Hiruk pikuk kota yang dahulu pernah menjadi impianku, kini mulai terasa jenuh. Hidup di antara ribuan manusia yang padat merayap, panas yang menyengat, selalu menuntut diriku untuk selalu bergerak cepat. Sudah hampir sepuluh tahun aku hidup di kota besar ini, bertahan dengan gumpalan impian yang tertanam dan bertekad untuk tidak kembali ke desa yang sempit bagiku. Bukan orangnya, tapi pikirannya. Lebih dari sepuluh tahun silam, aku merasa bahwa diriku ini terbelenggu dengan pikiran-pikiran kolot tetangga dan warga desa.

Yah memang kuakui, aku hanyalah seorang pemudi yang dilahirkan di desa kecil dan dari keluarga yang jika dikatakan miskin tapi tidak terlalu, dan kaya juga nanggung, intinya cukup dan pas-pasan. Keluargaku juga bukan termasuk keluarga yang memiliki pemikiran sempit, terutama ayahku.

Ayah yang bekerja sebagai kontraktor bidang mekanikal dan bekerja nomaden dari kota satu ke kota lain, menjadikan ia memiliki pemikiran yang terbuka. Meski begitu, ibu cukup berbeda dengan ayah, dikarenakan pergaulan ibu dengan sesama orang desa membuatnya memiliki pemikiran seperti mereka.

Entah, mungkin sejak aku menginjak masa remaja, aku mulai risih dengan cara berpikir orang desa. Berawal semenjak aku bergaul dengan para kawan lelaki yang sebaya denganku, dan para tetangga itu bereaksi dengan memberikan lirikan-lirikan tajam. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Tidak cukup di situ, ucapan mereka pun sangat menjengkelkan. Sehingga ibuku yang mengetahui hal tersebut, langsung memarahi dan ngomel-ngomel padaku.

“Apa pantas anak perempuan bergaul dengan anak laki-laki? Ketawa-ketiwi seperti orang nggak ada salah!” begitulah salah satu kata yang diucapkan ibu saat amarahnya memuncak. Satu hal yang ada dalam pikiranku saat itu, mana yang salah dari berteman dengan lawan jenis? Padahal beberapa teman perempuanku yang lain malah berpacaran dan hal tersebut diwajarkan saja dengan alasan suatu saat akan menikah juga.

Mungkin itu hanya sekadar permulaan saja, perasaan tidak nyaman itu semakin memuncak ketika aku akan lulus dari masa putih abu-abu dan miliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Momen itu seperti tertancap dalam ingatanku dan sepertinya tidak akan pernah bisa aku lupakan hingga saat ini.

Ucapan seperti; ‘Untuk apa belajar terlalu tinggi, toh juga akan jadi ibu rumah tangga’. ‘Dulu anaknya si itu juga kuliah tinggi, tapi lihat sekarang, dia tetap menjadi ibu rumah tangga’. ‘Alah, berpendidikan tinggi juga nggak menjamin masa depan!’. ‘Daripada susah-susah sekolah, biaya juga mahal, mending cari suami yang kaya sekalian’.

Ucapan-ucapan tersebut tidak seberapa, masih banyak ucapan-ucapan lain yang lebih aneh lagi. Entah sudah berapa ucapan yang mereka utarakan, baik di depanku atau di belakangku. Aku memang mengabaikan kata-kata mereka, tapi tidak dengan ibuku. Nampaknya, beliau mulai terpengaruh.

Masih aku ingat, malam itu aku berdebat besar dengan ibu, itu pertama kalinya aku membantah ibuku. Sebab saat itu ibu tetap kekeuh dengan mencarikan pekerjaan yang bagus untuk aku. Sementara aku, juga tetap keras dengan keinginanku; melanjutkan ke perguruan tinggi.

Ada satu kata yang keluar dari mulut ibu dan menjadi akar dari kekecewaanku; “Kamu tau, katanya bu Yuli kalau keponakannya sudah bayar kuliah mahal-mahal tapi nggak jadi apa-apa?” ucapan ibu yang mengandung kata “katanya” itu serasa deja vu bagiku.

Kejadian seperti itu bukan hanya sekali terjadi. Dulu, saat hendak masuk SMA pun konfliknya nyaris sama. Bedanya, aku dulu tidak punya pilihan lain untuk menuruti keinginan ibu yang berdasarkan pada “katanya” atau penilaian dari orang lain. Perdebatan yang sengit antara aku dengan wanita yang melahirkanku itu berakhir karena ayah telah menengahi. Ayah memberi solusi dan jalan tengah dan secara mengejutkan, ibu menerima saran ayah dan menyetujuinya.

Sejak kejadian malam itu, rasanya aku benci dengan pemikiran orang-orang desaku. Entah sudah berapa kali sumpah serapah yang keluar dari batinku. Malam itu penuh dengan amarah dan tekat yang berkobar dalam hatiku untuk menyangkal semua asumsi mereka dan juga bertekat agar tidak kembali lagi saat aku sukses nanti.

*   *   *

Hari keberangkatanku ke luar kota untuk mengemban ilmu rasanya menjadi hari paling bahagia pada waktu itu. Rasanya semua perasaan menggumpal yang kupendam sudah terbebaskan. Kehidupan kota yang bebas menjadi bayangan indah selama perjalan menuju ke sana. Kehidupan bebas yang dulu pernah aku bayangkan ternyata tak semudah itu. Bertemu banyak orang baru, cara hidup baru hingga arus modernisasi menuntut diriku untuk terus beradaptasi.

Banyak hal baru yang ketika aku menghadapinya dapat menimbulkan banyak pertanyaan, dan ketika aku bertanya, malah menjadi bahan tertawaan karena dianggap ‘ndeso’. Sehingga sering kali aku memilih untuk mengamati segalanya dan kemudian menafsirkannya sendiri. Banyak juga pertemanan yang tidak bisa langsung digandeng dengan kepercayaan penuh. Pertemanan yang mungkin tidak pernah aku temui dengan teman-teman di desa. Hanya segelintir teman yang bisa dianggap benar-benar teman. Namun pada titik tertentu, terlalu memberikan kepercayaan pada seseorang juga bukan pilihan yang tepat.

*   *   *

Waktu terus berjalan dan setelah lebih dari sepuluh tahun aku menjelajahi segala jurus dan mantra untuk bertahan hidup di kota. Aku baru menyadari bahwa bukan pemikiran orang desa yang sempit, tapi hatiku yang kurang lapang. Akhir-akhir ini aku cukup menyadari bahwa cara pandangku terhadap orang desa sudah dikuasai oleh hati. Realita kehidupan di kota dan desa seperti koin yang memiliki dua sisi. Keduanya tidak bisa dinilai mana yang paling baik, mana yang paling unggul atau penilaian ‘paling-paling’ lainnya. Sebab keduanya punya sisi positif dan negatif masing-masing.

Dulu aku berasumsi bahwa pemikiran orang desa sempit dan kolot. Di balik semua itu, keharmonisan dan tali persaudaraan antar tetangga dan keluarga sangatlah erat. Bahkan, jika kita hidup di antara mereka, kita tidak akan merasakan hidup sendiri sekalipun kita tak memiliki saudara.

Menarik ulang ingatanku pada masa itu, rupanya cukup menguras pikiran dan perasaan. Tak terasa ternyata air mataku mengucur dengan sendirinya di atas pipiku. Aku mulai merindukan suasana desa yang hanya kukunjungi saat hari raya Idul Fitri itu. Jika memungkinkan, aku akan ke sana bulan depan. Semoga saja.