3 tahun lalu · 1989 view · 3 menit baca · Politik malaka.jpg
Tan Malaka

Sekali Lagi Tan Malaka

Orang yang suka mengakui dirinya Islam, tetapi tidak setuju adanya Komunisme, saya berani mengatakan bahwa ia bukan Islam yang sejati atau belum mengerti betul-betul tentang duduknya agama Islam (H.Misbach)

Kutipan di atas adalah pernyataan H. Misbah dalam sebuah artikel tulisannya berjudul ‘Islamisme dan Komunisme’ yang dimuat di Medan Moeslimin, II, 1925 halaman 4. Sengaja penulis mengutip kalimat di atas setelah membaca berita di sebuah media on line yang mengabarkan pembubaran Pementasan Monolog Tan Malaka “Saya Rusa Berbulu Merah” di Institut Francis Indonesia, Bandung. Meskipun pada akhirnya pementasan monolog tersebut tetap berjalan karena adanya jaminan dari Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil.

Sebelum memaparkan prihal ancaman pembubaran pementasan itu, terlebih dahulu penulis hendak menyajikan kisah hidup pentolan komunis Indonesia, Tan Malaka. Tujuannya adalah agar pembaca jadi mengetahui bagaimana latar belakang sosok radikal tersebut.

Benarkah komunisme dalam pandangan Tan Malaka mengajak siapapun untuk tidak bertuhan? Sebagaimana yang dikoar-koarkan oleh kaum sesat nalar yang kemarin melakukan pengancaman terhadap pementasan monolog tersebut? Atau jangan-jangan, kaum yang mengaku menjadi juru bicara Tuhan di muka bumi itu malah tidak membaca sama sekali tentang biografi hidup Tan Malaka? Sehingga dengan bermodalkan kalimat takbir mereka melakukan aksi membabi buta terhadap apapun unsur-unsur yang berbau kiri.

Bagi mereka, kiri adalah komunis. Kiri adalah anak haram dari bangsa ini yang patut dibasmi hingga ke akar-akarnya. Tak boleh sekalipun ideologi ini bangkit kembali untuk kemudian beranak pinak menyebar luas pada generasi muda bangsa ini. Tak boleh sekalipun kita lengah terhadap ideology yang dihasilkan dari olah pikir Karl Marx, jadi apapun yang berbau Kiri adalah hantu yang musti dibasmi. Begitulah mungkin pikiran yang ada dalam benak kaum komunistophobi ini.

Nah, dari pada penulis gregetan tidak karuan karena sikap mata kuda kaum ini. Maka penulis berinisiatif untuk menghidupkkan kembali sosok tokoh komunis Indonesia dari alam kuburnya, Tan Malaka.  

Tan Malaka adalah tokoh pergerakan yang namanya jarang sekali diketahui oleh kalangan generasi muda. Namanya sayup-sayup terdengar dan muskil ditemui dalam buku-buku sejarah resmi versi pemerintah. Ia lahir dari keluarga terhormat di  Pandan Gadang, Suliki Sumatera Barat pada 2 Juni 1897. Saat itu ia dikenal dengan nama Sutan Ibrahim Datuk Tan Malaka.

Perjalanan hidupnya penuh dengan dinamika kerasnya perjuangan. Ia rela dikejar-kejar oleh pemerintah kolonial karena gagasannya yang radikal tentang kemerdekaan 100 persen yang digelorakannya. Gagasannya tentang Republik Indonesia mendahului bapak bangsa lainnya. Saat Sukarno dan Hatta masih berkutat dengan dunia pergerakan, Tan Malaka sudah lebih dulu menelurkan sebuah konsep kebangsaan lewat Naar de Republik-nya di tahun 1925.

Konsep kebangsaan juga cetuskan oleh Hatta di tahun 1930 dengan Indonesia Merdeka-nya, sedangkan Sukarno dua tahun kemudian dengan Ke Arah Indonesia Merdeka di tahun 1932. Buku yang ditulis oleh Tan Malaka di tanah pelarian itu kemudian menginspirasi segenap kaum pergerakan

Dari sana sebenarnya bisa dilihat, peran dan sumbangsih yang begitu besar dari Tan Malaka. Menafikannya dan menghapuskan jejaknya atas berdirinya Republik ini, merupakan tindakan konyol yang tak mencerminkan jati diri bangsa Indonesia.

Penolakan sebagian orang atas digelarnya monolog Tan Malaka kemarin di Bandung, adalah peristiwa kesekian kalinya penolakan terhadap tokoh ini. Meski tubuhnya telah berkalang tanah, kaum komunistophobia masih ketakutan sosok ini akan bangkit kembali.

Ketakutan bangkitnya kembali paham komunis ini merupakan hasil panjang hegemoni orde baru yang belum bisa hilang hingga saat ini. Hegemoni ini begitu kuat mencengkeram pikiran Rakyat Indonesia, hingga saat mendengar nama-nama tokoh komunis hadir kembali di zaman ini, secara serempak mereka langsung mengacungkan senjata. Menembaknya berkali-kali. Dor! Dor! Dor!

Mungkin, ada baiknya pula, bagi generasi muda yang mengagumi Tan Malaka, bila hendak kembali mengadakan acara untuk mengenang sejarah hidupnya, semangat perjuangannya, serta membedah pemikirannya, penulis menyarankan untuk menggunakan kata yang lebih akrab di telinga umat Islam Indonesia.

Semisal penggunaan kata haul  dalam “Haul Tan Malaka” atau “Tausiyah Datuk Tuan Ibrahim” misalnya. Penulis yakin, kaum sesat nalar itu tak akan mengusik kembali kegiatan-kegiatan semacam ini karena adanya kata ‘haul’ dan ‘tausiyah’ di depan kata Tan Malaka.

Bukankah kaum ‘Islam Sontoloyo’ itu hanya terpaku dan terperangkap pada simbol-simbol agama belaka? Tanpa melihat substansi dari ajaran agama Islam itu sendiri yang sebenarnya tak hanya membahas soal kulit semata.

Melainkan juga semangat api Islam-nya yang seharusnya diambil, ditelaah, dipelajari dan dipraktekkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka tidaklah salah bila kemudian, kutipan H. Misbach di atas penulis gunakan sebagai kata pembuka dari tulisan ini. Tujuannya adalah agar Tan Malaka tak lagi ‘dibunuh’ berkali-kali. Semoga!

Artikel Terkait