawab. Sekarang, bahan ini malah di-endorse alias diperkenalkan langsung oleh pemimpin kota DKI Jakarta.

Isu yang membawa-bawa etnis ini bisa menimbulkan perpecahan. Masa pemimpin kota menginginkan perpecahan? Kenapa dia harus melakukan hal itu? Apa yang mendasarinya? Apakah ada dendam dari dirinya kepada orang-orang yang berbeda etnis dengannya?

Jadi kalau memang menggunakan bambu, karena kalau pakai besi harus impor Cina, artinya orang ini harus konsisten dengan kata-katanya. Orang ini menghindari modernisme, menjadi negara yang juga saling membutuhkan satu sama lain. 

Di Cina, mungkin, memang banyak besi. Tapi di Indonesia, kita mengekspor banyak hal ke negara sana. Kita ini saling berpengaruh satu sama lain.

Jadi kalau mau konsisten, pemimpin DKI Jakarta harus bongkar rumahnya yang berbahan rangka besi, dan mengubah strukturnya dengan bambu yang ia sebut sebagai produk dalam negeri.

Bahkan ada candaan yang bagi penulis sangat lucu. Dalam candaan itu, sang humoris mengatakan bahwa sekalian saja dia beli permen karet, agar memberikan bantuan kepada para petani karet. Sekalian saja, kalau mau bermain seperti itu, ya jangan tanggung-tanggung. Atau sekalian saja, beli bus listrik dari Karoseri depan rumahnya.

Artikel Terkait