Kata komunikasi awalnya berasal dari bahasa latin yaitu communis, yang memiliki arti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Awal katanya communis adalah communico, yang artinya berbagi. Dalam hal ini, yang dibagi adalah pemahaman bersama melalui pertukaran pesan.

Komunikasi sebagai kata kerja dalam bahasa inggris yaitu communicate, berarti untuk bertukar pikiran, perasaan, dan informasi. Adapun kata bendanya, communication, berarti, pertukaran simbol, pesan- pesan yang sama, dan informasi atau proses pertukaran diantara individu-individu melalui sistem atau simbol yang sama

Perkembangan media massa radio, koran, televisi dan internet yang kian menjamur sehingga efek berkembangnya media ini banyak yang ingin mempelajari dan belajar di bidangnya. Hal itupun mendorong berbagai perguruan tinggi dalam membuat program studi Ilmu Komunikasi.

Banyaknya peminat dalam mempelajari media massa komunikasi mendorong berbagai perguruan tinggi untuk fokus membentuk program studi baru yang terkait dengan kebutuhan industri. Sebut saja salah satunya di bidang sosial, ilmu komunikasi.

Contohnya Universitas Muhammadiyah Jakarta yang membuka program studi Ilmu Komunikasi yang memiliki tiga konsentrasi diantaranya broadcasting, public relation, dan advertising. Minat calon sarjana dalam bidang ilmu komunikasi cukup banyak, dan mengalami peningkatan di setiap tahunnya.

Dalam buku Comunication Technology: The New Media in Society, Everet M. rogers (1986) menyebutkan bahwa sejarah komunikasi sudah dikenal diperkirakan dimulai sejak sekitar 4000 tahun sebelum Masehi (sM) dan biasa disebut jaman Cro-Magnon.

Menurut Rogers ada 4 era komunikasi, yaitu komunikasi tulis, komunikasi cetak, telekomunikasi dan komunikasi interaktif. Begitu cepatnya berkembang teknologi hingga begitu berkembangnya cara berkomunikasi, dengan kelebihan memperpendek jarak, menghemat biaya, menembus ruang dan waktu.

Komunikasi berusaha menjembatani perasaaan, fikirian juga keperluan seseorang dengan dunia lainnya. Komunikasi membuat cakrawala seseorang menjadi makin luas. komunikasi memiliki tahap sejarah secara umum diantaranya: Periode Tradisi Retorika, Periode Pertumbuhan, Periode Konsolidasi dan yang terakhir Periode Teknologi Komunikasi dari tahun 1960-an hingga sekarang.

Sejak tahun 1960-an perkembangan ilmu komunikasi semakin kompleks dan mengarah pada spesialisasi. Menurut Rogers (1986) perkembangan studi komunikasi sebagai suatu disiplin telah memasuki periode tinggal landas sejak tahun 1950.

Sebutan jurusan ilmu komunikasi dahulu belum terlalu jelas, namun pada tahun 1970-an jurusan ini lebih di kenal dengan jurusan jurnalistik atau publistik. Ilmu komunikasi Jurnalistik mencetak mahasiswanya menjadi ilmuwan atau praktisi, jika menjadi ilmuwan mereka akan bekerja sebagai dosen, peneliti dan analisis.

Sedangkan untuk praktisi mereka akan bekerja sebagai reporter, wartawan, editor, redaktur, kolumnis, penyiar radio/TV, produser acara radio/TV, penulis naskah, cameraman, speaker, produser film/TV, dan lain-lain.

Walaupun hampir 80% di Indonesia para sarjana bekerja namun tidak sesuai fashion di jurusannya. Di Lansir dari KOMPAS.com Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim pada 26 Oktober 2021 mengungkap, 80 persen mahasiswa Indonesia tidak bekerja sesuai dengan jurusan kuliahnya.

Dengan adanya fenomena pada saat ini mereka yang mengambil jurusan ilmu komunikasi tidak seutuhnya memiliki tujuan untuk bekerja sesuai dengan ilmu yang di pelajarinya, namun ada yang sekadar ingin tahu dan tertarik akan belajar ilmu komunikasi ini, karena dorongan akan maju nya komunikasi massa saat ini yang kian berkembang.

Belajar ilmu komunikasi tak hanya berdampak baik untuk prospek pekerjaan para pencari ilmu saat ini. Namun juga ilmu komunikasi adalah hal yang dibutuhkan hingga kapanpun, dalam bersosial kepada orang lain hingga kehidupan sehari-hari.

Karena ada pepatah juga yang berbunyi, “orang bodoh bisa terlihat pandai saat ia bisa berbicara dengan baik di depan publik, namun orang pandai juga akan terlihat bodoh saat ia tak pandai berbicara di depan publik”.

Maka pada pepatah di atas bisa di simpulkan bahwa komunikasi adalah keahlian yang bisa di bilang wajib di miliki bagi setiap orang sampai kapanpun, karena sebanyak apapun ide kreatif dan cemerlang yang kita miliki bila tak bisa bagaimana dan seperti apa cara menyampaikannya, maka semua itu adalah hal yang sia-sia.

Dalam dunia kerja maupun forum organisasi misalnya, ada dua orang yang memiliki ide yang bisa di bilang bagus, namun ide yang pertama bisa diterima karena orang yang menyampaikan ide ini dengan cara yang baik dan mudah untuk di fahami.

Padahal ide dari orang kedua ini lebih bagus dari ide orang pertama, namun karena cara penyampaian orang pertama lebih mudah di mengerti dan mampu membuat pendengar tertarik maka ide orang pertama ini yang diambil oleh para pendengar lainnya.

Maka keahlian komunikasi pada era saat ini bahkan sampai kapanpun adalah hal dasar yang perlu dimiliki, baik di kehidupan sosial, pekerjaan dan lainnya. Maka itulah salah satu mengapa ilmu komunikasi ini banyak di minati oleh para generasi-generasi lama hingga saat ini.