Novel singkat yang ditulis Pramoedya Ananta Toer "Sekali Peristiwa di Banten Selatan" merupakan hasil dari reportasenya di wilayah Banten Selatan. Sebagaimana yang ditulis dalam novelnya, Pramoedya Ananta Toer berkunjung ke Banten pada akhir 1957.

Di sana ia menyaksikan perpaduan alam yang masih perawan serta subur. Juga letak tanah yang landai dan kaya akan gunung dan jurang, ditambah dengan hamparan luas lautan biru.

Kekayaan alamnya saat itu berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakatnya yang sangat miskin. Masyarakat yang nampak kerdil, tidak berdaya dan lumpuh daya kerjanya. Selain itu, hilang rasa percaya dirinya.

Hilangnya semangat dan harapan tersebut bukan karena mereka miskin dan tidak bisa baca-tulis, melainkan karena mereka dihisap. Mereka di injak-injak. Mereka dipaksa hidup dalam rasa ketakutan yang memiskinkannya.

Harapan itu hilang oleh rasa ketakutan. Ini ditunjukkan penulis melalui tokoh Ranta, sang lurah yang sebelumnya hidup dalam penderitaan, sampai bosan dengan rasa takut dan putus asa. Tapi di sini Pram mencoba meneteskan setitik rasa percaya diri. Sebuah keteguhan untuk melawan kemiskinan dan penindasan secara terus-menerus melaui kekuatan kebersamaan yang akrab. Kebersamaan tersebut disebut dengan nama "gotong royong".

Menurut Pram, "Tubuh boleh disekap, ditendang, diinjak-injak, tapi semangat hidup tidak boleh redup." Belajar dari semangat yang dibawa oleh Pramoedya, kita tidak boleh hidup hanya dalam kepasrahan, menginginkan sesuatu tanpa melakukan usaha yang jelas dan nyata.  Atau hanya berdoa di balik tembok suci peribadahan.

Kita semua harus melawan siapapun yang menindas, membungkam, yang mengakibatkan kemiskinan. Sebagaimana mengutip kata Pram dalam novelnya melalui Percakapan Ranta dengan Rodjali:

Ranta: "Dimana-mana aku selalu dengar, Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar. Benar sekali."

Rodjali :"Tapi kapan Pak?"

Ranta: "Kebenaran tidak datang dari langit. Dia musti diperjuangkan untuk menjadi benar."