Ramadhan adalah bulan yang bagi umat islam dianggap sebagai bulan mulia dan bulan seribu berkah. Disebut sebagai penghulu segala bulan dalam penanggalan Islam. 

Pada bulan ini, umat muslim diperintahkan oleh Allah SWT mengerjakan sebuah ibadah wajib. Pengerjaan ibadah ini terbilang cukup sederhana namun syarat akan makna. 

Pada bulan ramadhan, umat Islam diwajibkan untuk menahan lapar dan dahaga dari mulai dari adzan subuh hingga berkumandangnya adzan magrib. Ibadah ini disebut dengan istilah puasa. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah : 2 (183) 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۙ

Yaaa ayyuhallaziina aamanuu kutiba ‘alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba ‘alallaziina ming qoblikum la’allakum tattaquun

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)

Selain melakukan ibadah pokok, seperti puasa, sholat, dzikir dan lainnya. Pada bulan ramadhan, umat islam juga melakukan kegiatan lainnya seperti ngabuburit, membuat takjil, bermain kembang api dan lain sebagainya. Kegiatan kegiatan yang semula hanya untuk mengisi waktu luang pada bulan ramadhan lama kelamaan menjadi sebuah tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari bulan ramadhan.

Setiap suku di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menjalankan ibadan puasa, apalagi pada saat menyambut hari raya idul fitri. Salah satunya adalah masyarakat suku Melayu di Kepulauan Riau.

Masyarakat Melayu kepulauan Riau (Kepri) memiliki tradisi unik dalam merayakan bulan ramadhan. Mulai dari awal datangnya bulan ramadhan sampai dengan malam penutupan bulan Ramadhan.

Sebagai bentuk euforia menyambut bulan ramadhan, masyarakat Melayu Kepri melakukan tradisi mandi belimau sebagaimana suku Melayu lainnya. Kemudian, pada satu malam sebelum bulan ramadhan, masyarakat berkumpul di tempat-tempat ibadah untuk melakukan doa, dilanjutkan dengan makan bersama.

Namun yang lebih menariknya adalah tradisi pada malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Pada sepuluh malam terakhir bulan ramadhan, masyarakat Kepri melakukan sebuah tradisi yang bisa dibilang festival lampu.

Yang menjadikan tradisi ini unik adalah, lampu yang digunakan merupakan lampu tradisional yang menggunakan minyak tanah. Masyarakat Kepri menyebutnya lampu colok/pelita.

Pada malam-malam terakhir bulan ramadhan, akan tampak ribuan lampu pelita berjejer menerangi bahu jalan-jalan dan di sekeliling pekarangan rumah. Tidak hanya sampai disitu saja, masyarakat Kepri juga akan membuat replika masjid-masjid dan ornamen islami lainnya seperti kaligrafi yang terbentuk dari susunan pelita minyak tanah. Tradisi ini disebut Tradisi Malam Tujuh Likur.

Dilansir dari website resmi Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan rumah tradisi malam tujuh likur ini tidak diketahui kapan pertama kali dilakukan, nun diperkirakan sudah ada sejak islam datang dan dianut oleh masyarakat Melayu.

Mulai dari awal puasa, para pemuda desa bergotong royong bekerjasama membangun gerbang  menjadi replika masjid yang membentang antara sisi jalan raya atau diletakkan di tanah lapang. Ukuran dan bentuknya pun beragam. Bahkan tidak jarang, setiap tahunnya tradisi ini dijadikan ajang lomba oleh masyarakat Melayu kepulauan Riau.

Di beberapa daerah di kepulauan Riau, waktu perayaan tradisi ini beragam. Misalnya saja di Daik, kabupaten Lingga. Tradisi ini dimulai pada malam 21 puasa atau disebut satu likur. Pada malam ini setiap rumah hanya akan memasang 1 buah pelita saja. Begitu seterusnya hingga mencapai malam puncaknya yaitu pada malam ke-27. Pada malam ini semua pelita akan dihidupkan, baik dipekarangan rumah, disepanjang bahu jalan, dan juga pelita di gerbang yang telah dibuat.

Di kabupaten Karimun, tradisi membuat gerbang/gapura dari pelita ini bahkan dijadikan ajang lomba tahunan antar kecamatan. Setiap desa di setiap kecamatan yang ada di kabupaten Karimun akan berbondong-bondong membuat gerbang dengan bentuk megah dan ukuran yang fantastik. Walaupun sempat ditiadakan pada 2020 lalu dikarenakan kondisi pandemi covid-19, tahun 2021 masyarakat Karimun mulai lagi menghidupkan tradisi tujuh likur ini.

Untuk beberapa daerah, tradisi tujuh likur pada 27 ramadhan diselingi juga tradisi tukar kue dari rumah ke rumah. Tata cara pelaksanaannya terbilang sederhana. Para jamaah setelah sholat tarawih akan berkumpul dari rumah ke rumah sembari membaca doa-doa dilanjutkan dengan membagi-bagikan kue yang telah disediakan tuan rumah kepada para tamu. Kegiatan ini dilanjutkan sampai di rumah peserta terakhir.

Di kabupaten Karimun, masyarakat Melayu nya melaksanakan tradisi tujuh likur tepat pada hari ke-27 bulan ramadhan. Tidak jelas bagaimana tradisi ini dimulai dan alasan dibalik diadakannya kegiatan ini hingga menjadi tradisi. Namun, ungkap sesepuh dalam suku Melayu, kegiatan menghidupkan lampu di sepanjang jalan jalan kampung dan disekitar pekarangan rumah pada malam-malam terakhir bulan ramadhan adalah karena pada malam-malam akhir bulan, cahaya bulan lebih redup dari biasanya. Maka untuk mempermudah masyarakat berjalan menuju masjid atau mushola digunakanlah pelita sebagai sarana penerangan jalan.

Terlepas dari itu semua, tradisi tujuh likur adalah bukti dari keberagaman adat budaya dan tradisi bangsa yang ada di Indonesia.