Logika adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari kecakapan untuk berpikir sacara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu ini mengacu kepada kemampuan rasional untuk melihat dan kecakapan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

Dengan adanya logika, kita dapat berfikir dan mengambil keputusan yang benar dan tepat dalam memenuhi hajat hidup kita sendiri dan juga masyarakat. Umumnya kita dapat mengartikan dan mengambil keputusan setelah pemikiran-pemikiran atau pernyataan-pernyataan yang ada, dan kebenaran-kebenaran akan muncul.

Secara etimologis, logika adalah istilah yang dibentuk dari kata logikos yang berasal dari kata benda logos. Kata logos berarti sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal (pikiran), kata, percakapan, atau ungkapan lewat bahasa.

Kata logikos berarti mengenai sesuatu yang diutarakan, mengenai suatu pertimbangan akal, mengenai kata, mengenai percakapan atau yang mengenai ungkapan lewat bahasa. Istilah lain logika adalah mantiq yang berasal dari bahasa Arab yang diambil dari kata kerja nataqa yang artinya berkata atau berucap.

Menurut Soekadijo, logika adalah suatu metode atau teknik yang diciptakan untuk meneliti keputusan penalaran. Menurut E. Sumaryono, logika adalah ilmu berpikir lurus. Sedangkan Irving M. Copi menyatakan, logika adalah ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah.

Manfaat dari ilmu logika, di antaranya untuk membuat daya berpikir lebih tajam dan lebih berkembang melalui latihan-latihan berpikir. Oleh karena itu akan mampu menganalisis serta mengungkap permasalahan secara runtut dan ilmiah.

Dalam sejarah perkembangan logika muncul bersama dengan filsafat. Menurut sebagian kisah sejarah Zemo dari Citium 340 SM-265 SM, uraian bahwa tokoh Stoa adalah yang pertama kali menggunakan istilah logika.

Namun demikian, akar logika sudah ada dalam pikiran dialektis para filsuf mazhab Elea. Mereka telah melihat masalah identitas dan perlawanan sebagai realitas, tetapi kaum filosofislah yang menjadikan fikiran manusia sebagai titik pemikiran.

Sejarah logika dimulai dari dunia Yunani Kuno. Zero dari Citium (340-265) adalah tokoh “STOA”, yang pertama kali yang menggunakan logika. Kemudian kaum sofis yang membuat pikiran manusia sebagai titik api pemikiran secara eksplisit. Lalu Geoegiias (483-375) dari liontin (Sicia) mempersoalkan masalah pikiran dan bahasa.

Kemudia Socrates (9770-399) menggunakan metode ironi dan maieutika. Selanjutnya De Facto mengembangkan metode induktif, kemudian Plato mengumumkan metode Socrates sehingga menjadi teori ide, yakni teori dinge an sich versi Plato.

Gagasan Plato banyak memberikan dasar pada perkembangan logika bertalian dengan masalah idiegenesis, dan masalah penggunaan bahasa dalam pemikiran. Namun logika episteme terwujud berkat karya Aristoteles.

Pengetahuan tentang logika pertama kali tumbuh di Yunani. Filosuf Yunani yang memberikan ransangan bagi pertumbuhan dan perkembangan pemikiran-pemikiran filsafat. Logika dimulai sejak Thales (624 SM-548 SM), Filsuf Yunani pertama yang meninggalkan dongeng-dongeng, takhayul, dan cerita-cerita, dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta.

Thales mengatakan bahwa air adalah arkhe (Yunani) yang berarti prinsip atau asas utama alam semesta. Saat itu Thales telah mengenalkan logik induktifnya.

Kemudian Aristoteles mengenalkan logika sebagai ilmu, yang kemudian disebut logika scientica. Aristoteles mengatakan bahwa Thales menarik kesimpulan air adalah arkhe alam semesta dengan alasan bahwa air adalah jiwa segala sesuatu. Dalam logika Thales, air adalah srkhe alam semesta, yang menurut Aristoteles disimpulkan dari:

(1) Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan, karena tanpa air tumbuhan mati, (2) Air adalah jiwa hewan dan jiwa manusia, (3) Air jugalah uap, air jugalah es. Jadi air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah arkhe alam semesta.

Sejak saat Thales sang filsuf mengenalkan pernyataannya, logika setelah itu mulai dikembangkan. Kaum sofis beserta Plato (427 SM-347 SM) juga telah merintis dan memberikan saran-saran dalam bidang ini.

Pada masa Aristoteles, logika masih disebut dengan analitica, yang secara khusus meneliti berbagai argumentasi yang berangkat dari proposisi yang benar, dan dialektika yang secara khusus meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi yang masih diragukan kebenarannya. Inti dari logika Aristoteles adalah silogisme.

Dalam karyanya ini, Aristoteles telah menggarap masalah kategori, struktur, bahasa, hukum formal konsistensi proposisi, silogisme, pembuktian ilmiah, pembedaan atribut hakiki dan yang bukan hakiki, sebagai kesatuan pemikiran, bahkan telah menyentuh bentuk-bentuk dasar simbolisme.

Kemudian Theoprastus mengembangkan logika Aristoteles dan kaum Stoa. Mengembangkan teori logika dengan menggarap masalah bentuk argumen disjungtif dan hipotesis serta beberapa masalah bahas.

Sedangkan Galenus, Alexander Aprodisiens dan Sextus Empiricus mengadakan sestematisasi logika dengan cara mengikuti geometri yakni ilmu ukur. Galenus sangat berpengaruh atas aksiomatasi logika. Karyanya logika ordine geometrica demostrata. Yakni di akhir abaf XXVII  melalui karya Sacheri yang berjudul logika demosntrativa.

Kemudian muncul zaman dekadensi logika [ilmu menjadi dangkal dan logika merosot] tetapi karya yang pantas mendapat perhatian esagogen dari porphyrios, komentar-komentar dari Beothius dan Fons Scientiae [sumber ilmu] karya Johanness Damascenus. Kemudian perkembangan logika terus berlanjut dan dihidupkan kembali pada abad pertengahan, modern dan pascamodern.