Apakah anda seorang yang menggeluti dunia seni rupa dan merindukan referensi yang komprehensif tentang seni rupa? Bila anda mengiyakan pertanyaan saya maka anda layak gembira karena buku referensi yang mampu menjawab kegelisahan anda sudah muncul di belantika perbukuan Indonesia. Ya buku tersebut berjudul Gelaran Almanak Seni Rupa Yogya 1999-2009 (gelaran ASRY).

Dunia seni rupa sangatlah luas cakupannya walaupun bisa  kita sederhanakan hanya dua bidang yaitu seni murni dan desain-baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Melalui Buku Gelaran ASRY ini kita bisa menelisik lebih dalam kedua cabang seni rupa tersebut tanpa takut kehabisan informasi yang kita butuhkan.  

Di kategori seni murni; lukis, patung, dan komik tak luput dari pembahasan. Begitu pun di bidang desain mulai dari batik, keris, dan kriya juga sangat dalam dibahasnya. Disertai keterangan mengenai riwayat hidup para maestro-maestro dibidang tersebut, menjadi lengkaplah informasi yang disajikan oleh Gelaran ASRY ini.

Walaupun yang disuguhkan lebih banyak berlatar Yogya, namun buku ini sangat representatif untuk dijadikan referensi mengingat Yogya dianggap sebagai barometer seni rupa Indonesia. Meski berbentuk almanak, yang biasannya hanya menyajikan kronologi suatu peristiwa dalam  kurun waktu tertentu, kenyataannya Gelaran ASRY ini berbeda sekali dengan buku almanak kebanyakan. 

Di sana banyak sekali terangkum entri yang bervariasi. Bahkan penerbitnya sendiri menyebut buku ini adalah almanak plus karena teknik penyajiannya menggabungkan beberapa model: Ensiklopedia, Kamus, Kronik, Apa dan siapa, katalog maupun seperti tampilan Yellow pages (Nama dan Alamat). Bisa dikatakan buku ini merupakan bank data seni rupa Yogyakarta.

Buku semacam ini jarang sekali ditemukan di negara kita. Kebanyakan dalah buku pintar yang disajikan secara dangkal karena hanya menyajikan fakta fakta tanpa pembahasan yang mendalam. Setidaknya para penikmat seni rupa bisa mengobati kehausan akan informasi seluk beluk senirupa dan tokoh tokoh yang terlibat didalamnya.

Baca Juga: Dilema Arsiparis

Dengan teknik penyajian yang beragam ini kita bisa mencari istilah dengan cepat, karena penyajiannya model kamus, apabila kita ingin mengetahui tokoh seni rupa pun kita tidak kesulitan karena dengan menggunakan teknik penyajian apa dan siapa, buku ini pun bisa menjawab keingintahuan kita. 

Bahkan yang lebih menarik lagi adalah bagaimana dengan lihainya buku ini mampu memberikan penjelasan ringkas terhadap pokok bahasan tertentu yang berkaitan dengan dunia seni rupa karena teknik penyajiannya yang sangat ensiklopedis.

Namun yang lebih banyak menjadi bahasan di buku ini adalah perjalanan proses kreatif seniman yogyakarta yang terangkum secara kronologis mulai dari Januari 1999 sampai Desember 2009. mulai dari pameran, seminar, obituari seniman, lelang  maupun artikel yang termuat di suratkabar terangkum rapi dan berurut per tanggal.

Masih ada lagi kelebihan dari gelaran ASRY ini, yaitu memuat karya-karya senirupa dari seniman-seniman Yogyakarta. Dimulai dari sang maestro Affandi, Joko Pekik sampai seniman seniman muda yang saat ini karyanya banyak meramaikan balai lelang seni dalam negeri maupun manca Negara di antaranya: Jumadil Alfi, I Nyoman Masriadi, Alit Sembodo dan teman-teman seangkatannya.

Dan yang lebih asyiknya lagi, semua karya yang dimuat tersebut disajikan dengan berwarna. Dalam hal ini Gelaran ASRY oleh penerbitnya diharapkan bisa menjadi sebuah galeri tanpa dinding. Nah bisa anda bayangkan sendiri bagaimana isi di dalam buku ini pasti ramai, kan.

Namun yang lebih mengganjal di benak penulis adalah kurang luasnya cakupan area yang dibahas karena hanya seputar wilayah Yogyakarta.

Apa yang dilakukan oleh Muhidin M Dahlan, merupakan sumbangsih yang tak ternilai sebagai bahan ingatan terhadap tonggak-tonggak peristiwa penting di dunia seni rupa. Pria asala Donggala ini yang sering mengenalkan diri sebagai kerani di Warung Arsip, dan juga pengelola radio buku yang berdiri sejak bulan April 2011, sebagai bagian dari Yayasan Indonesia Buku.

Yayasan Indonesia Buku sendiri didirikan oleh Muhidin dan teman-temannya yaitu: Taufik Rahzen, Dipo Andy, Galam Zulkifli, dan Eddy Susanto pada April 2006, sebagai lembaga penelitian dan pengkajian tentang sejarah Indonesia, khususnya dalam hal jurnalistik dan kebahasaan. Aktivitas penelitian dan pengkajian itu menghasilkan dua hal: arsip dan perpustakaan.

Yayasan ini juga mempunyai perpustakaan sebagai sumber pengetahuan dan wacana bagi komunitas, yang diberri nama: “GelaranIbuku”. “GelaranIbuku” pada perkembangannya juga turut menginisiasi pembangunan perpustakaan komunitas yang tersebar di beberapa desa di Indonesia.

Untuk menunjang aktivitas riset dan pendokumentasian media cetak di Indonesia, maka dilakukan pembuatan arsip dan kliping. Kegiatan ini dikelola oleh divisi “Warung Arsip”. Warung Arsip membuat kliping dan arsip dari media cetak sejak zaman lampau hingga sekarang. Dan buku ini adalah salah satu hasil dari kerajinannya dalam mengkliping setiap peristiwa.

Akhirnya, dengan sedikit kekurangan, karena lebih banyak mengulas dunia seni rupa ‘lokal’ (Yogyakarta), Kita berharap  buku ini bisa menjadi oase yang bisa menghapus dahaga kita akan referensi yang komprehensif di bidang seni rupa. Semoga.

  • Judul: Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009
  • Penulis: Muhidin M. Dahlan dkk.
  • Penerbit: GELARAN BUDAYA, Yogyakarta, 2009
  • Tebal: 872 hlm.